Oh My Teacher

Oh My Teacher
Mulai bucin.


‘Aku bete!’


Ivan menatap layar ponselnya dan membaca chat dari Vin-vin.


‘Kenapa?’


‘Itu gara-gara Pak Kuda Nil! Ngapain sih dia segala datang ke sini!’


‘Kita kan jadi nggak bisa deket-deketan.’


Ivan tertawa lirih.


‘Malah ketawa! pacarnya sedih kok tertawa!’


Ivan mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk dan mencari keberadaan Vin-vin.


Ternyata Vin-vin sedang duduk di belakang meja kasir sambil cemberut dan memandangi dirinya.


‘Trus aku harus gimana biar kamu nggak cemberut gitu? Jelek ah!’ balas Ivan.


‘Tau ah gelap!’


‘Dasar pacar nggak romantis!’


Ivan mendesah, “dasar bocah,” gerutu Ivan.


“Kenapa Van?” tanya Daniel yang dari tadi memperhatikan Ivan yang sangat sibuk dengan ponselnya.


“Eh, kenapa? Nggak ada apa-apa.”


Ivan terdiam sambil memutar ponselnya mencoba berpikir bagaimana caranya membuat pacar kecilnya itu senang dan nggak ngambek lagi.


“Lho Van! Lo mau ke mana?” Dion kaget saat melihat Ivan bangun dari duduknya. Mungkinkah Ivan mau pulang? Dion bahkan belum selesai makan, steik nya masih separuh, sayang banget kalau nggak di habiskan. Tapi kalau Ivan pulang dan dia di tinggal bersama Daniel, Dion memilih meninggalkan steik daging import nya dan ikut pulang.


“Gue mau ke panggung sebentar.” Ivan pun berjalan ke panggung kecil yang sedang kosong karena tak ada live musik.


Ivan menata sendiri kursi dan microfon lalu mengambil sebuah gitar akustik yang di sediakan di sisi panggung.


“Tes! Tes! Lagu ini gue persembahkan buat cewek gue yang lagi ngambek,” ucap Ivan lewat microfonnya sambil memandangi Vin-vin.


Para tamu kafe pun bersorak senang karena sedari tadi kafe begitu sepi tanpa live musik, ya walaupun ada musik yang di putar tapi tetap beda rasanya dengan musik langsung dari atas panggung.


Setelah berdehem beberapa kali, Ivan pun mulai menyanyi.


“If you ever leave me, baby


Jika kau hendak tinggalkanku, kasih


Leave some morphine at my door


Tinggalkanlah morfin di pintu


Cause it would take a whole lot of medication


Karena pasti aku kan butuh banyak obat


To realize what we used to have


Sadari apa yang dulu kita miliki


We don't have it anymore


Kini tak ada lagi


There's no religion that could save me


Tak ada agama yang bisa selamatkanku


No matter how long my knees are on the floor, oh


Tak peduli berapa lama aku berlutut di lantai, oh


So keep in mind all the sacrifices I'm making


Maka ingatlah selalu pengorbananku


Will keep you by my side,


Kan (ku)pertahankan dirimu tetap di sisiku


will keep you from walking out the door


Kan (ku)tahan agar kau tak lewati pintu itu


Cause there'll be no sunlight if I lose you, baby


Karna takkan ada lagi sinar mentari jika aku kehilanganmu, kasih


There'll be no clear skies if I lose you, baby


Takkan ada lagi langit cerah jika aku kehilanganmu, kasih


Just like the clouds my eyes will do the same


Seperti halnya mendung, mataku kan sama dengannya


If you walk away, every day it will rain, rain, rain


Jika kau pergi tiap hari kan turun hujan, hujan, hujan


#It will rain (Bruno Mars)


Setelah selesai bernyanyi, Ivan memandangi Vin-vin yang tampak sangat senang. Berulang kali dia mengacungkan jempolnya dan memberikan ciuman jarak jauh pada Ivan.


Setelah Ivan meletakkan gitarnya, tepuk tangan pun menggema. Semua tamu kafe tampak terhipnotis dengan suara merdu Ivan dan petikan gitarnya yang indah.


Sebenarnya Ivan sedikit malu tapi dia ingin menyenangkan Vin-vin, hanya cara inilah yang ada dalam pikirannya, dan tampaknya berhasil karena wajah vin-vin tampak berbinar bahagia.


Ivan menoleh dan melihat Papi Aldrich berdiri di dekat panggung.


“Oh, Papi nya Vin-vin. Mau jemput Vin-vin ya?” Ivan mendekati Aldrich dan menyalami tangannya dengan hormat.


“Kamu mau jadi penyanyi? Aku punya kenalan produser musik loh atau mau jadi model? Wajah kamu bisa banget buat jadi model, body kamu juga lumayan. Ada keinginan mau jadi model?” Ajak Aldrich sambil menepuk-nepuk bahu Ivan.


“Waduh, Saya nggak ada pasion di dunia model Om, eh Pak...”


Aldrich tertawa, “Saya tahu kamu lagi deket sama Vin-vin. Panggil Ssaya Om juga nggak apa-apa.”


Ivan mengangguk, “Iya Om,” Wajah Ivan sedikit merona.


Papi Aldrich tahu hubungan Ivan dengan putrinya tapi dia tetap bersikap ramah, apakah ini berarti Ivan sudah mengantongi restu dari Papi Vin-vin?


“Saya permisi mau balik dengan teman-teman, Om.”


“Ok, jangan lupa kalau berubah pikiran, hubungi Saya.”


Ivan tertawa kecil, “siap Om.”


Ivan pun berjalan kembali menuju meja nya, dan dia langsung di sambut tepukan tangan oleh Dion.


“Lo keren banget bro! Ternyata kalau bucin Lo jadi romantis ya?”


“Apaan! Gue nggak bucin!” Ivan duduk dengan kesal karena omongan Dion. Siapa bilang dia bucin? Dia biasa aja kok!


‘Klik. Klik.’


Ivan membuka ponselnya dan melihat chat yang baru sasja di kirimkan Vin-vin.


‘I Luv U’ dengan lambang hati berwarna merah memenuhi layar ponsel Ivan.


Ivan langsung tersenyum dan wajahnya memerah. Lucu sekali Ivan bisa salah tingkah seperti ini hanya karena bocah bau kencur.


“Eh, si Daniel kemana? Sudah pulang?” Ivan baru sadar jika Daniel sudah tidak duduk di kursinya. Ivan si seneng aja kalau dia beneran sudah pulang.


“Ke toilet katanya,” jawab Dion cuek sambil menghabiskan minumannya.


“Pulang aja yuk bro! Makanan gue sudah abis. Lagian ada si Daniel, nggak asyik lah!”


Ivan melirik sinis ke arah Dion, “nggak bilang makasih dulu ke Vin-vin! Lo kan di traktir dia.”


“Iyalah, yuk kita cari cewek Lo,” Dion bangun dari duduknya.


Ivan sebenarnya masih betah di kafe, tapi kalau Dion pulang dan dia harus semeja dengan Daniel? Mending nggak deh! Kecuali kalau Daniel nggak ada, mungkin dia bisa melanjutkan ngobrol berdua dengan Vin-vin.


Memang Kuda Nil itu pengganggu, dasar tamu tak di undang!


“Di mana cewek Lo?” Dion celingukan, matanya menyusuri seluruh ruang kafe namun dia tak menemukan sosok cantik yang di carinya.


“Iya kemana dia? Tadi ada di dekat kasir...” Ivan pun ikut penasaran.


“Sebentar coba gue telpon dia,” Ivan mengambil ponselnya dan langsung menelpon pacar kecilnya itu.


“Di mana kamu?” tanyanya to the point saat Vin-vin mengangkat telpon.


“Aku di deket toilet...”


“Ayolah Vin. Buat permulaan Saya kasih diskon deh...”


“Suara siapa itu?!” Ivan mendengar suara lelaki yang tampak tak asing. “Itu Daniel? Sedang apa dia!” tanpa menunggu jawaban Vin-vin, Ivan langsung berlari menuju toilet.


Saat sampai di toilet dan melihat Daniel yang menahan Vin-vin agar tak bisa keluar karena dia berdiri di ambang pintu, Ivan langsung emosi. Dengan kasar dia menarik bahu Daniel hingga membuat Daniel terdorong kebelakang dan hampir terjatuh.


“Siapa yang...” Daniel langsung terdiam saat melihat Ivan dengan wajah memerah menahan marah.


“Anda sedang apa di sini Pak Daniel!” geramnya.


Dion yang dari tadi membuntuti Ivan pun tampak kesal, dia mendekati Vin-vin dan menanyakan keadaannya.


“Saya hanya menawarkan les kok Pak Ivan, Anda jangan emosi dong, memangnya Saya melakukan apa?” Daniel tampak tak merasa bersalah sama sekali.


“Apa nggak ada tempat yang lebih pantas untuk mengobrol, selain di toilet?! Anda guru tapi kenapa nggak punya akal sehat!”


“Maksud Anda, Saya gila?!” kali Ini Daniel tampak sedikit tersinggung, emosinya pun terpancing keluar.


“Bukan Cuma Ivan, gue juga kira Lo punya gangguan mental! Ngajak ngobrol anak gadis kok di toilet! Sinting!” Dion membela Ivan, dia pun siap jika harus berantem saat ini juga.


“Bilang apa Lo? Sinting?!...” Daniel emosi dan hampir memukul Dion.


“Ada apa ini ribut-ribut di sini?”


“Lo nggak usah ikut campur, ini bukan urusan Lo!” Daniel makin emosi dengan kedatangan seorang pria asing yang belum pernah di lihatnya. Kenapa semua orang senang sekali mengganggu dirinya.


“Oke, kalau mau buat keributan, keluar saja dari sini! Jangan bikin ribut di tempat usaha orang!”


“Van, Lo urus temen Lo yang emosi ini, jangan sampai bikin masalah di resto Bang Kevin.”


“I.. iya Om, maaf Om.” Ivan mengangguk, dia merasa malu.


“Ayo Vin, pulang!”


“Iya Pih..” Vin-vin mengangguk lalu berjalan mengikuti Papi nya.


“Pih? Si.. siapa orang itu Van?” Dion tampak bingung.


“Itu Papi nya Vin-vin,”jawab Ivan.


“Lho.. bukannya ayahnya Vin-vin itu chef Kevin?” Daniel ikut bingung.


“Chef Kevin itu ayah kandung Vin-vin, dan Om Aldrich itu ayah sambung Vin-vin.”


Daniel membatu di pojokan.