
Seperti biasa, Vin-vin nebeng Mutiara sampai di depan cafe d'best, tempatnya janjian dengan guru pujaannya, siapa lagi kalau bukan Pak Ivan.
"Kamu beneran kan ketemuan sama Pak Ivan?" tanya Mutiara mencoba meyakinkan dirinya.
"Iyalah! memangnya mau ketemu sama siapa lagi kalau bukan Pak Ivan!"
"Aku cuma khawatir, jangan sampai kakak senior itu ngejar kamu sampai di sini!"
"Mereka sudah nggak mungkin ganggu aku lagi, tadi mereka sudah di ancam sama Pak Ivan!" bisik Vin-vin sambil tersenyum senang.
"Hmm... iyalah yang hatinya lagi berbunga-bunga." Mutiara memutar kunci kontak Scoopy warna pink nya, "kalau Pak Ivan nggak datang dan kamu bingung gimana pulangnya, telpon aku ya. Nanti aku jemput."
"Hmmm.. punya soulmate baek banget sih.. aku jadi terharu." Vin-vin langsung memeluk Mutiara yang masih duduk di atas motornya.
"Aahh.. apaan sih! gerah tau!" Mutiara menyingkirkan tangan Vin-vin yang melingkari lehernya.
"Ya siapa tahu, Pak Ivan nggak datang karena terlalu sibuk sama Bu Yosephine sampai lupa sama kamu!"
"Eemmuutt!!! awas kamu ya!" Teriakan Vin-vin hanya di balas tawa oleh Mutiara dari jauh, karena dia sudah melarikan diri dengan motor matic nya.
Vin-vin sempat senewen karena kata-kata Mutiara. Sebenarnya hatinya pun sedikit was-was karena jam yang melingkar di pergelangan tangannya sudah menunjukkan waktu lebih dari 15 menit setelah jam pulang sekolah.
Apa Pak Ivan benar-benar lupa kalau dia ada janji pulang bareng?
Vin-vin mengambil ponsel yang ada di saku baju OSIS nya, dia ingin menghubungi Pak Ivan.
Tin! Tin!
Vin-vin terkejut dan spontan mundur dari tempatnya berdiri. Seorang pria memakai jacket kulit warna hitam dan helm full face menutup seluruh wajahnya, berhenti tepat di depan tempatnya berdiri.
Orang itu tak perlu membuka kaca penutup helmnya, Vin-vin sudah tau kalau lelaki itu adalah orang yang dia tunggu.
Senyum langsung menghiasi wajah imutnya.
Tanpa menunggu perintah Pak Ivan, Vin-vin langsung naik ke jok belakang motor gurunya.
Hari ini Vin-vin lupa membawa celana jeans, hingga rok nya tersingkap sampai di atas lutut saat duduk di atas jok motor.
Ivan mendengus, lalu dengan segera melepas jaket kulitnya dan menyerahkannya pada Vin-vin yang duduk di belakangnya.
"Aku sudah pakai sweater pak," ucap Vin-vin bingung saat menerima jaket dari pak Ivan.
"Bukan di pakai, buat tutupin itu kaki kamu!"
"Kenapa sih?!" Vin-vin tidak merasa ada yang salah, pahanya hanya terlihat sedikit karena rok nya tersingkap dan itu bukan masalah, di jalanan sana bahkan ada yang memakai hotpants yang lebih pendek lagi.
"Sudah nurut aja, kalau nggak mau mending tutun. Saya panggilin taksi!" ucap Ivan tegas.
Mulut Vin-vin mengerucut lancip, tapi dia tetap menurut. Dari pada dia di suruh turun dan pulang naik taksi.
"Mau ke mana?"
"Ke toko Helm!" Jawab Vin-vin sedikit ketus.
"Ngapain?" Ivan bingung sampai menolehkan kepalanya.
"Kan kemarin Pak Ivan janji mau beli helm couple! apa sudah lupa?!"
Ivan terdiam tak bisa berkata-kata, akhirnya tanpa banyak bicara lagi dia mulai memutar kontak motornya dan melaju kencang di jalanan yang lumayan lengang.
Ivan membawa Vin-vin ke sebuah toko yang cukup besar yang khusus menjual helm. Dia menuruti keinginan muridnya karena merasa berdebat hanya akan menguras tenaganya saja.
"Pak Ivan sering ke sini?" tanya Vin-vin sambil melihat toko yang lumayan besar itu dari area parkir motor, sambil menunggu gurunya.
"Ya lumayan," ucapnya sambil melepas helmnya dan meletakkannya dia atas motor. Sebelum turun dari motor gedenya, Ivan merapihkan rambut nya yang sedikit berantakan. Dan itu adalah pemandangan paling indah yang pernah Vin-vin lihat.
Ivan sempat melirik Vin-vin yang menatapnya sambil bengong, lalu dia mengusap wajah Vin-vin dengan gemas.
"Lalat bisa masuk ke mulutmu kalau kamu bengong gitu!" ucapnya sambil tersenyum.
"Apaan sih Pak..." Vin-vin manyun lagi.
Ivan terkekeh lalu berjalan mendahului Vin-vin dan masuk ke dalam toko.
Vin-vin langsung berlari kecil mengikutinya.
"Waahh..." Vin-vin terperangah saat sampai di dalam toko, dia belum pernah masuk ke dalam toko seperti ini sebelumnya. Isinya begitu komplit. Berbagai jenis helm ada di sini, bahkan aksesoris motor pun lengkap sekali.
Vin-vin mengangguk, lalu dia mendekati seorang pramuniaga, "mas, helm couple di sebelah mana?"
Si pramuniaga tersenyum sambil mempersilahkan Vin-vin untuk berjalan ke sudut toko yang terdapat rak khusus untuk helm couple.
Mata Vin-vin langsung berbinar bahagia. Dia langsung berlari mendekat dan mulai memilih.
"Pak! bagaimana dengan helm ini?" Vin-vin menunjuk sepasang helm KYT berwarna biru muda.
Ivan menoleh ke arah Vin-vin lalu berjalan mendekatinya, "motor saya warna hijau, masa pake helm warna biru..." gumam Pak Ivan.
"Oh iya, ya... kalau gitu yang ini?" Vin-vin menunjuk helm yang sama persis namun berwarna hitam bercorak putih.
Ivan mengambil salah satu helm yang di tunjuk Vin-vin lalu menimbang-nimbang beratnya dan mengeceknya dengan teliti.
"Ini bagus juga," ucapnya sambil manggut-manggut tanda setuju dengan pilihan Vin-vin.
"Mas! aku mau ambil helm ini!" Teriak Vin-vin ceria karena Pak Ivan menyukai pilihannya.
Saat sang pramuniaga mendekat, Ivan mengeluarkan sebuah kartu dari dalam dompetnya. "Gue bayar pakai ini ya," ucapnya pada si pramuniaga.
"Siap Bos."
"Lho Pak, kok Pak Ivan yang bayar? biar aku aja." Vin-vin berusaha mengambil kartu kredit yang di pegang si pramuniaga. Dengan cepat Ivan meraih tangan Vin-vin dan menurunkannya.
"Kalau kamu yang bayar, saya nggak mau pakai!" ucapnya dengan tegas.
Vin-vin mendengus kesal.
'Tlililit....'
Ivan merogoh ponsel yang ada di saku celananya dengan tangan kiri, karena tangan kanannya masih menggenggam pergelangan tangan Vin-vin.
Ivan takut jika dia melepaskan tangan Vin-vin saat menelpon, Vin-vin akan berlari menuju kasir dan membayar helm yang lumayan mahal itu.
"Hallo Yon, ada apaan?" ucap Ivan saat melihat nama Dion tertera di layar ponselnya.
"Van, Lo di undang Manda nih!"
"Manda? siapa?" Alis Ivan berkerut mengingat-ingat nama yang di ucapkan Dion.
"Manda! Da-da!" Dion tampak kesal.
"Lo kaya lansia aja, sama temen sendiri sudah lupa!"
"Oh Da-da! sorry.. gue lebih inget nama panggilannya," Ivan terkekeh.
"Da-da kenapa?"
"Dia mau married! besok malam di gedung A."
"Married sama siapa? pacarnya yang dulu itu kan?"
"Bukan, kayaknya bukan sama yang dulu. Pengusaha batu bara kayaknya. Besok aja kita datang ke acaranya sambil kenalan sama suaminya. Lo bisa datang kan?"
"Besok malam ya? gue nggak ada acara sih, gue pasti datang. Lagian udah lama gue nggak ketemu dia, kangen juga."
Ivan mengernyit merasakan cubitan pedas di tangannya.
"Udah dulu ya, gue sibuk," tanpa menunggu jawaban Dion, Ivan langsung menutup ponselnya.
"Apaan sih Vin?" Ivan mendesis sambil mengusap-usap tangannya yang memerah karena cubitan dari Vin-vin.
"Pak Ivan mau ke mana besok malam? kok pake acara kangen mau ketemu lagi segala!"
"Oh, teman SMA mau nikah besok, dia sahabat baik aku waktu SMA dan sudah lama banget nggak ketemu." Ivan tersenyum sambil mengingat kembali teman SMA nya itu.
"Aku ikut!"
"Nggak!" Ivan menolak.
"Pokoknya aku harus ikut!"
Ivan mendesah sambil menyugar rambutnya, ribet dong acaranya kalau harus membawa anak kecil ini.