
"Cita-cita Pak Ivan itu sebenarnya apa?" Vin-vin menggigit pizza sambil menatap Ivan yang duduk di sebelahnya.
Ivan yang awalnya sedang asyik menonton Televisi, langsung menoleh ke arah Vin-vin. Dia terlihat berpikir sejenak.
"Sebenarnya aku ingin jadi atlet basket, tapi kan kamu tau sendiri, aku sudah tak mungkin jadi atlet karena cidera waktu itu." Ivan menenggak colla nya.
"Kalau misal jadi atlet, kan ada batas umur gitu ya? kalau sudah pensiun? nganggur dong?" Vin-vin menatap mata kekasihnya.
"Kan, aku bisa jadi coach. Jadi pelatih atlet atlet baru." Ivan menggigit potongan pizza yang ada di tangan Vin-vin.
"Kenapa nggak jadi coach aja? kenapa malah pindah haluan jadi guru?" Vin-vin makin penasaran.
Ivan terdiam lagi, dia menggaruk-garuk alisnya sambil berpikir.
"Sebenarnya... Rina yang menyuruhku untuk menjadi guru..." Ivan menatap Vin-vin, cemas.
Vin-vin terdiam, dia meletakkan pizza nya di atas piring. Sambil menghela napas, dia menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
Vin-vin sedang berada di apartemen Ivan. Sepulang sekolah, tanpa memberitahu Ivan, dia sudah berada di depan pintu apartemen saat Ivan pulang kerja.
Vin-vin sedang merasa sangat bahagia karena merasa Ivan sudah mulai terbuka dengan perasaannya, makanya dia ingin terus berada di dekat kekasihnya itu. Namun setelah mendengar ucapan Ivan barusan, moodnya langsung terjun bebas.
Ivan yang tahu perubahan sikap Vin-vin langsung tersenyum. Dia memperbaiki posisi duduknya agar menyamping dan bisa menatap Vin-vin dengan intens.
"Kenapa?"
"Ternyata... aku memang belum bisa menyaingi Rina," gumamnya.
"Jangan konyol," Ivan menjitak pelan kepala Vin-vin.
Vin-vin tak merespon, dia diam seribu bahasa.
"Terus kamu mau aku bagaimana? aku resign? aku cari kerjaan lain?"
Vin-vin masih diam.
"Oh ya!" Ivan menepuk tangannya sekali. "Apa lebih baik aku jadi model? kaya Papi? soalnya waktu itu Papi kamu nawarin aku buat jadi model." Ivan bangun dari duduknya.
Lalu bergaya bak model papan penggilesan.
"Gimana? cocok?"
"Gak!" teriak Vin-vin.
"Jangan jadi model! aku nggak mau!" Vin-vin makin kesal.
Ivan terkekeh saambil menatap kekasih kecilnya yang tampak menggemaskan saat ngambek.
Ivan berlutut di depan Vin-vin, tangannya meremas jemari Vin-vin.
"Aku janji, setelah modalku cukup, aku akan resign dan memulai bisnisku sendiri."
Vin-vin menganggukkan kepalanya.
"Senyum dong," pinta Ivan.
Vin-vin pun menurut. Dia tersenyum sampai memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Cantik," gemas Ivan sambil mencubit pipi chubby Vin-vin. Buru-buru Ivan bangun, kalau dia berlutut terlalu lama, bisa-bisa kakinya terasa sakit lagi.
"Aku ada pertanyaan lagi!" seru Vin-vin.
Ivan mendesah. Baru saja dia merasa lega, eh, sekarang langsung sport jantung lagi.
"Apa lagi?"
"Sudah sejauh apa hubungan kamu sama Rina?" Vin-vin mendongak agar bisa menatap mata Ivan. Dia ingin tau apakah Ivan akan bicara jujur atau tidak.
"Sejauh apa bagaimana? kan kamu sudah tau kalau kami bertunangan."
"Maksudku... sudah sejauh apa hubungan kalian... maksudku... apa saja yang sudah pernah kalian lakukan berdua..." Vin-vin terbata-bata saat mengajukan pertanyaan sensitif itu pada Ivan.
"Yang sudah pernah kami lakukan? ya, kemping. Shoping, diving, Jalan-jalan muter-muter kota. Nonton bioskop terus..."
"Bukan itu!" bentak Vin-vin kesal.
"Maksudku itu hubungan fisik! kalian sudah sejauh mana..."
Ivan terkekeh, dia sebenarnya tau apa maksud dari pertanyaan Vin-vin, namun dia sengaja pura-pura bodoh dan menjawab asal-asalan.
"Jangaan mau tahu, nanti kamu sakit hati," ucapnya lirih tepat di telinga Vin-vin.
Vin-vin langsung cemberut. Bibirnya bahkan mengerucut. Ivan makin gemas dibuatnya.
"Kalian pasti sudah pernah tidur..." Vin-vin tak sanggup melanjutkan ucapannya.
"Kita juga sudah pernah tidur bareng. Kamu lupa kejadian kemarin?" Ivan seketika terdiam. Karena secara tidak langsung dia membuat Vin-vin dan dirinya sendiri mengingat kejadian itu. Bukan tentang tidur di ranjang Ivan, tapi kejadian setelahnya.
Sontak wajah Ivan merona.
"Sudah lah! makan pizza nya, keburu dingin nggak enak." Ivan salting, lalu dia mengambil remot TV dan mengganti saluran. Namun ternyata, di layar TV nya malah muncul film yang sedang beradegan romantis.
Jantung Ivan serasa mau meledak karena kaget, lalu buru-buru dia mematikkan TV nya.
"Kok, di matiin?" tanya Vin-vin.
"Itu ada adegan dewasa, kamu belum boleh nonton." Ivan menarik tangannya yang tadi bersandar manja di pundak Vin-vin. Rasanya menyentuh kulit Vin-vin membuat jantungnya memompa lebih cepat. Sepertinya adegan di film tadi membuat sesuatu dalam diri Ivan terbangun.
Vin-vin mendesah kesal. "Terus kita ngapain? kalau TV nya di matiin gitu." Vin-vin menoleh, tanpa dia sadari tangannya dia letakkan di atas paha Ivan, membuat Ivan menahan napasnya untuk sesaat.
"Ma-makan pizza," Ivan mengambil sepotong pizza dan memakannya.
Dengan cepat Vin-vin mengambil Pizza dari tangan Ivan, lalu dia menatap Ivan dengan lekat.
"Lanjutin yang kemarin..." pintanya manja sambil menggoyang-goyangkan paha Ivan yang hanya memakai celana pendek.
"Nggak!" tolak Ivan mentah-mentah.
Vin-vin bangun dari duduknya dan dengan cepat duduk tepat di pangkuan Ivan, tangannya menyentuh tengkuk Ivan dan mereka saling bertatapan.
"Vin.. jangan mancing-mancing, deh!" kesal Ivan.
Vin-vin tak peduli, dia menempelkan bibirnya dan mulai menciumi bibir tipis Ivan.
"Aku ingin, kamu lupa semuanya dan hanya mengingatku saja!" gumam Vin-vin sambil kembali mengecup bibir Ivan.
Ivan akhirnya menyerah, dia pun membalas ciuman Vin-vin. Lagi pula siapa sih yang bisa bertahan jika di sodori bibir mungil nan kenyal ini.
"Ahmm..." desah Vin-vin, saat tangan Ivan mulai naik dan memijit lembut dua buah ranum milik Vin-vin.
Entah bagaimana, Tiba-tiba Vin-vin mulai menggerak-gerakkan bokongnya tepat di atas adik kesayangan Ivan dan itu membuat Ivan terbelalak.
"Vin!"
Vin-vin memejamkan matanya sambil terus menggerakkan pinggulnya hingga dia mendesah panjang lalu terdiam dan melepaskan ciuman bibirnya.
"Apa-apaan barusan?" kaget Ivan.
"Siapa yang ngajarin kamu!"
"Nggak ada, cuma rasanya enak aja..." gumam Vin-vin sambil merapatkan kedua bibirnya, dia sedikit malu pada Ivan.
"Astaga!" Ivan mengusap wajahnya dengan kasar, "bisa gila aku kalau begini! harus buru-buru halalin kamu biar nggak di bunuh sama dua Papi kamu!"
Vin-vin tersenyum kecil sambil menjulurkan lidahnya, "maaf," ucapnya tanpa penyesalan sedikitpun.
"Buruan turun!"
"Nggak mau, enak..." Vin-vin kembali menggoyangkan pinggulnya, miliknya merasakan milik Ivan yang menonjol dan itu membuatnya ingin terus menggoyangkan pinggul. Vin-vin memang sudah gila.
"Vincia!" pekik Ivan frustasi.
***
Vin-vin terkekeh sendiri saat mengingat kejadian kemarin di apartemen Ivan. Wajah Ivan yang berusaha keras menahan keinginannya sungguh sangat menggemaskan. Vin-vin jadi ingin cepat-cepat lulus sekolah kemudian menikah dengan kekasih hatinya itu.
Terburu-buru memang, tapi Vin-vin tak mau kehilangan Ivan. Jika mereka sudah terikat, bukankah Vin-vin sudah bebas untuk bersama dengan kekasihnya itu setiap hari? tanpa rasa takut Ivan akan di rebut wanita lain?
Sambil berjalan menyusuri lorong sekolahnya, Vin-vin asyik memainkan ponsel. Dia sedang mengirim pesan untuk Ivan sambil tersenyum penuh kebahagiaan.
"Ck! ck! ck! anak muda jaman sekarang! jalan pun sambil melamun!"
Vin-vin terkejut, dia menatap sosok wanita yang berdiri berkacak pinggang di depannya.
"Rissa!"