Menjadi seorang ibu

Menjadi seorang ibu
Episode 66


Selama rapat Maxim terus memandang Quenny Wegina melihatnya membuatnya kesal, jika ini bukan kerja sama yang menguntungkan pasti ia telah memberinya pelajaran.


Sedangkan Quenny hanya diam dan terus mendengar sekretaris Maxim menyampaikan rangkaian kerja sama yang mereka ajukan.


" Gimana nona Quenny kerja sama kita ini pasti mendapatkan keuntungan yang besar bagi kedua belah pihak" kata Maxim.


Quenny tak bisa mengambil krputusan sekarang walau ini benar mendapatkan keuntungan besar tapi melihat tatapan Maxim padanya membuatnya tak nyaman.


" Kami akan memikirkannya tuan" kata Quenny. Mendengar perkataannya membuat Rega dan Wefina senyum sedangkan Maxim kesal tapi ia berusaha untuk menutupinya.


" Baiklah kami akan menunggu kabar dari anda " kata Maxim. Pamit dan keluar dari ruangan sekretarisnya mengikutinya dari belakang.


" Sial beraninya ia memintaku menunggu" kata Maxim. Mereka terus berjalan meninggalkan perusahaan Frederic Group.


" Sekarang apa yang harus kita lakukan tuan? " sekretarisnya.


" Lihat saja Quenny sebentar lagi kamu takkan mampu menunjukan kesombonganmu" kata Maxim, dengan dinginnya.


Sedangkan dalam ruangan.


Quenny, Rega dan Wefina masih berada di ruang rapat.


" Quenny aku harap kita menolak kerja sama walau ini sangat menguntungkan bagi perusahaan tapi saat melihatnya menatapmu begitu membuatku jijik" kata Wefina.


" Tapi kita harus berhati nona saya dapat menduga dari tatapannya saat nona meminta menunggu dapat terlihat kalau ia kesal dan marah. Apalagi nona sudah menolaknya ketika di ajak makan bersama" kata Rega, diangguk oleh Wefina.


" Sudahlah swbaiknya kita kembali ke ruangann, oh ya aku akan menjemput anak- anak dulu" kata Quenny, melihat jam ternyata sudah waktunya mereka pulang sekolah.


" Kamu mengajak mereka kesini Quenny? " Wefina, mengingat temannya masih memiliki banyak pekerjaan. Biasanya supir yang menjemput mereka dan dititip pada orangtua Wefina.


Quenny menanggukan kepalanya entah kenapa mendengar perkataan kedua kepercayaannya membuatnya khawatir. Kemudian Quenny pamit dan meminta mereka kembali bekerja.


Quenny mengendarai mobilnya dalam fikirannya terus terbayang tatapan Maxim padanya.


" YaAllah semoga saja tak ada yang buruk terjadi" Doa Quenny, taklama fikirannya tenang tak menyangka dia sudah sampai di sekolah.


Guru sedang menjelaskan pelajaran terakhir." Nah kalian harus menghafal huruf abjad ini besok ibu akan menilainya" kata guru.


" Baik bu" seru murid, dengan bersorak gembira sedangkan Andrean hanya fokus pada bukunya.


Satu persatu siswa meninggalkan kelaa setelah guru pergi ketika Andrean keluar terdengar suara Fina memanggil.


" Kakak" kata Fina, duduk di kursi yang biasanya ia tempati saat menunggu Andrean pulang. Fina bersekolah di TK memang TK sampai SMA satu lingkungan jadi tak membuat Quenny khawatir.


" Kamu sudah makan dek? " Andrean, ia tahu adiknya menunggunya terlalu lama. Tk masuk jam 8 pagi sampai 10 sedangkan Andrean pulang jam 12 siang, dua jam Fina menunggu kakaknya pulang.


" Sudah kak " kata Fina, tersenyum. Andrean sudah memakan bekalnya saat istirahat.


" Kak kita duduk disini saja menunggu mama disini, Fina senang hari ini kita ke kantornya mama" kata Fina, senyum Andrean mengelus rambut adiknya.


Mereka duduk di kursi yang terletak di TK hingga tak ada yang mengganggu mereka karena guru sudah tahu.


Fina memakan bekalnya tak lama terdengar suara Quenny.


" Sayang" panggil Quenny, mendekati mereka. Andrean dan Fina tersenyum melihat mama mereka datang.


" Fina sayang kok baru di makan bekalnya terus ketika istirahat kamu makan apa nak? "Quenny, melihat putrinya baru menghabiskan makanannya.


" Hehehe mama tadi Fina sisakan " kata Fina.


" Besok untuk Fina mama lebihkan isi bekalnya kak Andrean juga mau? " Quenny.


' Nggk ma" kata Andrean.


" Baiklah mari kita ke kantor mama, sayang untuk sementara kalian ikut mama setelah pulang" kata Quenny.


Andrean dan Fina hanya mengikuti kemauan mama mereka walau sekali mereka akan ikut Quenny di rumah sakit setelah pulang tapi saat Quenny takut mereka tercemar virus, makanya mereka dititip pada orangtua Wefina.


Orangtua Wefina merasa senang ketika Quenny meminta ketersediaan mereka untuk menjaga kedua anaknya sepulang sekolah.