
Di saat kedua bicara mengenai undangan Steve Emanuel terdengar suara ketukan pintu.
Tok tok tok
" Tuan besar ini saya" ucap Jack. Tuan Alfred dan Jeffrod saling memandang bukannya Jack mengikuti mereka tadi.
" Masuk" kata tuan Alfred. Pintu terbuka Jack masuk dengan tersenyum membuat mereka heran kenapa orang yang selalu menunjukan sikap dingin bisa tersenyum.
" Jack, kamu darimana bukannya kamu ikut kami ke dalam? " Jeffrod, pada sahabat sekaligus orang kepercayaannya.
" Om, Jeff aku ada kabar gembira" kata Jack, dengan antusias. Keduanya saling memandang membuat Jack senyum pahit.
" Maaf om, Jeff" kata Jack, menggaruk keningnya.
" Tidak apa Jack ayo duduk di sana sepertinya ini berita penting" kata tuan Alfred, meminta mereka duduk di sofa.
Setelah duduk Jack menatap keduanya dan meletakan amplop di meja.
" Ini apa Jack? " Jeffrod.
" Ini yang saya ingin beritahu" kata Jack.
" Katakan" seru Jeffrod, entah kenapa ia merasa deg degan.
" Ini tentang anak-anak kak Avi" kata Jack.
" Apa" teriak mereka.
" Kau serius Jack, ini bukan candaanmu saja" kata Jeffrod, perasaannya menjadi campur aduk ada bahagia, takut dan kecewa. Tuan Alfred terharu dan berharap ini berita benar sudah lima tahun mereka mencari semoga ini tidak bohong.
Jack menggelengkan kepalanya. " Anak buah yang ditugaskan mencari mereka bahkan ahli IT berhasil menemukan mereka" kata Jack.
" Siapa dan dimana mereka sekarang?" tuan Alfred.
" Orang yang membawa mereka sekarang sudah menjadi dokter tapi kami belum menemukan alamatnya" kata Jack.
" Ini bukan berita bagus Jack, kalian belum tahu siapa dia yang telah membawa keponankanku" kata Jeffrod, dengan emosi.
"Jeff, tenanglah yang terpenting kita sudah mengetahuinya walaupun kita belum namanya, Jack dimana dokter itu kerja mungkin kita bisa menyelidiki dari sana" kata tuan Alfred.
Tuan Alfred menepuk punggung putranya. " Jack dimana dia kerja?" Tuan Alfred.
" Rumah sakit dimana kak Avi dirawat" kata Jack.
" Baguslah dengan ini memudahkan kita untuk mencarinya" kata tuan Alfred, senyum tipis.
" Itu tak mungkin" guman Jeffrod, menggelengkan kepalanya.
Tak lama pelayan datang memberitahu kalau makan malam sudah siap dan nyonya Devira juga Avi sudah berada di sana.
" Jack masih disini" kata nyonya Devira, terkejut melihat Jack bersama putra dan suaminya.
" Kami ada pekerjaan mom" kata tuan Alfred, belum siap memberitahu mereka sebelum ada kepastian.
" Bibi tolong siapkan makanannya" kata nyonya Devira.
" Baik nyonya" seru bibi, mereka mulai menata makanan di atas meja.
Tuan Alfred dan lainnya menikmati makan malam bersama tak ada suara terdengar selain bunyi sendok, selesai makan Jack pamit ke apartemen tidak lupa Jeff mengingatkan soal undangan dari Steve Emanuel.
Rumah Queny.
Queny, Andrean dan Fina baru saja selesai makan
" Sekarang kalian masuk ke kamar karena esok masuk sekolah " kata Queny, memanggil bibi untuk membereskan meja.
" Ya ma ayo Fina " kata Andrean, memegang tangan adiknya, sebelum itu mereka mencium pipi Queny.
" Mama nanti langsung tidur ya jangan kerja lagi" kata Fina.
" Ya sayang mama sedang menunggu aunty Wefina" kata Queny, kedua anaknya menanggukan kepalanya.
Queny tersenyum melihat kedua anaknya masuk ke kamar masing-masing.
Taklama Wefina datang dan duduk di ruang tengah.
" Wefina apa yang ingin kamu bicarakan? " Queny.
" Dimana mereka? " Wefina, membicarakan anaknya Queny.
" Mereka di kamar" kata Queny.
" Queny, perusahaan dapat undangan dari perusahaan Emanuel Group" kata Wefina.
Queny menghela napasnya. " Entah kenapa aku agak berat ke sana rasanya akan terjadi sesuatu" kata Queny.
Wefina tersenyum ia sudah menduganya dan dia akan membicarakannya bersama Rega nanti.