Menjadi seorang ibu

Menjadi seorang ibu
Episode 36


Di saat pertemuan antara Wefina dan Jack membicarakan bisnis Queny melakukan perawatan pada Avi dengan CT Scan dengan bantuan suster ia membantu Avi membaring di brankar dan kepalanya di masukan alat dinamakan CT Scan.


" Nona tarik nafas kita akan memulainya" kata Queny, Avi menarik nafasnya ia memenjamkan matanya dapat merasakan alat itu.


" Dok" seru suster.


Quenny menanggukan kepalanya meminta suster menulis analisanya terhadap kondisi otak Avi, keluarga yang menunggu di luar mencemaskan Avi.


" Dad, semoga saja kondisi putri kita baik saja" kata nyonya Devira.


" Ya, semoga saja hanya sakit kepala yang dirasakan Avi hanya biasa saja" kata tuan, Alfred.


Jeffrod juga mengkhawatirkan keadaan kakaknya sudah sejam berlalu mereka belum juga keluar.


" Jack, jika dokter Queny keluar kamu harus minta maaf beruntung dokter Ridwan berhasil membujuknya, sudah banyak dokter bedah ditawar tapi mereka menolak melihat sikapmu itu" kata nyonya Devira, masih kesal pada putranya karena hal kemaren.


Sebelum Jeffrod menjawab pernyataan nyonya Devira pintu terbuka Queny keluar menyambut mereka dengan senyuman.


" Dok gimana keadaan putri kami? " tuan Alfred.


" Keadaan pasien sesuai dengan dugaan saya kepalanya sakit karena sudah lama tak digunakan hingga ia akan merasa sakit jika memikirkan hal yang berat, maka jangan biarkan pasien berfikir keras" kata Queny.


Tiba saja Avi berteriak. " Sakit".


" Suster, apa yang terjadi? " Queny, melihat suster keluar dengan gelisah.


" Dok ketika pasien sadar tiba saja ia berteriak" kata suster, Queny segera masuk meninggalkan Jeffrod dan lainnya terkejut.


Suster berusaha menghalangi mereka masuk ketika mereka akan masuk ke ruangan.


" Tuan, nyonya jangan masuk biar dokter yang menangani" kata suster.


" Dia kakakku sus" teriak Jeffrod, berusaha untuk menerobos.


" Saya mengerti tuan tapi biarkan dokter yang memeriksa pasien " kata suster, segera menutupi pintu.


Jeffrod mengusap wajahnya nyonya Devira menangis dalam pelukan suaminya.


Sebelumnya Avi masih dalam keadaan tak sadarkan diri karena obat bius, tiba saja bayangan masa lalu terlintas dalam mimpinya Avi gelisah memanggil suami dan kedua anaknya.


" Mas Zein, anak-anakku" teriak Avi.


" Aww" Avi, berteriak dan sadar seketika dan merasakan sakit di kepalanya suster yang menjaganya berusaha menenangkannya tapi Avi terus berteriak.


Melihat hal itu suster segera memanggil Queny.


" Nona cobalah untuk tenang jika anda terus begini sakit kepala anda akan terus terasa, sekarang coba anda memenjamkan mata dan membuang nafas" Queny, mengusap punggung Avi.


Entah kenapa Avi merasa tenang dan sakit kepalanya berkurang.


" Saya merindukan suami dan anak saya dok, hiks hiks hiks" kata Avi, menangis melihat pasiennya histeris Queny merasa kasihan ia memeluknya.


" Dok, saya ingin bertemu keluarga saya" kata Avi, setelah merasa tenang. Queny tersenyum dan menanggukan kepalanya.


" Saya akan meminta mereka untuk bertemu nona tapi setelah di pindahkan ke ruang rawat kalau begitu saya permisi dulu, suster tolong bawa pasien ke ruang rawatnya" kata Queny.


" Baik dok" seru suster.


" Dok, terima kasih" ucap Avi, dibalas dengan senyuman dan anggukan kepalanya.


Melihat Queny keluar mereka yang di luar segera mendekatinya.


" Pasien sudah dipindahkan ke ruang rawatnya" kata Queny.


" Dok, apa yang terjadi pada putri kami?" Nyonya Devira.


" Pasien mengalami mimpi buruk, kalau begitu saya pamit dulu" kata Queny, meninggalkan mereka.


" Dad, Avi pasti memimpikan anak- anaknya" seru nyonya Devira, sedih.


" Mom ini salah Jeff, seharusnya Jeff harus cepat menemukan mereka" Jeffrod, menyesal karena terlalu lama mencari keberadaan keponankannya.


Tuan Alfred mengajak mereka melihat keadaan Avi di kamar VVIP 3.