
"Vin!"
Vin-vin yang sedang berusaha mengejar Pak Ivan yang entah kenapa sudah berjarak sangat jauh darinya, menoleh ke arah suara orang yang memanggilnya.
"Axel?"
"Kamu dari mana saja? aku khawatir tau! takut kamu kenapa-kenapa!" Axel berlari kecil mendekati Vin-vin.
"Aku nggak kenapa-kenapa kok. Memangnya Mutiara laporan ya?"
"Iya, tadi dia bilang kamu pergi sendiri nggak bilang mau ke mana, aku langsung cari-cari kamu dari tadi." Axel mendekat lalu meraih tangan Vin-vin dan menggenggam nya.
"Mutiara terlalu berlebihan, lagian aku nggak akan diam aja kok kalau sampai mereka berani macam-macam lagi. Aku bisa laporin sama Om Bobby biar mereka tahu rasa." Vin-vin berusaha meyakinkan Axel bahwa dia bisa melawan kakak kelas yang mem-bully nya kemarin.
"Iya, aku percaya. Apalagi Om Boby itu kan pengacara hebat." Axel tersenyum sambil mengelus pucuk kepala Vin-vin.
"Kamu laper nggak? makan bakso yuk di kantin. Aku laper banget belum makan gara-gara dari tadi cari-cari kamu terus."
"Jadi nya aku yang salah nih karena kamu laper?"
"Iya lah..." Axel tertawa sambil menarik pergelangan tangan Vin-vin agar mengikutinya ke kantin.
Vin-vin pun menyerah dan menurut saja, lagi pula dia juga sedikit merasa lapar, makan bakso pedas di taburi kacang atom boleh juga.
"Ada menu baru loh di kantin," ucap Axel.
"Apaan?"
"Martabak telur di dalamnya ada daging sapi nya."
"Masa sih?!"
Axel dan Vin-vin berjalan dengan riang menuju kantin yang berada di sebrang lapangan basket.
Kantin di sekolah ini ada dua, satu kantin khusus untuk murid putri dan yang satunya kantin khusus murid putra. Namun yang namanya anak SMA, pasti ada saja murid putra yang tak menuruti peraturan. Mereka lebih suka masuk ke kantin putri karena bisa bertemu gebetan.
Kecuali jika kantin putri penuh sesak, barulah mereka dengan terpaksa masuk ke kantin khusus putra.
"Kenapa kantin sebelah sepi?" Vin-vin sempat melongok kantin yang ada di sebelah kantin putri.
"Makanan di sana nggak enak, nggak ada variasinya. Nggak kayak kantin putri, makanannya macam-macam," jelas Axel.
"Kasian dong Ibu kantin sebelah," ucap Vin-vin merasa sedikit sedih. Namun saat masuk ke kantin putri, Vin-vin malah tersentak karena saking kagetnya.
Di sana ada Pak Ivan, sedang duduk di sebuah meja makan bersama beberapa guru yang lain termasuk Bu Yosephine.
Tumben sekali, ada rombongan guru makan di kantin.
Vin-vin pura-pura cuek sambil terus berjalan menuju meja pramusaji untuk memesan makanan bersama Axel, namun ekor matanya terus memperhatikan Pak Ivan yang tampak asyik melahap makanannya.
"Bakso dua ya Bu," pinta Axel.
"Terus mau sama apa lagi? gorengan?" tanya Axel pada Vin-vin yang terdiam di sebelahnya.
"Eh? aku mau kacang atom aja," ucap Vin-vin sambil mengambil dua bungkus kacang atom.
"Ini Mas Axel," Ibu kantin memberikan nampan berisi dua mangkok bakso kuah yang mengepul dan langsung di terima oleh Axel.
"Duduk di sana sayang," ucap Axel sambil menunjukkan bangku kosong dengan dagunya.
Vin-vin melirik Axel sambil cemberut, dia nggak suka di panggil 'sayang' oleh Axel. Lebih tepatnya takut jika Pak Ivan dengar dan jadi salah paham. Satu bulan lagi kan mereka mau jadian.
Mengingat itu seketika wajah Vin-vin jadi ceria, mulut cemberutnya berubah menjadi sebuah senyuman. Ah, dia sungguh tak sabar. Kenapa sih Pak Ivan harus menunggu satu bulan lagi? apa sih bedanya dengan sekarang? hanya beda satu angka aja jadi masalah.
Axel duduk, diikuti Vin-vin di sebelahnya. Mereka berdua duduk di bangku yang menghadap meja yang menempel di tembok, hingga Vin-vin harus menoleh ke belakang jika dia ingin melihat Pak Ivan.
Tapi dia tak berani menoleh, paling hanya melirik saja walaupun itu juga tak bisa membuatnya melihat sang guru pujaan.
"Saya itu niatnya ingin traktir makan di cafe d'best sepulang sekolah, tapi Pak Ivan sibuk terus, jadi dari pada kita nggak jadi makan-makan akhirnya pilih di kantin aja." Ucap Bu Yosephine.
Mendengar nama Pak Ivan di sebut, Vin-vin langsung dengan sigap memasang telinga nya untuk menguping.
"Nggak apa-apa Bu, dari pada nggak jadi makan-makan, hahaha..." Sambung Pak Anis.
"Bagaimana Pak Ivan? enak makanannya?" tanya Bu Yosephine pada Pak Ivan yang duduk di sebelahnya.
"Ya, lumayan," jawab Pak Ivan datar.
"Biasanya Pak Ivan kalau makan ke restoran mana? siapa tahu kita bisa janjian makan malam."
"Uhuk! uhuk..."
"Kenapa Vin?" Axel langsung menepuk-nepuk punggung Vin-vin.
"Nggak apa.. uhuk... ini kebanyakan sambel jadi pedes."
"Minum dulu..." Axel mendekatkan segelas besar es teh agar Vin-vin bisa meminumnya.
"Berani-beraninya si guru killer ngajakin Pak Ivanku makan malam bareng!" geram Vin-vin dalam hati.
"Saya biasanya sama temen-temen nongkrong di cafe ini."
"Cafe Ini bukannya punya chef terkenal itu ya?"
Pak Ivan mengangguk.
"Wah, saya belum pernah ke sana. Boleh dong sekali waktu Pak Ivan ajak Saya nongkrong di sana sama temen-temen Pak Ivan."
Ivan hanya tersenyum sambil melanjutkan makannya.
Vin-vin yang menguping, makin merasa kesal. Dia bahkan sudah menggenggam sendok dan garpunya dengan kencang.
Axel nampaknya sadar akan kekesalan Vin-vin, dia pun mengelus pergelangan tangan Vin-vin yang menggenggam erat.
"Makan, lalu kita balik ke kelas. Terlalu lama di sini nanti kamu bisa berubah jadi hulk!" bisik Axel sambil tersenyum.
Vin-vin manyun, lalu menurut. Dengan cepat dia menghabiskan makanannya dan beranjak pergi dari kantin tanpa menunggu Axel.
"Lhoh?! Vin! tunggu!" Axel buru-buru menyeruput es teh nya dan menyusul Vin-vin.
Vin-vin terus berjalan tanpa menunggu Axel, dia mengambil ponselnya dan mulai mengetik.
'Awas kalau Pak Ivan berani bawa Bu Yosephine ke cafe papah!'
tulisnya dengan cepat.
Tak lama balasan dari Pak Ivan pun muncul,
'memangnya tadi saya bilang mau ajak dia? jangan aneh-aneh!'
'Pokoknya aku nggak mau Pak Ivan deket-deket sama Bu Yo!!!!!!!!!'
Vin-vin menunggu balasan chat dari Pak Ivan namun ternyata Pak Ivan hanya membacanya tanpa membalas. Dan itu membuat Vin-vin makin kesal.
"Vin!"
Vin-vin mengangkat kepalanya dan menatap Axel yang ternyata terus memandanginya dari tadi.
"Kenapa?"
"Apa aku nggak terlihat di mata mu? apa cuma Pak Ivan aja yang ada dalam pikiranmu?"
"Kok kamu bilang gitu sih?"
"Aku kecewa sama kamu, aku memang bukan pacar kamu, bukan orang yang kamu suka! tapi apa kamu nggak bisa menghargai keberadaanku! nggak bisa kamu menghargai pertemanan kita! aku ngerasa kaya patung! ada di deket kamu tapi pikiran kamu cuma ke Pak Ivan aja!" Axel tampak kesal.
"Pernah nggak sih, sekali aja kamu mikirin aku?"
"Kok kamu tiba-tiba jadi marah si?" Vin-vin bingung.
"Terserah kamu lah!" Axel tampak sangat kecewa pada sikap Vin-vin. Dia pun berlari meninggalkan Vin-vin yang masih terdiam di tempatnya berdiri.
"Axel!" teriakkan Vin-vin tak membuat Axel berhenti berlari. Tampaknya kali ini dia benar-benar kecewa pada Vin-vin.
"Kenapa sih dia??" gumam Vin-vin.