
Pelajaran pertama kelas XI IPS 1 adalah olah raga, Ivan sudah standby di lapangan basket sambil menunggu semua muridnya berkumpul.
Setelah semua lengkap, Ivan menepuk tangannya untuk mendapatkan perhatian dari semua anak muridnya itu.
"Perhatian semuanya, hari ini Saya ingin mencatat waktu lari jarak pendek kalian. Semuanya berjejer dua barisan untuk adu lari," teriak Ivan agar seluruh murid yang ada di lapangan basket mendengar.
"Yaahh... jangan lari dong Pak, basket aja ya," pinta salah seorang murid pria.
"Minggu kemarin kan sudah basket, masa basket terus," jawab Ivan.
"Sudah buruan yuk, sebelum tambah panas mataharinya."
Dengan enggan, para murid berbaris sesuai perintah Ivan. Lalu mulai berlari dan di garis finis ada Ivan yang memegang stop watch sambil mencatat waktu di sebuah buku besar.
"Eh, Lo liat Vin-vin nggak?"
Ivan yang tadinya fokus pada stop watch nya, tiba-tiba mulai mengikuti obrolan siswi nya yang secara tak sengaja terdengar oleh telinganya.
"Yang kemarin baru ultah itu ya? keren banget katanya pestanya," timpal yang lain.
"Iyalah, Papahnya kan orang terkenal. Nggak mungkin pestanya biasa aja."
"Maksud gue, Lo lihat nggak cara berjalannya pagi tadi? aneh banget kaya kaku gitu... jangan-jangan saat ulang tahun ke tujuhbelas, dia langsung di bobol dan sudah nggak perawan lagi..."
'Prak!' Stop watch yang di pegang Ivan terjatuh, dia terkejut dengan gosip yang di dengarnya.
"Dasar anak-anak jaman sekarang! isi kepalanya aneh-aneh terus!" kesal Ivan dalam hati.
"Masa sih? aku nggak percaya! emang kalau habis begitu jalannya kaku gitu?" balas teman yang lain.
"Ya katanya si begitu, gue nggak tahu juga. Gue kan nggak pernah, gila aja kita masih SMA cuy!"
"Ehem! Ehem!" Ivan sengaja berdehem dengan keras, mencoba membubarkan kumpulan siswi yang mulai asyik membicarakan Vin-vin.
Jelas saja Ivan tak terima, Vin-vin kan pacarnya dan yang paling penting adalah semua yang di bicarakan itu tidak benar!
"Sstt!! sssttt!!"
"Katanya Pak Ivan juga salah satu fans Vin-vin loh, dia pasti nggak terima kalau kita ngomongin doi nya..." bisik-bisik itu masih terdengar jelas di telinga Ivan.
Ivan mendengus dan menoleh ke arah gerombolan cewek yang masih terus bergibah itu.
"Kalian mau lanjutin ngobrol atau mau mengikuti pelajaran Saya? kalau kalian mau ngobrol, silahkan kembali ke kelas atau ke kantin!"
Gerombolan cewek tadi langsung menunduk, "maaf Pak..." ucap mereka kompak.
.
Saat Ivan sedang berjalan di koridor sekolah setelah jam pelajarannya usai, dia berpapasan dengan Vin-vin yang sedang berjalan santai dengan Mutiara, tampaknya mereka berdua hendak menuju kantin.
Saat melihat Ivan, Vin-vin langsung melonjak senang, matanya berbinar dan bibirnya tersenyum lebar. Tapi dia tetap berusaha berjalan seperti biasa walaupun sebenarnya dia ingin berlari mendekat.
Ivan memperhatikan cara berjalan Vin-vin, biasa aja nggak ada yang aneh, kenapa muridnya tadi bicara seperti itu.
"Kaki kamu sakit?" tanya Ivan saat Vin-vin sudah berada di dekatnya.
"Lumayan pegel gara-gara kemarin duduk di motor terlalu lama, kenapa Pak?"
"Nggak apa? udah hilang pegelnya?"
"Masih terasa sedikit, tapi aku tahan. Pada ngomongin aku sih! sebel!" Vin-vin cemberut.
Ivan mendesah, "kalau merasa lelah, ijin pulang saja."
Vin-vin hanya tersenyum sambil berlalu meninggalkan guru pujaannya yang sudah resmi jadi pacarnya.
Ivan masih terus memperhatikan Vin-vin, bisa melihat Vin-vin tersenyum dan tertawa dengan Mutiara membuatnya merasa lega.
Lalu Ivan pun melanjutkan perjalanan nya menuju ruang guru.
"Selamat siang semuanya, nama Saya Daniel. Saya akan menggantikan Bu Anna yang cuti hamil selama tiga bulan sebagai guru bahasa Inggris."
Ivan berjalan melewati seorang pria yang sedang memperkenalkan diri di tengah ruang guru.
Ivan jadi ingat jika salah satu guru wanita memang ada yang melahirkan dan belum ada penggantinya.
"Pak Daniel umur berapa?" tanya Bu Yosephine sangat antusias.
"Saya umur 23 tahun Bu," jawabnya sopan.
"Ya ampun... masih muda sekali ya. Jadi segar lihatnya. Semua guru-guru di sini sudah tua-tua soalnya," sambungnya sambil tertawa lirih.
"Halo Pak, mohon kerja samanya." Ucap si guru baru sambil duduk di sebelah meja kerja Ivan
Ivan mengangguk, "Saya Ivan guru olah raga."
"Sepertinya kita yang paling muda di sini ya bro?" bisik Daniel.
"Enak nggak jadi guru di sini?"
"Ya... lumayan," jawab Ivan acuh sambil menata buku-buku yang berantakan di meja kerjanya.
"Murid di sini cakep-cakep nggak?"
Ivan mengernyit sambil melirik ke arah Daniel yang masih tersenyum-senyum.
"Kenapa memangnya?"
"Ah.. nggak apa-apa..." Daniel masih tersenyum-senyum sambil mulai menata buku-buku nya di atas meja.
Ivan menatapnya curiga, guru macam apa yang peduli dengan kecantikan murid-murid nya? aneh!
***
"Vin! Vin!" teriak Mutiara sambil berlari menuju kursinya.
"Apaan sih Mut?"
"Tahu nggak? aku barusan dari kelas sebelah buat pinjem buku paket bahasa Inggris terus kata Rissa guru bahasa Inggris kita baru! cowok! ganteng! masih muda! lebih ganteng dari Pak Ivan!"
"Ck, nggak mungkin lebih ganteng dari Pak Ivan! dan lagi, aku nggak peduli. Aku sudah punya Pak Ivan." Jawab Vin-vin cuek sambil mengeluarkan buku pelajaran bahasa Inggrisnya.
"Hmm... coba aja kita lihat, beneran kamu nggak bakalan tertarik sama guru baru ini nanti? atau malah kamu bakal suka dan lupa sama Pak Ivan tersayang," Mutia masih asyik menggoda Vin-vin.
"Nggak bakal! sekali Pak Ivan tetap Pak Ivan!"
"Good afternoon..." tiba-tiba seorang lelaki muda berpakaian super rapih dengan rambut klimis dan kaca mata kotak, masuk ke dalam kelas Vin-vin.
Ternyata dialah guru baru yang di bicarakan Mutia barusan.
"Masih muda memang," batin Vin-vin. " Tapi nggak lebih ganteng dari Pak Ivan."
Selama pelajaran bahasa berlangsung, semua murid tampak sangat tenang, terutama murid wanita. Mereka tampak mencoba mengambil perhatian sang guru baru.
Beda dengan Pak Ivan, guru baru yang bernama Daniel ini sangat ramah, dia bahkan membalas rayuan anak muridnya dengan guyonan. Seketika dia menjadi guru favorit para siswi.
Mutiara pun tampak sangat memuja-muja si guru baru.
Vin-vin sampai heran, kenapa temannya ini gampang sekali mengatakan suka pada siapa saja yang menurutnya ganteng.
"Dasar Eemmuut..." gemas Vin-vin.
***
"Nama kamu Vincia?"
Vin-vin menoleh dan melihat Pak Daniel berdiri di belakangnya. "Eh, Pak Daniel."
"Kamu lagi ngapain di sini?"
"Saya lagi nunggu teman, dia lagi di toilet," Vin-vin membalas sambil tersenyum. Dia memang sedang duduk sendiri di sebuah bangku yang tak jauh dari toilet perempuan. Dia sedang menunggu Mutia.
"Boleh Saya duduk di sini?" Pak Daniel langsung duduk di sebelah Vin-vin.
"Ada apa ya Pak?"
"Saya perhatikan nilai bahasa Inggris kamu akhir-akhir ini menurun loh, mungkin kamu butuh les, Saya bisa bantu," tawar Pak Daniel.
"Oh.. nggak Pak terima kasih, Saya sudah ikut les kok."
"Atau kalau kamu mau nilai kamu jadi bagus... kita bisa ngobrol di luar sekolah, atau makan malam, kamu mau?"
Vin-vin bangun dari duduknya, "Saya... sibuk Pak."
"Sebentar, Saya belum selesai..." Pak Daniel meraih tangan Vin-vin.
"Pak Daniel! Anda sedang apa?!" terdengar suara dalam yang sangat penuh tekanan.
Vin-vin menoleh dan mendesah lega.
"Pak Ivan..."