Oh My Teacher

Oh My Teacher
Rencana Mutia.


"Maaf ya Pak, aku beneran nggak sengaja," Mutia mengatupkan kedua tangannya di depan wajahnya. Dia sedang memohon maaf dengan tulus pada Ivan yang sedang berbaring di ranjang Rumah Sakit dengan kaki di gips.


"Lo, sengaja, Mut! nggak sengaja dari mana!" kesal Ivan sambil memandangi kakinya.


"Iya tapi enggak! aku sengaja tapi nggak berharap sampai kaki Pak Ivan seperti ini. Aku pikir cuma kesleo aja nggak sampai retak gini," jawab Mutia dengan wajah bersalah.


Ivan mendesah pasrah sambil memijat keningnya yang terasa sedikit pusing. Sebenarnya bukaan keningnya yang sakit, tapi kakinya. Dia terjatuh saat sedang berada di atas tangga. Saat itu Ivan sedang mengambil bahan makanan persedian kafe yang ada di lemari paling atas di gudang. Dan dengan sangat sengaja, Mutia menendang salah satu kaki tangga hingga membuat Ivan oleng dan terjatuh. Sialnya,kaki Ivan terluka parah bahkan sampai harus di gips.


"Lo, mau bantuin gue, atau bikin gue celaka, sih, Mut!"gerutu Ivan.


"Niatnya mau bantuin Pak Ivan buat dapatin perhatian dari Vin-vin. Niatnya cuma itu, suer! bukan pengen bikin celaka."


"Kenapa nggak ambil pisau aja, tusuk perut gue biar lebih dramatis!" kesal Ivan.


Dia menatap wajah Mutia yang terlihat sangat bersalah, membuatnya tak bisa marah pada mantan muridnya itu. Namun saat dia melirik Axel dan mendapati nya tersenyum bahkan menahan tawa, Ivan jadi kesal.


"Lo, ngapain, berdiri di pojokan sambil ketawain gue! seneng ya, liat mantan gurumu terluka."


"Eh? ehm, enggak kok, Pak. Serius..." ucap Axel. Namun dia masih terus teringat kejadian saat Ivan akan jatuh barusan. Dan jujur saja, itu sangat lucu buatnya. Melihat wajah Pak Ivan yang bingung dan takut, bahkan sampai bergelantungan di rak, membuat Axel semakin tak kuasa menahan tawa. Hilang sudah wibawa mantan guru olah raganya itu yang terkenal keren, bijaksana, cool dan sempurna. Axel seperti melihat adegan dalam film kartun, saat melihat wajah kalut Ivan.


"Dasar bocah kurang ajar! nggak takut kalau gurumu ini sampai lewat!"


"Tinggi rak itu kan cuma beberapa meter, mana mungkin sampai meninggal, Pak. Ya, palingan patah tulang gini..."


"Palingan?!" seru Ivan dengan kesal.


"Kalian pulang gih! dari pada bikin gue emosi!"


"Sabar Pak, kita lagi nunggu bintang utamanya datang, nih. Lama amat ni orang..." gerutu Mutia sambil melirik jam tangannya.


"Bintang utama?" tanya Ivan bingung.


"Iya." Mutia mendekati Ivan lalu menarik selimut hingga menutupi dada.


"Apaan sih, Mut! gerah tau!" Ivan berusaha membuang selimut yang di pasangkan oleh Mutia.


"Udah deh! nggak usah bawel! nurut aja apa susahnya!" dengan sedikit kasar, Mutia memukul tangan Ivan lalu kembali memakaikan selimut tadi.


"Pak Ivan harus berakting kesakitan! sedih, menderita, kalau perlu menangis. Oke!"


Ivan melotot, "Lo, gila, ya! buat apa gue berakting! konyol!"


"Lagian, gue sudah boleh pulang, kenapa Lo malah suruh gue nginep di Rumah Sakit ini semalam?! kurang kerjaan!"


"Ck! ini orang, susah banget di ajak kerja sama! Xel, kita patahin saja kaki satunya." Kesal Mutia.


"Lo..."


"Pak Ivan!"


Ivan, Mutia dan Axel serempak menoleh ke asal suara.


Di sana, di ambang pintu, Vin-vin muncul dengan wajah super cemas. Keningnya bahkan dipenuhi keringat.


"Pak Ivan kenapa?!" Vin-vin berlari mendekati ranjang Ivan.


"Vin... sakit sekali..." rintih Ivan sambil memejamkan matanya.


"Mana yang sakit? yang mana?" tanya Vin-vin khawatir.


"Ini.. kakiku patah..."


Saat Vin-vin sedang fokus mengamati kaki Ivan yang di gips, Ivan menatap Mutia sambil mengedipkaan sebelah matanya dan melambaikan tangannya agar Mutia dan Axel keluar dari ruang perawatannya.


Mutia langsung manyun dan mengajak Axel pergi.


"Ngomongnya nggak mau akting! dasar kulit kwaci!" gumam Mutia.


"Sstt!" Axel lgsg menutup mulut Mutia dan menariknya keluar.


"Kenapa bisa begini?" tanya Vin-vin sambil mengelus gips yang menempel di kaki Ivan.


"Tadi... aku jatuh saat ambil persediaan di gudang. Aku jatuh dari rak yang paling atas..." jawab Ivan dengan lemas, dia ingin terlihat kesakitan dan membuat Vin-vin makin khawatir.


"Kenapa Pak Ivan naik sendiri! bukannya Pak Ivan punya karyawan! sudah tua itu nggak usah sok-sokkan naik naik ke rak penyimpanan, deh! kalau jatuh gini, siapa coba yang rugi!" kesal Vin-vin.


"A-aku belum tua, Vin... Kata-kata kamu bikin hatiku sakit ini, aduuhh..." Ivan memegang dadanya sambil merintih kesakitan.


"Pak Ivan sudah makan?" tanya Vin-vin, kali ini dengan suara yang halus dan lembut.


"Belum.. aku lapar banget... mungkin sebentar lagi bakal di anterin makanan dan obat."


"Permisi..." Seorang perawat yang memakai setelan putih muncul sambil membawa nampan berisi makanan.


"Makan malam untuk Bapak Ivan, jangan lupa obatnya di minum."


"Baik Sus, Terima kasih," Ivan tersenyum saat perawat tadi meletakkan nampan berisi jatah makan malamnya di meja kecil yang ada di sebelah ranjang perawatannya.


"Sama-sama, semoga lekas sembuh," jawab sangat perawat sambil berlalu.


"Ayo, makan," ucap Vin-vin.


"Iya..." Ivan berusaha bangun untuk duduk agar bisa mulai makan, dan dengan cekatan Vin-vin membantunya.


Vin-vin meraih bahu Ivan, lalu dia menumpukkan dua bantal di punggung Ivan agar Ivan bisa bersandar.


Tubuh Vin-vin begitu dekat dengan Ivan, membuat Ivan dapat mencium aroma tubuh Vin-vin. Aroma yang sangat dia rindukan.


"Pak?"


"Eh, ya? kenapa?" Ivan yang sedang melamunkan kejadian kejadian indah saat Vin-vin masih menjadi muridnya, langsung kaget karena panggilan dari Vin-vin.


"Ayo di makan."


Ivan melirik makanan yang ada di atas nampan, lalu tersenyum kecut.


"Nggak jadi deh," ucapnya. Melihat menu makanan yang tersedia, Ivan langsung tak berselera.


"Kenapa? tadi katanya laper banget," kesal Vin-vin.


"Kelihatannya nggak enak, sup nya aja cuma air terus aku juga nggak suka rolade, terus nasinya juga lem..."


"Udah deh! nggak usah kaya anak kecil!" dengan sedikit kasar, Vin-vin menyuapkan sesendok nasi ke mulut Ivan.


"Auch! jangan kasar-kasar dong, yang lembut..." pinta Ivan.


"Habisnya Pak Ivan bikin sebel!"


"Seneng betul?" goda Ivan.


"Tau ah!"


Ivan terkekeh, lalu dia meraih jemari Vin-vin dan meremasnya.


"Kamu temenin aku malam ini, ya? aku nggak mau sendirian..." pinta Ivan.


"Iya, aku bakal di sini semalaman, temenin Pak Ivan."


"Serius?" tanya Ivan tak percaya.


Vin-vin mengangguk sambil tersenyum.


"Itu artinya, kamu sudah mau terima aku lagi kan? kamu sudah maafin aku?"


Vin-vin mengangguk sekali, dan itu sudah cukup membuat Ivan melonjak bahagia.


"Nanti malam, beneran ya... aku ingin ngobrol semalaman denganmu," ucap Ivan sambil menciumi tangan Vin-vin.


"Kalu cuma ngobrol, nggak masalah. Asal jangan yang aneh aneh!" Tiba-tiba Papi Al masuk ke dalam ruang perawatan Ivan diikuti Mama Luci.


"Gimana keadaannya, Van?" tanya Mama Luci sambil tersenyum.


"A... nggak parah, kok, Ma..." jawab Ivan gugup.


"Kalian nggak perlu jenguk kok, kan besok Saya sudah boleh pulang."


"Kita nggak jenguk, kita mau temenin Vin-vin tidur di sini," jawab Papi Al sambil membentangkan tikar tepat di sebelah bawah ranjang Ivan.


"Waduh..." gumam Ivan.


Sedang Vin-vin hanya terkikik sambil menutup mulutnya.