
Tak lama setelah kepergian Vin-vin dari kafe D'best, Ivan tiba dan mencari-cari keberadaan kekasihnya itu.
"Kemana dia? harusnya sudah sampai, kan?" gumam Ivan sambil celingukan mencari keberadaan Vin-vin.
Ivan memarkir motornya, kemudian masuk ke dalam kafe. Mungkin saja, Vin-vin menunggunya di dalam kafe karena dia terlalu lama tak muncul. Namun saat berada di dalam Kafe, Ivan tak juga menemukan keberadaan Vin-vin.
"Kemana dia?" gumamnya lagi. Lalu Ivan memutuskan mengambil ponselnya dan menelpon Vin-vin. Tapi panggilan telpon nya pun tak di angkat oleh Vin-vin.
Ivan makin merasa heran, karena biasanya Vin-vin selalu mengangkat panggilan telponnya di dering pertama.
"Apa mungkin dia marah karena menunggu terlalu lama?" ucap Ivan bermonolog lalu kembali menelpon Vin-vin.
Karena panggilan telponnya tak juga di angkat, Ivan memutuskan mengiriminya pesan.
'Kamu di mana?'
Pesan dari Ivan sudah di baca, namun tak di jawab. Ivan mengerutkan dahinya, heran.
'Kamu kenapa?'
Lagi-lagi hanya di baca, tanpa di jawab.
"Ada apa sih?"
Karena merasa ada sesuatu yang aneh, Ivan memutuskan untuk pergi ke rumah Vin-vin. Dia pasti ada di rumah kan?
Entah kenapa Ivan merasa telah terjadi sesuatu dengan Vin-vin saat dia tak ada. Dan kini dia merasa cemas.
Dia harus bergegas menemui Vin-vin dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, karena Vin-vin tak pernah bertingkah se-aneh ini sebelumnya.
"Permisi," ucap Vian sambil berdiri di dekat pagar rumah dua lantai milik orang tua Vin-vin.
"Permisi!" ucapnya lebih keras, karena belum juga mendapatkan jawaban.
"Kenapa Om? nyari siapa?" sahut seorang anak laki-laki dari ambang pintu ruang tamu yang terbuka.
"Vin-vin nya ada?" jawab Ivan, karena dia tahu anak laki-laki itu adalah adik Vin-vin.
"Kak Vin-vin bilang, kalau ada yang nyari dia, suruh bilang nggak ada," jawab Devan dengan polosnya.
"Bilang sama Kak Vin-vin, yang datang Pak Ivan," jawab Ivan lagi.
Devan menggelengkan kepala, "Dia nggak mau ketemu siapapun! kecuali Papah, Papi dan Mama..."
Ivan terdiam, ini semakin aneh saja - pikirnya.
Ada apa dengan Vin-vin? bukannya tadi pagi semua masih baik-baik saja?
"Devan, Om minta tolong, kali ini saja. Bantu Om ya, biar bisa ketemu Kak Vin-vin. Please," pinta Ivan, memohon dengan sungguh-sungguh.
Ivan tak akan bisa berbuat apa-apa jika dia tak tahu sebab Vin-vin ngambek dan tak mau bertemu dengannya.
"Nanti Om top-up in robl*x deh," rayu Ivan.
"Oke!" Devan langsung mengangguk setuju. Ya, game itu adalah favoritnya. Dan dia sering di marahi Mama karena selalu minta top-up terus. Kebetulan Ivan menawarinya, tentu saja dia dengan senang hati termakan rayuannya. Biarlah kakaknya marah, yang penting dia bisa bermain game favorit nya.
Devan membuka pintu pagar dan membiarkan Ivan masuk.
"Makasih ya De', nanti setelah pulang dari sini, Om langsung top-up in deh," ucap Ivan sambil berjalan masuk.
"Ok deh, Om. Kamar kakak ada di lantai 2," sahut Devan sambil kembali menutup pintu pagar dan menguncinya.
*
"Vin?" panggil Ivan lirih dari balik pintu kamar Vin-vin.
Ivan dengan mudah menemukan kamar Vin-vin karena di pintu kamarnya tergantung stiker lucu bertuliskan namanya.
"Vin? ada apa? ayo ngomong, Vin. Jangan diam saja, jangan bikin aku bingung..." bisik Ivan. Dia berusaha menahan suaranya agar tak terlalu keras karena takut di dengar oleh penghuni rumah ini.
"Aku nggak mau ketemu kamu lagi!" teriak Vin-vin dari dalam kamar.
"Kenapa? salah ku apa? tolong kasih tau!"
Tiba-tiba pintu kamar Vin-vin terbuka dan muncullan Vin-vin dengan muka sembab dan pipi basah karena air mata.
"Kenapa sih, Pak Ivan nggak pernah bisa jujur sama aku! Pak Ivan selalu anggap aku anak kecil dan nggak pernah menghargai perasaanku!" pekik Vin-vin, emosi.
Ivan tercekat. Dia shock mendengar teriakan Vin-vin yang tampak sangat emosi.
"Vin.. tenang dulu, sayang..." Ivan mencoba meraih pundak Vin-vin dan menenangkannya namun Vin-vin malah menepis tangannya.
Vin-vin menangkup wajah dengan kedua tangannya dan terisak.
"Aku... aku bakal menerima apapun.. apapun kekurangan dan kelebihan kamu.. asal kamu jujur. Cuma itu yang aku mau," Vin-vin terisak.
"Aku nggak masalah kalau kamu pernah tidur dengan Rina atau Rissa atau siapapun itu, karena itu masa lalu kamu, semuanya terjadi sebelum bertemu denganku.. aku bisa menerimanya.. Tapi, aku benci karena kamu nggak jujur sama aku! dan aku lebih benci lagi karena aku tau semuanya dari mulut orang lain..." ucap Vin-vin sambil terisak.
"Seandainya... seandainya.. kamu sudah memberitahuku sebelumnya, aku nggak akan sesakit ini, terlihat seperti anak kecil bodoh yang sudah di bohongi di depan kalian semua.. Orang-orang dewasa...aku merasa seperti di permainkan oleh kalian.. nggak ada yang benar-benar menganggap keberadaanku! termasuk kamu!"
"Aku... nggak... bermaksud... " Ivan terbata.
"Iya kan? selama ini kamu masih menganggap aku anak kecil! aku nggak pantas buatmu! nggak pantas mendapatkan kepercayaanmu! apa? apalagi yang kamu sembunyikan dari ku? apa?! kamu ingin aku di permalukan seperti apa lagi? aku kaya kambing congek, tolol yang nggak tau apa-apa waktu Rissa cerita semua tentang masa lalu kalian. Aku bahkan nggak tau harus memasang tampang yang bagaimana sewaktu mendengar cerita yang menjadi rahasia kalian. Aku kesal! karena mendengar semuanya dari mulut Rissa! aku kesal!" Vin-vin histeris dan berteriak-teriak.
"Vin, dengar dulu penjelasanku..." pinta Ivan sambil ingin meraih tangan Vin-vin, namun dengan cepat Vin-vin menepisnya kemudian menyembunyikan kedua tangannya ke belakang hingga Ivan tak bisa menggapainya.
"Sudah terlambat! aku nggak mau dengar apapun lagi, paling juga aku cuma di bohongi! aku nggak percaya lagi!" Vin-vin masuk dan membanting pintu kamarnya dengan keras, membuat Ivan terperanjat dan mematung tanpa bisa berbuat apa-apa.
"Rissa!!!" geram Ivan sambil mengatupkan rahang.