
Quenny kembali ke kamarnya ia tak kuat untuk menemui putranya setelah mengetahui kebenarannya, dia menangis histeris untung saja kedua anaknya tidak mendengarnya.
Quenny menghapus air matanya ia harus kuat untuk menghadapinya jika suatu hari kedua anaknya kembali pada keluarga kandungnya.
" Aku tak boleh begini, aku akan mencari siapa siapa om Jeff yang dimaksud oleh Andrean. Apakah Wefina tahu " guman Quenny.mengingat kedua anaknya makan siang bersama Wefina saat itu.
" Besok akan ku tanya pada Wefina" kata Quenny. Melaksanakan sholat isa kemudian istirahat.
Keesokan harinya Quenny menyiapkan sarapan pagi untuknya dan kedua anaknya. Andrean dan Fina yang sudah rapi bersiap ke sekolah menghampiri Quenny menghidangkan makanan.
" Ma, ada kesukaan Fina" kata Fina, bahagia melihat makanan kesukaannya ayam goreng.
" Ya hari ini mama masak kesukaan kalian ada ayam goreng dan cumi bumbu " kata Quenny.menatap keduanya dengan senyuman.
" Mama" kata Andrean, ragu untuk mengatakan sesuatu.
" Tidak apa sayang mama tahu " kata Quenny, mencoba untuk senyum.
" Mama hiks hiks hiks" Andrean menyadari kalau mamanya tahu keresahan hatinya. Quenny langsung memeluk putranya dan menenangkannya.
" Tidak apa sayang kita akan menghadapinya, kamu harus tahu selamanya kalian anak mama jangan pernah meragukannya" kata Quenny, dengan suara serak.
Melihat mama dan kakaknya menangis membuat Fina ikut nangis.
" Hiks hiks hiks kenapa mama dan kakak Menangis apakah Fina nakal" kata Fina.
" Tidak sayang kalian adalah hidup mama" kata Quenny.
" Kami sayang mama " seru Andrean dan Fina.
" Oh sayang mama juga sayang kalian" kata Quenny, memeluk keduanya.
Di balik pintu ternyata ada Wefina menangis histeris awalnya dia datang pagi-pagi untuk menjemput mereka seperti biasanya sebelum berangkat ke perusahaan karena Quenny ada jadwal ke rumah sakit pagi ini.
Wefina menghela napasnya. " Sejak kapan kamu tahu Quenny aku yakin Andrean belum memberitahunya, aku harap kalian akan terus seperti ini walau keadaannya berbeda" guman Wefina menatap ke arah Quenny memeluk kedua anaknya.
Mereka tertawa bersama. " Quenny? " Wefina. Quenny senyum dan menanggukan kepalanya.
Wefina mengantar Andrean dan Fina ke sekolah sedangkan Quenny bersiap ke rumah sakit karena dia ada praktek hari ini.
Quenny masuk ke kamar anaknya dia melihat suasana kamar putranya yang berwarna putih biru dengan gambar mobil sekitarnya.
" Andrean, sangat menyukainya ketika aku mempersiapkan semuanya ini ketika ia berulang tahun ke lima tahun dan dia tak ingin menggantinya" kata Quenny, mengingat putranya bahagia mendapati suasana kamarnya.
Kemudian Quenny masuk ke kamar putrinya Fina sangat menyukai berbau barbie makanya kamarnya bernuansa barbie, Quenny tersenyum melihat kamar ini tapi ada kesedihan di matanya.
Akhirnya Quenny pergi ke rumah sakit karena dia sudah dihubungi oleh pihak rumah sakit karena pasiennya sudah menunggu.
Rumah sakit.
Seperti biasa Quenny memeriksa pasiennya entah kenapa pasiennya banyak hari ini hingga tak terasa hari sudah siang baru ia selesai.
" Dok tak ingin makan siang" kata suster yang menemaninya karena pasiennya banyak hingga tak menyadari waktu makan siang terlewati.
" Nggk usah sus saya ingin memeriksa laporan ini tapi bisakah beli saya makanan di kantin" kata Quenny.
" Baik dok" seru suster. Setelah makan makanannya Quenny memutuskan keluar ia merasa sesak di ruangannya bayangan ketika Andrean terus membayanginya.
Di lobi rumah sakit
Jeffrod dan Jack berkunjung ke rumah sakit menemui salah satu direktur perusahaannya sedang sakit.
" Tuan boleh saya bertanya" kata Jack.
" Emangnya kau ingin bertanya apa? " Jeffrod.
" Tinggal dua hari lagi anda memberi waktu pada tuan muda Andrean untuk memberitahu pada dokter Quenny mengenai nona Avi" kata Jack.
Deg