
"Pagi Vin-vin cantik..."
Vin-vin menoleh dan tersenyum pada salah satu teman sekolahnya yang pagi-pagi sudah menggodanya.
"Pagi juga..." jawabnya ceria.
Merasa mendapat sambutan positif dari Vin-vin, dia mendekat.
"Vin, pulang sekolah kita jalan-jalan yuk,". ajaknya sedikit tak tahu malu.
Vin-vin yang tak terlalu mengenal lelaki itu hanya mengernyit dan tertawa lirih sambil menggelengkan kepalanya.
"Ayolah... nanti aku belikan apapun yang kamu mau," rayunya lagi sambil terus berjalan menjejeri Vin-vin.
"Mamah sama Papi ku bisa membelikan apapun yang ku mau kok," jawab Vin-vin acuh, dia mulai kesal.
"Aku bisa ajak kamu jalan-jalan juga... ke kafe atau bioskop atau..."
"Hey, hey! bukannya Vincia sudah bilang nggak mau? jangan maksa dong!"
Vin-vin dan murid pria yang terus mengganggu itu serentak menoleh. Ternyata Pak Daniel sudah berdiri di belakang mereka berdua sambil berkacak pinggang.
Pak Daniel menatap tajam pada si murid pria, menyuruhnya pergi dengan tegas walaupun tak ada suara keluar dari mulutnya.
Si murid pria itu sadar diri dan dengan cepat berlalu meninggalkan Vin-vin.
Daniel tersenyum pada Vin-vin lalu berdiri di sampingnya. "Kamu nggak apa-apa kan Vin?" tanyanya sangat ramah.
"Nggak apa-apa kok," Vin-vin menjawab singkat sambil lalu berjalan kembali menuju kelasnya
"Nanti ada pelajaran Saya di kelas kamu kan?" Daniel berusaha berjalan di sebelah Vin-vin.
"Iya Pak."
"Mau Saya kasih bocoran?"
Vin-vin menatap Daniel, "maksudnya?"
"Saya mau kasih kuis dadakan," Daniel berbisik.
"Belajarlah dari halaman 25-30, semua jawabannya ada di sana."
"Kenapa Pak Daniel kasih tahu aku?"
"Biar nilai kamu bagus, Saya ingin sekali nilai-nilai kamu bisa naik, oh iya..." Daniel mengambil sebungkus coklat dari saku celananya.
"Ini buat kamu..."
Vin-vin menatap kotak kecil coklat yang sudah tak terbungkus plastik, coklat itu hanya di bungkus dengan kertas kuning alias pembungkus yang ada di bagian dalam.
"Nggak perlu Pak, terima kasih."
"Kenapa? kamu nggak suka coklat?"
"Bukan, gigi aku sakit kalau makan coklat pagi-pagi. Saya duluan ya Pak," Vin-vin berlari meninggalkan Daniel yang tampak kesal.
"Sial! padahal coklat ini udah gue bubuhi obat tidur! oke Vincia, kali ini gue bakal lebih gencar lagi deketin Lo! Lo nggak bakal bisa mengelak! lihat saja nanti!"
Daniel meremas coklat yang ada di tangannya lalu membuangnya ke dalam tempat sampah.
***
"Mut, ke kantin yuk," ajak Vin-vin ketika bel istirahat pertama berbunyi.
"Tumben istirahat pertama pengen ke kantin, kamu belum sarapan?" tanya Mutia sambil membereskan buku-buku nya yang berserakan di atas mejanya.
"Vin!" Axel berdiri sambil bersandar di ambang pintu kelas. "Ayo ke kantin."
"Axel kapan kamu pulang?" Vin-vin langsung bangun dari duduknya dan berlari mendekati Axel, dia merindukan sahabatnya itu karena hampir lima hari tak bertemu. Axel baru saja kembali dari London tempat Ayahnya berada.
Axel pun merentangkan tangannya hendak memeluk Vin-vin. Tapi Vin-vin langsung berhenti dan mencibir. " Huuhh... hampir saja kita berpelukan!"
"Loh kenapa? nggak apa-apa kan? di London aku biasa berpelukan dengan teman-teman cewek." Axel kesal sambil menjitak dahi Vin-vin.
"Kamu takut Pak Ivan marah ya?! dasar!" bisiknya lagi.
Vin-vin hanya tersenyum-senyum sambil menjulurkan lidahnya.
"Iya, iya..." Mutia langsung buru-buru bangun dan mengejar Vin-vin dan Axel.
.
"Apa? Pak Daniel kasih kamu bocoran kuis untuk nanti siang?!" pekik Mutia, kuah bakso yang ada di dalam mulutnya sampai menyembur ke wajah Vin-vin.
"Plis deh Mut! nggak usah bagi kuah bakso gini lah!" Vin-vin memejamkan matanya karena terkena hujan lokal rasa bakso.
Axel langsung mengambil tissue dan membantu Vin-vin untuk membersihkan wajahnya.
"Kok dia pilih kasih gitu? kenapa aku nggak di kasih bocoran juga sih!" gerutu Mutia.
"Apa seperti itu boleh? guru kan nggak boleh bocorin jawaban! curang namanya!" jawab Vin-vin.
"Aku memang bukan murid yang pintar, tapi aku nggak suka berbuat curang buat dapatin nilai bagus!"
Mutia mencibir, "yang penting kan kita nggak minta, orang dia yang kasih sendiri!"
"Pak Ivan juga kemarin bilang supaya aku berhati-hati dengan Pak Daniel," sambung Vin-vin.
"Aahh.. itu sih karena dia cemburu aja, di nggak mau kamu deket sama cowok lain!" jawab Mutia.
"Aku juga kemarin bilang seperti itu, tapi dia bilang bukan masalah cemburu," Vin-vin diam sejenak.
"Tadi dia juga kasih aku coklat tapi sudah nggak terbungkus plastik kemasannya, jadi aku nggak mau terima."
Mutia terdiam sambil berpikir, hatinya masih menolak jika Pak Daniel punya niat jahat pada Vin-vin. Pak Daniel kan guru pujaannya sekarang, ya setelah Pak Ivan sudah resmi jadian dengan Vin-vin tentu saja.
"Kalau Pak Ivan bilang begitu, lebih baik kamu turuti saja Vin, aku juga belum tahu orang seperti apa Pak Daniel itu karena aku baru saja masuk sekolah," ucap Axel berusaha bijak.
Vin-vin mengangguk tanda setuju.
"Silahkan Pak Daniel, duduk di sini."
Mendengar nama Pak Daniel di sebut, Vin-vin, Mutia dan Axel langsung menoleh.
Mereka menoleh serempak karena terkejut sebab baru saja mereka membicarakan Pak Daniel, eh tiba-tiba saja orangnya muncul di kantin.
"Dia denger nggak kalau kita baru saja ngomongin dia?" bisik Mutia.
"Moga-moga aja nggak Mut, kita kan juga ngomongnya nggak kencang-kencang amat," balas Vin-vin sambil berbisik.
Sedang Axel hanya diam sambil memperhatikan si guru baru itu.
Pak Daniel duduk di salah satu meja kantin, dan di sebelahnya ada Bu Yosephine.
Bu Yosephine tampak sibuk mondar-mandir mengambilkan makanan untuk Pak Daniel, sedang orangnya sendiri malah duduk dengan tenang di kursinya.
Saat matanya tak sengaja bertemu dengan Vin-vin dia tersenyum senang lalu bangun dari duduknya untuk mendekat.
"Kamu makan apa Vin? biar Saya bayari ya," ucapnya.
"Nggak perlu, Saya sudah bayar semuanya." Jawab Axel acuh.
"Saya baru lihat kamu ya? murid baru?" Pak Daniel tampak berpikir saat melihat Axel karena dia belum pernah bertemu murid bule ini sebelumnya.
"Saya bukan murid baru, hanya baru masuk katena ijin 5 hari." Axel bangun dari duduknya.
"Ayo Vin, kita balik ke kelas!" Axel menarik lengan Vin-vin dan mengajaknya bangun untuk pergi dari kantin.
Daniel memandang kepergian Vin-vin dan Axel dengan kesal, Ivan aja belum beres ada lagi satu cowok bule yang mendekati Vin-vin, pikirnya.
"Nggak apa-apa, cewek cantik memang sulit di dapetin, tapi gue nggak bakal menyerah!"
"Pak Daniel, ayo makan," panggil Bu Yosephine dengan suara yang manja.
Daniel mendengus sambil memutar bola matanya dengan jengah.
...----------------...
#maaf ya gaes upnya nggak tentu, karena othor masih tahap recovery.. 🙏🙏🙏
tapi masih othor usahakan up kok.