
Ivan terbangun, dan terkejut karena dia berada di atas ranjang bersama Vin-vin.
Karena buru-buru bangun, kepala Ivan kembali terasa pusing. Dia mengernyit sambil memijat pelipisnya.
"Hmmhmm..." lenguhan Vin-vin mengejutkan Ivan.
Apalagi, Tiba-tiba bocah itu memiringkan tubuhnya dan melingkarkan tangannya di pinggang Ivan.
"Astaga!" geram Ivan. "Lama-lama gue terkam juga ni bocah! mancing-mancing terus!" kesal Ivan sambil berusaha menurunkan tangan dan kaki Vin-vin yang menindih kakinya.
"Sudah bangun?" gumam Vin-vin.
"Kamu sudah bangun?" Ivan terkejut.
"Kalau sudah bangun ya pindah dong," gumam Ivan.
"Nggak! aku suka di sini. Enak. Wangi."
Ivan langsung beranjak, pergi meninggalkan ranjangnya yang seolah meledek dirinya agar kembali dan berbagi kehangatan dengan Vin-vin.
Vin-vin memakai rok abu-abu dan sedikit tersingkap karena kakinya memenuhi ranjang Ivan dari ujung ke ujung. Pemandangan seperti itu saja sudah cukup membuat Ivan pusing hingga jakunnya naik turun.
Dengan kesal, Ivan melemparkan selimut untuk menutupi kaki mulus Vin-vin.
"Apaan sih? panas ah pakai selimut!" gerutu Vin-vin.
"Ya sudah, bangun!"
Ivan berjalan ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Namun saat melihat jam di dinding kamar mandi, Ivan melonjak kaget.
"Vin! sudah hampir jam 9 malam!" pekiknya.
"Iya, kenapa sih? panik amat." Vin-vin tampak santai sambil duduk di ranjang dan menguncir rambutnya tinggi hingga tengkuk putih mulusnya terpampang jelas.
Lagi-lagi Ivan berdecih.
"Nanti orang rumah, khawatir."
"Aku sudah ijin kok. Aku bilang sedang belajar sama Mutia," jawab Vin-vin cuek.
Ivan menepuk jidatnya sambil geleng-geleng.
"Setelah selesai cuci muka, aku antar kamu pulang ya," usul Ivan.
"Nggak mau!"
Ivan yang sudah masuk ke dalam kamar mandi, menyembulkan kepalanya dan menatap Vin-vin dengan heran.
"Memangnya kamu mau tidur di sini?"
"Iya," Vin-vin memganggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar.
"Kamu itu ngeremehin aku ya!" kesal Ivan.
"Apa maksudnya?" bingung Vin-vin.
Ivan membuang napasnya dengan kasar. Setelah itu dia membanating pintu kamar mandi dengan keras.
Ivan membasuh wajahnya dengan air dingin, agar rasa kantuk dan pusingnya hilang. Rasa kantuk nya mungkin sudah hilang tapi pusingnya tetap bertahan, apalagi melihat tingkah polah Vin-vin yang cuek dan tak menganggap Ivan sebagai laki-laki normal.
Ivan tambah pusing tujuh keliling.
Tadinya Ivan hanya ingin membasuh wajahnya, namun akhirnya dia memutuskan untuk mandi air hangat. Dia ingat, bahwa dia belum mandi sejak pagi, dan merasa risih karena Vin-vin selalu di dekatnya. Dia takut Vin-vin ilfeel padanya karena tubuhnya bau keringat.
"Kok malah mandi? memangnya nggak apa-apa?" tanya Vin-vin saat melihat Ivan keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai celana pendek, tanpa atasan dan rambut basah yang masih di hinggapi handuk.
"Nggak apa, kan mandi air hangat," Ivan terus berjalan melewati Vin-vin menuju lemari pakaiannya. Dia mengambil kaos berbahan katun berwarna biru muda dan memakainya.
"Ayo, ku antar pulang," ucapnya setelah selesai dengan ritual berpakaian.
"Nggak mau, ah," Vin-vin kembali merebahkan tubuhnya di ranjang empuk milik Ivan.
Lagi-lagi Ivan mendengus kesal.
"Ini bocah, sekali-kali harus di kasih pelajaran, biar nggak nyepelein gue!" batin Ivan.
Ivan pun tersenyum smirk, dan berjalan perlahan mendekati ranjang, tempat di mana Vin-vin merebahkan tubuhnya.
Ivan bergerak naik dan mengukung Vin-vin. Kedua tangananya berada di sisi kanan kiri kepala Vin-vin, sedang kakinya pun menghimpit kaki Vin-vin.
"Eh? Pak Ivan mau ngapain?" kaget Vin-vin.
"Kalau kamu bersikeras tidur di sini, aku juga nggak bisa janji bakal membiarkan kamu tidur pulas..." Ivan mendekatkan bibirnya ke telinga Vin-vin dan berbisik lagi, "semalaman... kita akan begadang..."
"Apaan sih?" Vin berusaha melepaskan diri dari kungkungan Ivan.
"Mau pulang, sekarang? atau..."
"Iya! iya! aku mau pulang!" kesal Vin-vin. Bibirnya melengkung ke atas dan tatapan sebal dia tunjukkan pada kekasihnya itu.
Ivan terkekeh, lalu melepaskan kungkungannya.
"Makanya jangan suka membangunkan singa tidur!" lanjut Ivan.
"Memangnya... ada yang bangun?" desis Vin-vin sambil menatap celana pendek yang Ivan kenakan.
Ivan spontan menutupi bagian depan celananya, "Hey! jangan lihat ke sini! lihat ke tempat lain!"
Vin-vin terkekeh dan bangun dari duduknya.
Namun baru berjalaan beberapa langkah, tiba-tiba Ivan menarik tangannya dan membuat Vin-vin menubruk dada bidang Ivan.
"Pak Ivan kena...," belum selesai Vin-vin bicara, Ivan sudah ******* bibir mungilnya.
Tangan Ivan merengkuh tengkuk Vin-vin yang terbuka dan tangannya yang lain mendekap pinggang ramping Vin-vin dan menariknya hingga tak ada jarak di antara mereka.
Ivan melepaskan ciumannya dan menatap mata Vin-vin dengan intens, "ini hukuman karena kamu sudah mengejekku!" bisik Ivan.
Vin-vin tersenyum di kulum, lalu melingkarkan kedua tangannya di leher Ivan dan kali ini, dia yang memulai.
Mereka berdua saling *******, menelusuri setiap inci bibir pasangannya tanpa ada keinginan untuk berhenti.
Vin-vin bahkan melompat dan melingkarkan kakinya di pinggang Ivan dan dengan sigap, Ivan membopongnya.
Keadaan semakin panas dan tak terkendali, sewaktu Vin-vin melepaskan ciumannya dan melengkungkan tubuhnya hingga dadanya membusung tepat didepan wajah Ivan.
Ivan menelan salivanya saat melihat kulit putih mencuat karena baju Vin-vin tampak sangat ketat pada bagian dada.
Ivan mencium kulit putih itu, dan Vin-vin merintih karenanya. Mendengar suara rintihan seksii yang keluar dari bibir Vin-vin membuat Ivan bersemangat dan lupa diri.
Ivan menggigit kancing baju Vin-vin hingga membuatnya terlepas dan pemandangan paling indah yang pernah Ivan lihat, terpampang sempurna.
Ivan mendekatkan hidungnya dan mencium aroma tubuh Vin-vin, kemudian menciumnya lalu...
'Kriing!!!!'
"Bunyi apa itu?!" Ivan kaget dan melepaskan gendongannya, membuat Vin-vin merosot dan sama kagetnya.
"Ha-Hape ku..." masih dengan kebingungan, Vin-vin celingukan mencari ponselnya.
Saat menemukannya, dia langsung mengangkat panggilan telpon itu.
"Iya Pi? iya, ini Vin-vin mau pulang. Iya Pi, bye..."
Vin-vin menutup telponnya dan mengatur napasnya yang masih memburu. Dia menatap Ivan yang masih mematung di tempatnya berdiri tadi.
"A-ayo ku antar... pulang..." gugup Ivan sambil celingukan mencari kontak mobilnya.
"I... iya, ayo..."