
Kamar VVIP 3
Jeffrod dan beserta lainnya menemani Avi yang masih tak sadarkan diri nyonya Devira duduk di sebelah putrinya sambil memegang tangannya juga mengelus rambut sang putri, dia sangat sedih melihat keadaan sang putri nyonya Devira berdoa agar putrinya cepat sembih dan dapat berkumpul bersama lagi.
" Jack pergilah ke perusahaan aku akan bekerja dari sini jika ada laporan yang harus di periksa kirim ke email" kata Jeffrod.
" Baiklah" ucap Jack, pamit pada tuan dan nyonya Hugo.
Tuan Alfred menepuk punggung putranua dan ruduk di sampingnya sambil memperhatikan istrinya bersama sang putrinya.
" Jeff, sudah dapat kabar dari anak buahmu? " tuan Alfred, mempertanyakan soal kedua cucunya.
Jeffrod menghela napasnya. " Sangat sulit dad apalagi ini sudah lima tahun dan wajah dari gadis dalam rekaman CCTV tidak terlalu jelas" kata Jeffrod, merasa menyesal karena terlalu lama dalam pencariannya.
Tuan Alfred menanggukan kepalanya ia mengerti kesulitan yang dihadapi sang putra dalam pencarian kedua cucunya, ia hanya berharap sang putri bersabar dan dapat melewati semua ini dan ia percaya kalau mereka pasti bertemu.
Andrean dan Fina baru saja pulang sekolah dan mbak Ila sudah menunggu di depan, mbak Ila tersenyum melihat mereka keluar dengan berpegang tangan.
" Tuan, nona kecil gimana belajar hari ini?" Mbak Ila.
" Seru mbak tadi Fina belajar menghafal lagu bunda" Fina, dengan bahagianya.
" Nona Fina hebat sudah bisa bernyanyi" puji, mbak Ila, dengan senyuman.
"Mbak ayo kita ke rumah sakit Fina tak sabar bertemu bunda" kata Fina, dengan semangatnya.
" Memangnya untuk apa nona kecil? " mbak Ila, takutnya menanggu Queny.
" Fina ingin menunjukan pada bunda kalau Fina sudah bisa nyanyi, bunda pasti suka" kata Fina, dengan senyum cerah.
Melihat kebingungan mbak Ila Andrean mencoba memberi solusi apalagi ia tak ingin adiknya sedih.
Mbak Ila tersenyum dan mencoba menghubungi Queny.
Rumah sakit
Queny berada di ruangan dokter Ridwan membicarakan pengobatan yang harusdi jalani oleh Fina Hugo.
" Dok, gimana dengan hasil pemeriksaan nona Avi? " Dok, Ridwan.
Queny tersenyum. " Seperti yang telah kita duga dok pasien mengalami trauma otak karena berfikir terlalu keras dan bermicunya adalah saat bangun tidur" kata Queny.
" Benar dok suster yang menjaganya saat malam hari ia sering melihat pasien tak tenang dalam tidurnya dan sering bermimpi buruk" kata Dokter Ridwan.
" Maaf dok boleh saya tahu? " Queny. Dokter Ridwan tersenyum ia sudah menduga Queny akan bertanya tentang hal ini.
" Sebaik dokter bertanya pada keluarga pasien saya juga tak tahu hal ini, yang saya tahu hanya suami pasien sudah lima tahun meninggal" kata Dokter Ridwan, memang tidak mengetahui apa yang terjadi pada pasiennya.
Queny menanggukan kepalanya dan pamit harus kembali ke ruangannya, saat menuju ruangannya tiba saja ia mendapat telepon dari mbak Ila, Queny segera mengangkatnya takutnya terrjadi sesuatu pada kedua anaknya
" Assalamualaikum, mbak apakah ada masalah pada mereka " ucap Queny, dengan nada khawatir .
" Wassalamualaikum, nona. Semuanya baik nona hanya saja nona Fina ingin bertemu nona sekarang katanya ada kejutan" balas mbak Ila.
" Kebetulan saya tidak sibuk mbak bisa bawa mereka ke sini " kata Queny.
" Baik nona". seru mbak Ila. mereka memutuskan panggilannya.
Fina merasa bahagia karena Queny mengizinkan mereka ke rumah sakit dan Fina yang tak sabar bertemu Queny ia menarik tangan mbak Ila dan Andrean.
Dengan diantar supir mereka menuju rumah sakit.