
‘Tok! Tok! Tok!'
Ivan terbangun dari tidurnya karena mendengar suara ketukan pintu. “Siapa sih, pagi-pagi sudah datang, ganggu aja orang lagi tidur,” gumamnya sambil mengucek mata.
Dengan langkah di seret karena masih sangat mengantuk, Ivan berjalan menuju pintu keluar.
“Siapa...?’ gumamnya sambil membuka pintu.
“Pagi Pak Ivan...” Sapa Vin-vin ceria.
“Ngapain kamu? Jam berapa ini?” Vin-vin sukses membuat Ivan terkejut.
Vin-vin menengok jam tangannya, “Jam enam lewat lima menit,” ucapnya sambil nyengir.
“Aku ingin ajak Pak Ivan jalan-jalan,” sambungnya.
“Jalan-jalan kemana sepagi ini?!”
“Ya kemana aja, yang penting kita jalan-jalan. Mumpung hari libur, kan kita sudah jadian... tapi sebelum itu...” Vin-vin memandang Ivan dari atas kepala sampai ujung kakinya sambil tersenyum.
Rambut guru tersayangnya yang biasanya tertata rapi sekarang tampak acak-acakan karena baru bangun tidur, dan dia hanya memakai boxer warna hitam tanpa atasan.
Tubuh atletis Ivan terpampang jelas membuat Vin-vin tak bisa berkedip karena pemandangan indah itu.
“Apaan?” tanya Ivan sambil menatap curiga ke arah muridnya yang semalam baru saja resmi menjadi pacarnya. Akhirnya Ivan sadar dengan tatapan aneh muridnya itu, dengan segera dia menutup dadanya yang terbuka lebar dengan kedua tangannya.
“Jaga mata kamu Vin!” kesalnya sambil berbalik meninggalkan Vin-vin di ambang pintu.
“Apaan sih? Orang Pak Ivan yang kasih liat ya aku pandangi lah, mubazir dong pemandangan indah di biarkan berlalu begitu saja.” Vin-vin mengerucutkan bibirnya sambil berjalan masuk ke dalam apartemen gurunya.
“Aku mau mandi dulu,” ucap Ivan sambil berlalu menuju kamar mandi.
Vin-vin mengangguk lalu berjalan menuju mini pantry, dia berniat membuat sarapan untuk Ivan sebelum mereka berangkat jalan-jalan.
Vin-vin membuka kulkas dan melihat isinya, “bikin apa ya enaknya?” gumamnya bermonolog.
“Ada Roti tawar hampir kering, ckckck... ada telor, kornet sapi, keju.. hmm... oke deh bikin itu aja,” Vin-vin mengambil beberapa bahan yang akan dia gunakan untuk memasak dan meletakkannya di meja, kemudian mulai sibuk meracik.
Ivan yang baru keluar dari kamar mandi, terhenti sejenak di ambang pintunya. Hidungnya di penuhi bau wangi masakan dari mini pantry miliknya.
Perutnya sekonyong-konyong langsung bernyanyi minta diisi.
Dengan rambut yang masih basah dan hanya memakai handuk yang melilit di pinggang, Ivan berjalan menuju pantry. “Kamu masak apa? Wangi banget?”
“Aku bikin Roti John sama kopi hit...am,” Vin-vin melongo melihat Ivan yang tampak sangat ******, dengan tubuh yang masih setengah basah dan wangi sabun yang sangat maskulin menyeruak di hidungnya, dan rambut basah yang masih acak-acakan itu otomatis menghipnotis Vin-vin dan membuatnya terdiam.
“Sorry,” Ivan langsung berbalik dan berjalan cepat menuju kamarnya. Membuka lemari bajunya dan mengambil satu stel pakaian yang akan dia kenakan dan kembali masuk ke kamar mandi. Dia tak bisa mengganti baju di kamarnya karena tak ada sekat di sana, bisa-bisa Vin-vin menjerit saat melihatnya berganti baju.
Setelah selesai berpakaian, Ivan keluar dan langsung berjalan menuju pantry, duduk dengan tenang sambil memandangi roti john buatan Vin-vin dan kopi hitam yang mengepul. Nikmat sekali tampaknya.
“Kamu buat ini semua?” tanyanya takjub.
“Iyalah, memangnya siapa lagi?” Vin-vin tersenyum sambil duduk di sebelah Ivan. “ayo makan,” ucapnya sambil mendekatkan sepiring roti buatannya ke dekat Ivan.
“Baunya wangi banget...” Ivan mengambil satu buah roti dan menggigitnya.
“Enak?” tanya Vin-vin.
Ivan memejamkan matanya sambil mengacungkan jempolnya, dia keenakkan. Setelah rotinya habis, dia langsung meneguk kopi hitamnya. “Arrgghh... kopinya juga nikmat sekali...”
Vin-vin tersenyum memandangi Ivan yang asyik menghabiskan roti dan kopinya.
"Kalau seperti ini terus, bisa-bisa aku jadi gendut…" Ivan menyandarkan bahunya sambil mengelus perut yang kekenyangan. dia sudah menghabiskan tiga potong roti john dan secangkir kopi hitam.
"Jangan dong, aku nggak suka ah cowok yang gendut. Aku suka yang atletis kaya sekarang ini, perutnya kotak-kotak…" Vin-vin menyangga dagunya sambil menatap Ivan.
"Apaan sih, ke hutan mau ngapain emangnya?" Vin-vin gemas sambil mencubit lengan Ivan.
"Lho, siapa tahu kamu ingin berpetualang kaya si bolang di hutan," Ivan terkekeh sambil mengelus pucuk kepala Vin-vin.
Vin-vin cemberut, bibirnya langsung manyun.
"Sebentar aku panasin mobil dulu ya," Ivan bangun dari duduknya hendak mengambil kontak mobil.
"Nggak mau pakai mobil, kita pakai motor aja. Kan sudah punya helm couple, masa nggak pernah dipakai."
"Kalau buat perjalanan jauh kan cape Vin? Kamu bisa?"
"Bisa, kan sama Pak Ivan…" Vin-vin tersenyum senang.
"Terserah kamu deh kalau begitu, tapi kalau di jalan ngerasa capek jangan salahin Saya ya!"
"Nggak akan!" Ucap Vin-vin mantap.
.
"Pak… aku capek banget, kaki ku pegel…" rengek Vin-vin.
Ivan berniat mengajak Vin-vin ke puncak, menikmati keindahan alam. Namun belum sampai setengah perjalanan Vin-vin sudah merengek karena kecapean.
"Kan apa Saya bilang?! Coba kalau tadi kita naik mobil."
"Aku kan nggak tahu kalau kita akan pergi sejauh ini?!" Vin-vin berkilah dan tak mau disalahkan
"Pergi terlalu dekat, katanya nggak puas. Pergi terlalu jauh katanya capek. Gimana sih maunya?" Ivan menepikan motornya dan berhenti di sebuah warung yang menjual es kelapa muda.
"Mau minum es dulu?"
"Mau! Mau!"
Ivan memarkir motornya dan mengajak Vin-vin turun, mereka pun duduk lesehan di sebuah warung yang menjual es kelapa yang ada di pinggir jalan.
Ini kali pertama Vin-vin minum es kelapa muda di pinggir jalan, sambil minum sambil menikmati kendaraan yang lalu lalang di depannya.
"Asyik sekali ya Pak!" Ucap Vin-vin dengan riang. Dia menyeruput es kelapanya langsung dari batok kelapa yang sangat besar.
"Apanya?" Ivan mendekatkan sepiring pisang goreng dan ubi goreng ke arah Vin-vin.
"Duduk di pinggir jalan seperti ini, makan sambil lihat mobil dan motor yang lewat."
"Ini kali pertama kamu ya? Makan di pinggir jalan?"
Vin-vin mengangguk sambil tersenyum ceria.
"Saya kira kamu bakal ilfil dan marah karena Saya ajak makan di pinggir jalan begini. Kebanyakan cewek nggak suka di ajak makan di pinggir jalan. Mereka maunya di cafe atau restoran yang bisa buat foto-foto lalu pasang story di IG atau FB…"
"Hayoo pernah ajakin siapa itu?" Vin-vin mengerling sambil menunjuk-nunjuk pipi mulus Ivan.
"Aku sih nggak pernah lihat di mana tempat makannya yang penting sama siapa aku makannya. Kalau makan di tempat bagus dan mewah tapi sendirian atau dengan orang yang kita nggak suka, aku malah jadi ilfil dan rasa makanannya pasti jadi nggak enak. Rasa bahagia biasanya mempengaruhi rasa makanan yang aku makan."
Ivan tersenyum, Vin-vin memang beda dari gadis kebanyakan.
"Ini makan pisang gorengnya, enak loh." Ivan menyuapi Vin-vin sepotong pisang goreng dan Vin-vin membuka mulutnya untuk menerima suapan Ivan.
"Hmm… enak, manis…"
"Makanlah, lalu kita lanjutkan lagi perjalanan."
"Iya Pak…"