Oh My Teacher

Oh My Teacher
Pengganggu part 2


"Pak Ivan!" Teriak Vin-vin saat melihat Ivan keluar dari toilet pria.


Ivan nampak kaget karena Vin-vin berteriak dan berlari mendekatinya.


"Ada apa Vin? kok kamu pucat begini? ada yang sakit?"


"Bukan itu Pak! di gerbang.. di gerbang sekolah..."


"Di gerbang sekolah ada apa? ada pager?" seloroh Ivan sambil tersenyum.


"Sekarang bukan saatnya bercanda Pak!" Vin-vin tampak kesal, dia bahkan memukul lengan guru olah raganya yang merangkap sebagai pacar itu.


"Sabar Vin, jangan begini, nanti kalau ada yang lihat dan curiga bagaima?"


Vin-vin seakan tersadar, dia pun menurunkan tangannya dan berhenti memukuli lengan kekar Ivan, "Itu... ada Rissa di gerbang Pak, dia teriak-teriak kayak orang gila. Aku takut... aku takut dia bilang ke semua orang kalau kita pacaran..." Vin-vin menunduk sambil terisak. Jika bertemu Rissa di luar sekolah, Vin-vin memang tak merasa takut. Namun berbeda jika dia harus bertemu Rissa di sekolah. Pekerjaan Pak Ivan bisa terancam dan Vin-vin tak mau itu semua terjadi.


Ivan tampak mengerti dengan kekalutan hati Vin-vin.


"Kamu tenang saja, sebisa mungkin jangan muncul di depan Rissa. Pergilah ke kelas dan tetap di sana. Aku takut jika Rissa melihatmu dia makin menggila."


Ivan mengelus lembut pucuk kepala Vin-vin lalu berjalan menjauh.


"Ta... tapi, tapi tadi dia sudah melihatku Pak," ucap Vin-vin sambil memandangi punggung Ivan yang mulai menjauh.


Ivan membalikkan badan sambil menempelkan telunjukknya di depan bibir, "Biar ku urus, kamu tenang saja." Lalu dia kembali berjalan meninggalkan Vin-vin.


'Kriing...'


Vin-vin tersentak kaget saat ponsel yang dia letakkan di saku baju OSIS nya berbunyi, dengan tangan sedikit gemetar dia mengambilnya.


"Halo.."


"Vin! Lo di mana! gue nunggu sampai lumutan di kantin!" teriak Mutia dengan kesal dari seberang telpon.


"Aku.. aku mau balik kelas aja," jawab Vin-vin sambil bergegas menuju kelasnya.


"What?! lha terus yang makan ini bakso siapa?"


"Makan kamu aja Mut, aku udah nggak napsu makan..."


"Kenapa kamu nggak napsu makan?"


Vin-vin kembali tersentak, entah untuk yang keberapa kali. Hari ini benar-benar membuat jantungnya bekerja lebih cepat dari pada biasanya.


"A... Axel! jangan bikin kaget dong..." gumam Vin-vin sambil mengelus dada.


"Kamu nya aja yang kagetan, aku biasa aja kok ngomongnya," ucap Axel sambil memperhatikan Vin-vin yang tampak pucat.


"Kamu kenapa? sakit?"


Vin-vin hanya menggelengkan kepala sambil memaksakan senyumnya.


"Halo? halo???"


Mendengar suara Mutia dari speaker ponsel Vin-vin, Axel langsung mengambilnya.


"Halo Mut, Vin-vin kayaknya lagi nggak enak badan. Aku mau antar dia ke kelas atau UKS dulu ya, nanti kamu nyusul..."


"Sampai kapan gue bisa menang dari Vin-vin buat ngedapetin hati Axel... nasib... nasib..." gerutu Mutia sambil melahap baksonya yang hampir dingin.


.


"Gue cari orang yang namanya Ivan Xander! Lo budeg ya!"


"Maaf Bu, sekarang masih jam pelajaran. Pak Ivan pasti masih mengajar dan orang luar tidak diijinkan masuk jika tidak ada keperluan!" ucap penjaga gerbang sekolah dengan tegas. Dia bahkan mengunci pintu pagar agar Rissa tidak menerobos masuk.


"Ba! Bu! Ba?! Bu! emangnya gue Ibu-ibu!" Rissa terus berteriak-teriak dari luar gerbang sambil mengguncang-guncaang pagar besi agar si penjaga mau membuka pintu pagar itu unfuknya.


Dia tak merasa malu walaupun banyak orang berbisik-bisik sambil memperhatikan dirinya.


"Tolong Bu, jangan buat keributan di sini! anda mengganggu anak-anak yang sedang belajar!" penjaga gerbang mulai kesal dengan kelakuan bar-bar Rissa.


"Biarkan Saya keluar sebentar Pak," tiba-tiba Ivan muncul, dengaan lembut dia menepuk bahu pak penjaga gerbang yang tampak mulai emosi.


"Pak Ivan, Ibu ini ngotot sejaali ingin masuk dan bertemu Pak Ivan. Saya sudah bilang kalau Paak IVaan sedang mengajar. Pak IVan mau Sayaa lapor polisi?" gerutu penjaga gerbang.


Ivan tersenyum, "Nggak usah, biar Saya yang urus, tolong buka pintunya ya Pak."


"Siap Pak, hati-hati, sepertinya Ibu ini sedikit gila," bisik penjaga gerbang sambil membuka kunci pintu pagar.


Ivan hanya terkekeh lalu berjalan keluar dari gerbang dana mendekati Rissa yaang sedang tersenyum puas karena merasa menang.


"Akhirnya Lo keluar juga dari persembunyian!" Rissa menatap Ivan sambil tersenyum puas.


"Gue nggak sembunyi, gue lagi kerja!" Tegas Ivan.


"Yeah, whatever!" Rissa terus tersenyum.


"Ada perlu apa Lo datang ke sini?!" Ivan menyilangkan kedua tangannya di dada sambil menatap Rissa dengan sinis, "gue masih ada kelas sebentar lagi! gue nggak bisa lama-lama ngobrol!"


"Oh.. nggak apa-apa, besok gue bisa ke sini lagi dan ngobrol lagi. Gue cuma mau pastiin Lo bener kerja di sini dan ternyata benar..." Rissa menepuk tangannya sambil tersenyum lebar.


"Lo tau dari mana gue ada di sini?"


"Ck! itu nggak penting. Gue punya banyak koneksi di mana-mana, cuma nyari Lo aja gampang banget buat gue.


Pacar Lo juga ternyata murid di sini ya? asyik banget bisa pacaran tiap hari dong, makanya Lo lupa sama gue, tapi its okey dia bukan masalah besar buat gue karena gue sudah tau nyari kalian di mana. Dan kalau Lo ingin awet kerja di sini, mending Lo baik-baik deh Losama gue! daripada gue bilang..."


"Lo mau bilang apa?! Lo mau ganggu hidup gue lagi! heran gue nggak ada kapoknya Lo! emangnya cowok di dunia ini cuma gue sampai segitunya Lo ngejar-ngejar gue! tau malu dikit lah!" Ivan terpancing emosi karena ancaman Rissa.


"Kalau Lo berani macam-macam di sini dan kalau Lo berani deketin Cewek gue, gue nggak akan tinggal diam!" Ivan menatap tajam ke arah Rissa.


sepertinya Rissa tak menghiraukan ancaman Ivan, dia malah tertawa terbahak-bahak.


"Hari ini gue cuma datang untuk memastikan, karena gue udah ketemu Lo gue bakal pergi. Tapi ingat, kalau Lo nolak gue terus, gue bakal bocorin ke sekolah kalau Lo pacaran sama murid Lo sendiri.


Bye.. sayang..." Rissa mengerucutkan bibirnya dan melemparkan ciuman jauh untuk Ivan kemudian dengan langkah riang dia pergi meninggalkan Ivan yang masih terdiam di dekat gerbang.


Rissa terus berjalan sambil memgunggingkan senyum, kalau mengambil ponsel yang ada di dalam tas mungilnya.


"Hallo, Oke gue percaya sama Lo. Lo punya rencana apa buat pisahin Ivan sama pacarnya?


ok, kita ketemu di cafe nanti malam."