
Angin sejuk menerpa wajah cantik Vin-vin. Dia bahkan sampai memejamkan matanya untuk menikmati sensasi dingin yang menggelitiki kulitnya.
"Ini," Ivan memberikan jagung bakar yang di tusuk bilah kayu kecil pada Vin-vin. Kemudian dia pun duduk di sebelah Vin-vin, di atas pasir pantai beralaskan selembar koran.
"Terima Kasih Pak," Vin-vin menerimanya dengan riang. Entah sudah berapa lama dia tak makan jagung bakar di pinggir pantai seperti sekarang.
"Kenapa Pak Ivan tiba-tiba mengajak ke pantai?" tanyanya sembari menggigit jagung bakar yang masih panas.
"Aauch! bleh bleh bleb!"
Ivan terkikik melihat tingkah pacar kecilnya yang sangat menggemaskan itu.
"Itu kan baru saja di bakar Vin, pasti masih panas."
Dengan perlahan Vin-vin menempelkan bibirnya ke biji jagung, "Nah! sekarang sudah bisa di makan," ucapnya riang sambil mulai menikmati jagung bakar rasa pedas asin itu.
"Katanya kalau kena angin pantai, semua stres akan hilang," ucap Ivan sambil menatap deburan ombak yang berada tak jauh darinya duduk.
"Pak Ivan lagi stres?" Vin-vin nampak terkejut, dia bahkan sampai menoleh dan menatap wajah Ivan yang tampak melamun.
"Bukain aku, tapi kamu. Aku takut kamu stres gara-gara kedatangan Rissa tadi pagi."
"Memang sih, tadi aku lumayan nggak tenang. Tapi itu karena Pak Ivan yang tak kunjung memberi kabar! Aku takut Rissa macem-macem sama Pak Ivan."
Ivan terkekeh, "Memangnya dia bisa ngapain aku?"
"Ya, siapa tahu Pak Ivan di culik, di bawa kabur sama Rissa ke Luar Negri, atau.."
"Atau apa?"
"Atau Pak Ivan akhirnya mau dengan Rissa dan ninggalin aku..." Vin-vin tertunduk, ucapannya begitu lirih karena lehernya terasa tercekik saat mengatakan itu semua.
"Jangan konyol! Rissa adalah satu-satunya wanita di dunia ini yang tidak akan mungkin aku sukai. Biarpun wajahnya sama persis dengan Rina, nggak ada sedikit pun di hati aku terselip rasa suka. Nggak akan pernah mungkin!" Ivan mengucapkan kalimat terakhir dengan sangat tegas.
"Yang jadi pikiran itu, dari mana dia tahu tempat kerjaku, padahal aku sudah merasa sukses bersembunyi darinya."
Vin-vin tertunduk, wajahnya tampak sedih.
"Dulu sewaktu kecil, aku pernah di tinggalkan Mama di sebuah panti. Padahal Mama sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkan aku, tapi karena kehidupan kami yang sangat sulit waktu itu, aku memaklumi keputusan Mama.
Aku tau Mama sangat sedih saat meninggalkan ku di sana, dan aku pun sama. Sejak saat itu aku sangat takut di tinggalkan oleh orang yang aku sayang..."
Ivan tampak terkejut, dia menatap Vin-vin tak percaya dengan ucapannya.
Vin-vin mengangkat wajahnya dan menatap Ivan sambil tersenyum, "Untungnya Mama bertemu Papi Al yang sangat baik, aku langsung di jemput dari panti dan hidup bersama Mama dan Papi."
"Lalu... Chef Kevin?"
"Papah... kami bertemu setelahnya.. ahh ceritanya sangat panjang, kalau aku ceritakan bisa-bisa kita menginap di sini sampai besok siang," Vin-vin terkekeh.
"Aku nggak sangka kamu mengalami hal-hal sulit sewaktu kecil, pantesan sikap mu sangat dewasa di bandingkan anak seusiamu.. Kadang-kadang aja sih, banyakan manjanya," Ivan mengelus lembut pucuk kepala Vin-vin.
"Ih! ini Pak Ivan mau puji aku atau ngejek aku sih?!" Vin-vin menjauhkan kepalanya dari jangkauan Ivan dan merengut kesal. Ivan malah terkekeh karena nya.
"Kalau Pak Ivan? ceritain dong tentang keluarga Pak Ivan. Aku nggak tau sama sekali," Vin-vin menatap Ivan yang masih tersenyum tipis.
"Aku? nggak ada yang istimewa, biasa saja," Ivan menatap jauh ke arah ombak di tengah laut.
"Aku anak tunggal, di Surabaya. Sudah, nggak ada yang spesial," Ivan melanjutkan ucapannya saat melihat wajah cemberut Vin-vin.
"Kapan-kapan, kalau kamu sudah cukup umur buat pergi-pergi yang agak jauh sampai menginap, dan sudah dapat ijin dari kedua orang tuamu, kita ke Surabaya," Ivan tersenyum sambil kembali mengusap pucuk kepala Vin-vin.
"Lho, aku ini sudah 17 tahun loh! harus umur berapa memangnya supaya bisa pergi ke Surabaya ketemu sama orang tua Bapak?" Vin-vin menatap Ivan penuh harap.
Ivan yang di pandangi dengan tatapan puppy eye langsung tertawa terbahak-bahak.
"Ngarep banget ya? kepengen ketemu keluargaku?"
"Ih! Pak Ivan sukanya gitu, nggak serius ya sama aku!" Vin-vin cemberut, dia langsung membuang muka dan enggan menatap wajah kekasihnya itu.
"Kalau Papi nggak ijinin?"
"Ya sudah, berarti nggak jadi," jawab Ivan cuek.
"Ih! nggak ada usahanya! rayu Papi kek, apa kek! masa langsung nyerah! nggak serius nih Pak Ivan!" Vin-vin mencebik, dia tampak kesal dan enggan menatap wajah Ivan.
"Hahaha.. dih, hari ini sering banget sih ngambeknya! jelek ah!" Ivan gemas dan mencubit pipi chubby Vin-vin.
"Awas ah! aku sebel sama Pak Ivan!" Vin-vin menepis tangan Ivan.
"Sebel? seneng betul?" Ivan kembali tersenyum.
"Benci!" tambah Vin-vin setengah berteriak.
"Bener-bener cinta?" sambung Ivan lagi dan sukses membuat Vin-vin makin kesal.
"Aku mau pulang! nggak suka sama Pak Ivan! nyebelin!" Vin-vin bangun dari duduknya dan bergegas meninggalkan Ivan.
Ivan tertawa makin lebar kemudian bergegas bangun dari duduknya dan mengejar Vin-vin.
"Iya deh, nanti aku akan berusaha membuat Papi setuju, kalau nggak, aku ajak aja sekalian Papi ke Surabaya. Biar rame," rayu Ivan sambil melingkarkan lengannya di bahu Vin-vin.
"Bodo amat! aku udah sebel! sebel! sama Pak Ivan!" teriak Vin-vin emosi.
"Duh... aduh... pacar cantikku ngambek lagi, aku harus gimana sih bikin kamu senyum lagi?" Ivan mencubit hidung mancung Vin-vin.
Vin-vin mengerucutkan bibirnya, minta di cium.
Ivan langsung menarik bibir Vin-vin hingga Vin-vin mengaduh kesakitan.
"Pulang ah!" lalu dengan cepat Ivan berjalan mendahului Vin-vin dan meninggalkannya.
"Pak Ivan!!!" Vin-vin makin kesal, dia bahkan Menghentak-hentakkan kedua kakinya di atas pasir pantai.
...***...
"Mama... Vin-vin pulang," Vin-vin masuk ke dalam rumah setelah melepas sepatunya yang penuh pasir.
"Eh, ada Om Bobby?" Vin-vin yang melihat Bobby sedang duduk di sifa ruang tamu, langsung mendekat dan mencium tangannya.
"Kamu kok baru pulang Vin?" tanya Om Bobby.
"Iya Om, habis main dulu sama teman."
"Teman apa pacar?" seloroh Bobby sambil tersenyum.
"Oh iya, Om Bobby hampir lupa mau kasih tahu."
"Ada apa Om?" Mendengar Om Bobby ingin berbicara dengannya, Vin-vin langsung duduk di sofa.
"Laki-laki yang dulu bikin masalah itu, siapa namanya? Daniel?"
"Iya Pak Daniel? kenapa dengan dia Pak?"
"Dia sudah bebas dari penjara dengan jaminan. Kamu harus hati-hati. Bilang ke temen kamu yang kemarin sempat di keroyok itu."
"Kok bisa sih Om? cepet banget di bebasinnya?"
"Preman-preman yang dulu ngeroyok kalian itu, nggak ngaku kalau Daniel yang suruh mereka. Kesaksian Axel juga nggak ada buktinya soalnyaa nomer telpon Daniel nggak ada di ponsel si preman.. sedang tuduhan pelecehan itu, sudah di tarik oleh keluarga Indah dengan syarat, si Daniel segera menikahi Indah," ucap Bobby menerangkan.
Vin-vin terdiam tak percaya, "bisa-bisanya Indah masih suka sama si kuda Nil! aku nggak habis pikir!" Vin-vin menggelengkan kepala, heran.
"Om cuma kasih tahu aja, siapa tahu dia masih berusaha bikin rusuh lagi."
"Iya Om, makasih infonya," Vin-vin beranjak dari duduknya dan secara tergesa-gesa berjalan menuju kamar, dia ingin segera memberi tahu Pak Ivan tentang Daniel.
Mungkinkah Daniel yang memberi tahu Rissa? tapi bagaimana mereka bisa saling kenal?