Oh My Teacher

Oh My Teacher
Ivan galau


“Halo Van, Lo lagi ngapain?”


“Nggak lagi ngapa-ngapain juga. Kenapa?” Jawab Ivan dengan jengah. Baru beberapa hari ini nyeri di kakinya sembuh tapi dia masih malas untuk keluar sekedar kumpul dengan teman-temannya terutama Dion.


“Gue lagi bete banget, pliss sob, temenin gue hangout lah...”


Ivan mendesah, dia memang sedikit malas. Tapi dia juga membutuhkan udara segar. Setiap hari hanya berangkat kerja lalu diam di rumah membuatnya merasa sangat bosan. Masih lumayan Vin-vin selalu muncul membuatnya lupa akan rasa bosannya.


Ivan tersenyum jika mengingat anak muridnya yang satu itu. Ups, seminggu lagi mereka akan resmi menjadi sepasang kekasih. Ivan sudah berjanji akan menjadikan Vin-vin kekasih saat ulang tahunnya yang ke tujuh belas.


Ngomong-ngomong tentang ulang tahun, Ivan sampai sekarang belum menyiapkan hadiah untuk Vin-vin. Bisa di bayangkan betapa kesalnya dia nanti saat tahu Ivan belum menyiapkan apapun untuknya. Bisa-bisa dia malah minta hal yang macam-macam. Seperti ciuman misalnya. 


Ivan tiba-tiba tersedak ludahnya sendiri, mengingat kejadian beberapa hari yang lalu saat Vin-vin meminta hadiah ulang tahun berupa ‘first kiss’. Dasar anak remaja jaman now! Mereka terlalu berani. Untunglah Vin-vin bicara seperti itu dengan Ivan, coba dengan lelaki hidung belang, habis dia!


Ivan berdecak kesal jika mengingat Vin-vin yang terlalu polos. Dia takut suatu saat nanti akan ada lelaki yang memanfaatkan kepolosan anak itu. Ivan harus bisa menjaganya.


“Halo! Van! Lo denger gue nggak?” Dion mencak-mencak dari seberang telpon karena omongannya tak di gubris sama sekali oleh Ivan.


“Eh, iya. Sorry. Gimana?”


“Lo ngelamunin apa sih? Murid kesayangan Lo itu ya?”


Ivan menelan salivanya, “Nggak... ya udah Lo mau ketemu di mana? Gue cabut sekarang.”


“Di cafe biasa,” jawab Dion.


“Jangan di tempat Chef Kevin, yang lain aja.” Ivan takut bakal ketemu Vin-vin di sana. Bukannya Ivan tak suka, hanya saja dia selalu gugup dan salah tingkah jika bertemu Vin-vin di tempat umum, entah kenapa.


“Oke, ketemu di cafe temen gue.”


“Ya,” Ivan langsung menutup telponnya dan mengganti bajunya, setelah itu dia langsung tancap gas menuju cafe tempat janjian dengan Dion. Tapi sebelum itu dia ingin datang ke suatu tempat terlebih dahulu.


Ivan menghentikan mobilnya di depan sebuah toko perhiasan, dia berniat membeli sesuatu untuk ulang tahun Vin-vin. Yah, walaupun belum tahu apa yang akan dia beli nanti.


Ivan memasuki toko perhiasan itu dan berjalan melewati etalase-etalase kaca yang berisi cincin dan kalung emas yang sangat berkilauan.


“Jangan cincin! Bisa-bisa dia langsung pingsan karena kegirangan...” gumam Ivan. Akhirnya dia berjalan menuju etalase yang memamerkan kalung emas yang sangat indah.


“Silahkan kakak,” ucap pelayan toko dengan ramah.


“Ada kalung dengan inisial huruf?” tanya Ivan sambil berjalan mendekati si pelayan.


“Ada kak, mau inisaial apa?”


“Inisial ‘V’,” jawab Ivan.


“Silahkan di sebelah sini.”


Ivan mengikuti si pelayan dan berhenti tepat di sebelah etalase yang memamerkan kalung yang berinisial huruf. Mata Ivan menatap sebuah kalung yang sangat cantik dengan liontin berinisial huruf ‘V”. Entah kenapa dia langsung menyukai kalung itu dan tanpa berpikir panjang dia memilihnya.


“Saya mau yang ini aja Mbak, tolong di bungkus.”


“Baik Kak, tunggu sebentar.” Sang pelayan mengambil sebuah kotak perhiasan berbahan beludru berwarna merah lalu meletakkan kalung pilihan Ivan di dalamnya kemudian membungkusnya dengan pita yang cantik.


“Nggak usah di kasih pita mbak!” sela Ivan. Dia takut Vin-vin menganggapnya terlalu berlebihan.


Entah kenapa Ivan jadi selalu salah tingkah jika melakukan sesuatu yang berhubungan dengan anak muridnya yang satu itu. Takut terlalu lebay lah, atau takut terlalu menunjukkan perasaannya... tunggu, mungkin kah sekarang ini Ivan sudah benar-benar jatuh cinta pada muridnya yang satu itu? Tapi kenapa perasaan ini terasa begitu aneh dan asing.


Dulu saat dia jatuh cinta pada Clarina, Ivan selalu terbuka bahkan dia tak pernah malu menunjukkan perasaannya. Tapi sekarang kenapa begitu berbeda?


Ahh! Ivan memilih tak perlu memikirkan lebih dalam lagi tentang kegalauan hatinya ini. Biar saja semuanya mengalir seperti air. Toh, Vin-vin itu masih terlalu muda, mungkin saja baginya, Ivan hanya sekedar cinta monyet yang akan berlalu begitu saja.


‘Tlililit...'


“Kenapa Yon?”


“Yon siapa?” tanya Vin-vin.


Ivan menjauhkan ponsel dari telingannya dan menatap nama di layar. ‘Si bocah’


“Ada apa Vin?”


“Yon siapa sih pak?” tanya Vin-vin lagi.


“Dion, saya kira dia yang telpon soalnya kita lagi janjian.”


“Janjian kemana? Ke kafe Papah Kevin?”


“Bukan. Ada apa?”


“aku ingin ketemu Pak Ivan, kangen. Ketemu sebentar yuk.”


Entah kenapa wajah Ivan langsung terasa panas, mungkin warnanya pun sudah berubah menjadi merah. Untunglah Vin-vin tak ada di dekatnya saat ini.


“Saya sudah ada janji sama Dion, apa kamu mau ikut ketemu Dion?”


“Ck! Nggak mau ah ketemu sama Om Dion! Ya sudah nanti kalau sudah pulang video call ya,” pinta Vin-vin.


“Pulangnya malam Vin,” jawab Ivan lagi. “Sudah dulu ya. “ Ivan langsung menutup ponselnya, enggan bicara lebih lama lagi dengan muridnya itu, bisa-bisa ketahuan kalau dia sedang grogi.


Vin-vin benar-benar sudah membuat dunia Ivan jungkir balik. Padahal Ivan sudah pernah jatuh cinta sebelumnya. Apa ini semua karena umur mereka yang terpaut lumayan banyak?


***


“Van, di sini!” Dion melambaikan tangannya saat melihat sahabatnya muncul di tempat mereka janjian.


Ivan tersenyum lalu berjalan mendekat dan duduk tepat di sampingnya.


“Mau pesen apa?” tanya Dion, dia sendiri sudah memegang satu gelas besar berisi cairan berwarna kuning dan berbuih.


“Sama kaya Lo aja," jawab Ivan cuek.


“Tumben?”


“Besok kan hari minggu, gue nggak ngajar. Gue bisa tidur sampai siang," jawab Ivan.


Dion mengangguk sambil melambaikan tangan untuk memanggil bartender, “satu lagi bro.”


“Siap,” jawab si bartender sambil mengacungkan jempolnya. Tak lama kemudian bir pesanan Ivan sudah datang, dengan segera Ivan meneguknya hingga tersisa separuh.


“Lo kenapa sih?” Dion terlihat bingung dengan tingkah sahabatnya, tak biasanya Ivan bersikap seperti ini.


“Gue... akhir-akhir ini bisa lupain Rina...” ucap Ivan lirih diikuti hembusan napas, lalu Ivan meneguk kembali minumannya sampai tandas.


“Satu lagi,” pintanya pada bartender.


“Weits, kalem bro, pelan aja minumnya. Perasaan gue yang kepengen curhat kenapa malah Lo yang mabok.” Dion menatap sahabatnya sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Ivan hanya diam sambil kembali meneguk bir nya, dia sekarang adalah seorang guru, nggak seharusnya kebiasaan lamanya yang suka minum ini dia lakukan kembali. Namun saat ini dia benar-benar membutuhkan minuman ini.


Menyadari perasaannya sendiri pada Vin-vin, membuat Ivan merasa bersalah pada Rina., yang sduah meninggal karena dirinya...


Ivan kembali menghabiskan minumannya dan meminta tambah untuk yang ke tiga kalinya.


Dion makin bingung dengan sikap sahabatnya itu.