
"Cola?" Dion menawarkan sekaleng minuman bersoda pada Mutia yang sedang asyik menonton pertandingan basket.
Sebenarnya Mutia tak begitu tertarik menonton pertandingan olahraga, dia lebih suka menonton film di bioskop. Dia adalah penikmat film horor. Tapi sekarang dia harus berpura-pura menonton dan mengikuti pertandingan basket itu supaya bisa mengacuhkan Om Dion yang duduk di sebelahnya.
"Oh, iya. Makasih Om," jawab Mutia canggung.
"Sama-sama," Dion tersenyum lebar. Hari ini dia begitu senang karena dia tak jadi obat nyamuk karena menemani Ivan dan Vin-vin. Dia punya teman, untunglah Vin-vin membawa temannya yang cantik.
Dion membetulkan posisi topinya yang sedikit miring. Syukurlah dia memakai topi, dia berharap penampilannya seperti ABG agar Mutia bisa menyukainya. Kalau mereka bisa jadian, suatu saat nanti kan mereka bisa double Date lagi. Dion mencoba menutupi senyum lebarnya dengan menempelkan kaleng cola di dekat bibir.
Berbeda dengan Mutia, dia tampak sangat risih. Dalam hati dia mengutuk Vin-vin karena mengajaknya dan bertemu Om Om caper ini.
Mutia mengambil ponselnya dan mulai menulis pesan lalu mengirimkan nya pada Vin-vin, padahal mereka duduk bersebelahan, tapi Mutia enggan berbicara secara langsung.
'Gue pulang dulu ya!' tulisnya.
'Loh, kenapa?'
'Bete! awas Lo ya, lain kali gue ogah nemenin Lo!'
Vin-vin tersenyum di kulum, kalau Mutia mulai bicara dengan kata 'gue-elu' dengannya itu tanda dia sedang marah.
"Sabar Mut, aku punya rencana buat kamu," gumam Vin-vin.
Vin-vin bukannya tak tahu jika Mutia merasa kurang nyaman. Sebenarnya Om Dion itu baik, tapi dia memang selalu merusak kesan pertama dengan tingkah konyolnya, Vin-vin maklum jika Mutia ilfill padanya.
Tujuan utamanya sebenarnya bukan untuk menjodohkan Om Dion dan Mutia, Vin-vin hanya ingin memancing emosi seseorang dan penasaran dengan reaksinya nanti.
"Maaf ya Om Dion, aku manfaatin kali ini," batin Vin-vin sedikit merasa bersalah.
"Kita selfy yuk Mut," Vin-vin mengangkat ponselnya agar bisa berfoto dengan Mutia.
Mutia hanya melirik sekilas sambil terus cemberut.
"Jangan cemberut dong, kamu harus tersenyum. Biar rencanaku berhasil."
"Rencana apa sih?" Mutia masih tampak kesal.
"Pokoknya, kamu pasti bakal berterima kasih padaku nanti. Ayo senyum."
Dengan terpaksa akhirnya Mutia tersenyum.
"Om Dion... ayo ikut selfy," ajak Vin-vin.
Dion langsung bersemangat, dengan senyum mengembang dia berpose di dekat Mutia.
Walau kesal, Mutia tetap mencoba tersenyum.
"Yes!" Vin-vin mengecek hasil jepretannya, dan merasa puas. Lalu dia pun mulai sibuk memasang foto barusan di story' sosial medianya, dan berharap rencananya berhasil.
Vin-vin lagi-lagi tersenyum saat ada seseorang menelpon dirinya setelah melihat foto yang dia posting.
"Halo..."
"Aku sama Mutia lagi di GOR... iya, nonton basket... iya..."
"Siapa?" tanya Mutia setelah melihat Vin-vin menutup sambungan telponnya.
"Ada deh..." jawab Vin-vin acuh, dia pun kembali fokus menonton sambil memeluk lengan Ivan yang duduk di sebelah kirinya.
Mutia mendengus kesal sambil cemberut.
"Mut... mau kripik kentang?" tawar Dion sambil menyerahkan sebungkus Snack di depan Mutia.
"Nggak Om, makasih. Aku lagi diet," jawab Mutia dengan acuh tak acuh.
"Om, tadi kan aku bilang aku lagi diet," jawab Mutia sedikit kesal.
"Yah, sayang banget. Padahal jajanan di sini enak-enak banget loh."
Mutia tersenyum, senyum yang dipaksakan.
Dia sungguh-sungguh ingin cepat pergi dari tempat ini. Mending dia di rumah aja baca komik atau streaming film di dalam kamar sambil pesan pizza.
"Vin-vin!! awas Lo! tiada maaf bagimu!" batin Mutia berteriak.
"Lo di sini ternyata."
Mutia terhenyak mendengarkan suara yang sangat tak asing di telinganya. Dia menoleh dengan cepat dan ternyata benar, Axel ada di belakangnya. Dia berdiri sambil menyilang kan tangan di dada.
"Lo lagi pacaran Mut?"
"Eh?! enggak! aku cuma temenin Vin-vin kencan tuh sama Pak Ivan!" Mutia dengan cepat menyangkal. Gila aja kalau sampai Axel mengira dia sedang kencan dengan Om caper ini.
"Kok, Lo keliatan seneng di foto, sama Om Om ini," lagi-lagi Axel bertanya. Dia nampak sangat penasaran.
"Foto? foto apaan?"
Axel maju dan menggeser Dion supaya dia bisa duduk di dekat Mutia. Dion yang bingung hanya menggeser duduknya sedikit.
Sekarang Axel sudah duduk persis di sebelah Mutia dan menggeser Dion hingga Dion hampir terjatuh karena dia hanya menduduki ujung bangku.
"Ini!" Axel menunjukkan ponselnya dan muncullah foto Mutia dan On Dion dengan emoticon love berwarna merah.
"Apa-apaan ini!" teriak Mutia, dia benar-benar nggak menyangka jika Vin-vin memasang foto yang barusan dia jepret di story' sosmed nya.
"Vincia Putri Jayanti!! apa-apaan Lo!" Mutia mendelik ke arah sahabatnya yang sedari tadi tersenyum di sebelahnya.
"Iseng aja," jawab Vin-vin santai tak menghiraukan kemarahan Mutia yang sudah hampir meledak.
"Si Vin-vin iseng, aku nggak ada apa-apa kok sama Om Dion..." ucap Mutia sambil menatap Axel. Berharap cowok incarannya itu percaya pada kata-katanya.
Axel tampak diam sambil terus menatap foto Mutia di ponselnya, "tapi di sini Lo kelihatan happy banget."
"Itu.. itu Vin-vin yang suruh! aku nggak happy beneran! dari tadi aja aku sudah ingin pulang! suer!"
"Oh, maaf ya Mut, kalau Saya bikin kamu nggak happy!" Dion ikut bercelatuk, dia bahkan mencondongkan kepalanya agar bisa melihat Mutia, maklumlah pandangannya tertutup oleh badan Axel yang tinggi.
"Ah... bu-bukan begitu Om, maaf... duhh.." Mutia mulai bingung. Dia merasa bersalah karena tanpa sengaja membuat Dion tahu kalau dari tadi dia hanya basa basi dengannya.
Bukannya ikut merasakan kegalauan sahabatnya, Vin-vin malah tertawa terbahak-bahak.
"Sana kalian ngobrol di luar aja, jangan di sini! bikin rame aja," Vin-vin mendorong Mutia dan Axel agar menjauh dari tempatnya duduk sekarang. Dengan terpaksa Mutia menurut, dia pun pergi dengan Axel untuk melanjutkan percakapan mereka.
"Lo bener-bener ya! kalau bukan pacar Ivan gue kepret beneran Lo! ngisengin orang tua!" gerutu Dion dengan kesal. Dia baru sadar jika dirinya dipergunakan oleh Vin-vin untuk membuat cemburu gebetan Mutia. Padahal Dion sudah ngarep banget bisa bener-bener Deket dengan Mutia. Kan Asyik kalau suatu saat mereka bisa kencan berempat lagi, apalagi bisa punya pacar anak SMA.
Tapi semua itu hanya angan-angan belaka, ternyata Dion hanyalah figuran bukan tokoh utamanya. Mangsedih banget...
"Maaf deh Om, nanti aku traktir makanan enak deh. Janji," ucap Vin-vin, dia merasa sedikit bersalah karena sudah memanfaatkan Om Dion.
"Gue mau steak Wagyu! dua porsi, dan mi ramen asli Korea bukan yang instan beli di supermarket! terus gue mau dapat voucher makan gratis di kafe chef Kevin selama sebulan... terus..."
"Sudah Om, benci aja aku. Aku nggak jadi minta maaf..."
Dion / Mutia / Axel.