Oh My Teacher

Oh My Teacher
Vin-vin goyah.


'Pagi, udah bangun belom?'


Sambil mengucek mata, Vin-vin menatap layar ponselnya. Dia seakan tak percaya, Pak Ivan mengiriminya pesan di jam lima pagi.


Dengan segera, Vin-vin memencet tombol hijau dan menelponnya.


"Hallo... kenapa si, Pak? pagi-pagi udah telpon... aku masi ngantuk..." gerutu Vin-vin.


Ivan terdiam, mendengar suara bangun tidur Vin-vin yang serak dan lembut.


Entah kenapa, jantung nya malah berdebar kencang.


"Eh, ehem.. nanti kita berangkat sekolah bareng, mau?" tanyanya sambil mencoba mengontrol emosi suaranya agar terdengar biasa.


"Nanti ketahuan temen-temen sama guru-guru, gimana?" Lagi-lagi suara Vin-vin terdengar sangat manja dan membuat Ivan melayang membayangkan yang tidak-tidak.


"Kita berangkat lebih awal, jam 6. Jadi sekolah masih sepi."


"Aahhh... masih ngantuk..." desah Vin-vin, kali ini benar-benar membangunkan sesuatu yang tersembunyi di bawah sana. Spontan Ivan menyilangkan kakinya.


"Ya udah kalau nggak mau," Ivan langsung menutup panggilan telponnya. Dia merasa tersiksa mendengar suara parau Vin-vin barusan.


"Dasar bocah, suka menyiksa!" gerutu Ivan sambil memelototi ponselnya.


Namun tiba-tiba saja, ponselnya berbunyi dan ada pesan masuk dari kekasih kecilnya.


'Jemput aku jam 6.' Bunyi pesan itu.


Ivan tersenyum lebar, "Yes!" kekasih kecilnya itu memang sangat penurut. Makanya Ivan semakin menyayanginya. Walau pada awalnya, dia sangsi dengan hubungan ini. Namun setelah mengenal Vin-vin, Ivan justru terperangkap dalam perasaannya sendiri dan tak ingin kehilangan Vin-vin.


"Dua tahun lagi, kita pasti menikah Vin. Aku tunggu kamu lulus sekolah..." gumam Ivan sambil tersenyum-senyum.


*


Tepat jam 6 pagi, Ivan sudah berada di rumah Vin-vin. Dia bertemu Mama Vin-vin yang sedang sibuk di taman kecilnya yang di tumbuhi bunga-bunga yang indah.


Mama Vin-vin sempat terkejut melihat kedatangan Ivan, namun dia tersenyum senang.


"Pagi... Ma..." sapa Ivan sambil masuk ke halaman rumah Vin-vin, dia memarkir motornya di luar pagar.


Mama Vin-vin tersenyum di kulum, dia merasa lucu dengan tingkah guru dari anaknya yang merangkap sebagai pacar itu. Dia pasti bingung, mau memanggilnya dengan sebutan apa.


"Pagi... mau berangkat sekolah atau ke mana nih? pagi bener?"


"Iya... Ma, mau berangkat sekolah sambil mampir dulu buat sarapan," jawab Ivan gugup.


"Kenapa nggak sarapan di sini aja?"


"Nggak ah, Vin-vin mau makan berdua aja sama Pak Ivan," sambar Vin-vin yang baru keluar dari dalam rumah.


"Ayo, Pak. Berangkat," Vin-vin menarik lengan Ivan dan menggiring nya ke luar menuju motor sport Ivan yang terparkir di luar pagar.


"Ada apa sih? tumben ngajakin berangkat bareng?" tanya Vin-vin saat dia sudah duduk manis di belakang Ivan.


"Nggak apa-apa, kangen aja, rasanya pengen berangkat sama pulang bareng terus..." jawab Ivan sambil tersenyum, walaupun Vin-vin tak bisa melihat senyumnya.


"Aneh, deh. Pak Ivan nggak lagi nyembunyiin apa-apa kan? kok kelihatannya sok baik banget," Vin-vin curiga.


"Apaan sih? ya udah kalau nggak mau, besok nggak usah berangkat bareng, selamanya juga nggak usah bareng..."


"Apaan sih!" ketus Vin-vin memotong ucapan Ivan, dia mencubit dengan perut Ivan dengan keras karena merasa kesal.


"Kalau ngomong jangan sembarangan, deh!" ketusnya.


Ivan kembali tersentum, lalu mengusap tangan Vin-vin yang melingkari perutnya, "Iya, maaf..." ucapnya.


Vin-vin cemberut, pagi harinya jadi badmood gara-gara ucapan Ivan barusan. Amit-amit deh, kalau sampai mereka nggak bisa barengan untuk selamanya.


***


"Pak Ivan beneran jemput, kan?" tanya Mutiara sambil memperhatikan Vin-vin yang tampak gelisah memandangi jam tangannya.


"Iya, Mut. Tadi dia bilang memang agak terlambat soalnya ada laporan yang harus di selesaikan lebih dulu. Udah kamu pulang aja, aku nggak apa-apa nunggu sendiri."


"Kalau ada yang macem-macem gimana?" tanya Mutiara, dia ragu harus meninggalkan Vin-vin sendiri di pelataran kafe d'best.


"Ya ampun, Emmuut... ini masih siang, di dalam juga rame. Nanti kalau masih lama, aku juga bakal masuk ke kafe sambil pesen minuman. Udah, deh, sana pulang." Vin-vin melambaikan tangannya untuk mengusir Mutiara dengan halus.


"Ya udah, deh." Mutiara mulai menekan tombol stater. "Tapi nanti kalau Pak Ivan nggak datang juga, atau batal. Kamu telpon aku ya, biar aku jemput."


"Ya ampun Eemmut, kamu lagi kenapa sih? heran deh! nggak kaya biasanya kamu cerewet gini!"


Mutiara menggaruk hidungnya, "Iyaa nih, aku juga nggak tau. Perasaanku nggak enak aja, ninggalin kamu sendiri di sini," ucap Mutiara sambil mendesah.


"Ya udah deh, aku pulang dulu ya, dah..."


"Dah..." Vin-vin melambaikan tangannya sambil menatap kepergian Mutiara.


Setelah Mutiara dan motor maticnya tak tampak lagi, Vin-vin mendesah lalu berjalan memutar, dia akan masuk saja ke dalam kafe, dari pada menunggu sampai lumutan di pinggir jalan begini.


"Pak Ivan bikin laporan apa sih, lama banget!" gerutu Vin-vin sambil berjalan perlahan dan kembali menengok ke jalanan, siapa tau Ivan muncul.


"Hey, bocah bau kencur. Lo, pacar Ivan, kan?"


Vin-vin menghentikan langkahnya saat mendengar suara yang sangat dia kenal.


Dalam hati Vin-vin mengumpat kesal karena harus bertemu wanita yang ingin dia hindari ini.


"Heh! di ajak ngomong, diem aja! dasar nggak sopan!" Ucap Rissa lantang.


"Aku nggak ada urusan sama kamu!" jawab Vin-vin cuek sambil terus berjalan meninggalkan Rissa.


"Hey!" Risa dengan cepat menyambar tangan Vin-vin dan menariknya. "Lo nggak ingin dengar cerita gue? nyesel Lo, kalau nggak tau cerita ini!"


"Ck! apaan sih!" Vin-vin mencoba menghempaskan tangan Rissa, namun Rissa menggenggam terlalu erat hingga Vin-vin sulit melepaskan diri.


"Hubungan gue dan Ivan sudah jauh! bahkan melebihi hubungan Ivan dengan Rina, tunangananya! Itulah kenapa, gue kejar-kejar Ivan kaya orang gila! Apakah gue salah, meminta pertanggung jawaban Ivan. Dia sudah mengambil keperawanan gue! dan gue ingin dia bertanggung jawab. Gue nggak mau, kejadian yang menimpa gue ini, terjadi juga sama Lo! Lo masih muda. Hidup Lo masih panjang!" Mata Rissa tampak berkaca-kaca.


Vin-vin tercekat saat mendengar ucapan Rissa, kakinya terasa membantu dan tak bisa di gerakan. Bahkan rasanya dia sudah tidak berpijak di tanah.


"Dan karena kejadian itu juga lah yang membuat Rina sampai meninggal. Dia memergoki kami sedang berada di atas ranjang berdua, lalu dia marah dan menandakan dirinya sendiri. Dia bunuh diri." Rissa terdiam sebentar sambil menghapus air mata nya dengan tissue.


"Apa Ivan nggak pernah cerita, kenapa Rina meninggal?"


Mata Vin-vin membola, jantungnya berdebar semakin kencang. Ucapan Rissa berbeda dari ucapan Pak Ivan. Manakah yang harus Vin-vin percaya?


Kepala Vin-vin rasanya berputar-putar dan dia hampir pingsan karenanya.


Buru-buru Vin-vin meninggalkan Rissa dan menyetop taksi yang kebetulan lewat dan dia langsung menaikinya.


Rissa tersenyum puas melihat kepergian Vin-vin.


Dia mengambil sepuntung rokok dan membakarnya lalu menghisap nya dalam-dalam.


"Bocah naif! gampang di tipu! bego!" gumamnya sambil menyeringai.


Lalu dia mengambil ponselnya dan mulai menelpon.


"Halo, Dan.. rencana Lo tokcer juga! Lo bener, gue harus tampak memelas di depan bocah itu. Dia langsung percaya omongan gue, apalagi tadi gue berakting mau nangis... hahaha... bego banget dia!"


"Oke, kita ketemu lagi nanti malam. Kita buat rencana selanjutnya, sambil bersenang-senang... hahaha..."