Menjadi seorang ibu

Menjadi seorang ibu
Episode 38


Rumah sakit


Andrean, Fina dan mbak Ila sudah sampai di rumah sakit ini adalah pertama kali mereka ke rumah sakit sejak Queny bekerja, karena Queny tak ingin kedua anaknya mendapat penyakit dari virus apalagi saat itu Fina masih terlalu kecil dibawa ke rumah sakit dan Andrean memang tak ingin menanggu Queny.


" Wah kak rumah sakitnya besar bunda pasti suka bekerja di sini" kata Fina, merasa kagum ketika mereka turun dari mobil terlihat rumah sakit yang besar tepat di hadapannya.


Andrean tersenyum Fina bahagia melihat banyaknya orang berkeliaran sekitar rumah sakit.


" Kak nanti Fina ingin menjadi dokter seperti bunda" kata Fina, tersenyum bahagia.


" Kamu pasti bisa seperti bunda, mbak ayo kita ke tempat bunda" kata Andrean, pada mbak Ila berdiri antara mereka.


" Ya mbak Fina juga tak sabar " kata Fina, menarik tangannya.


" Tuan, nona muda tunggu kita harus bertanya pada resepsionis dulu dimana ruangan nona Queny" kata mbak Ila, mereka tersenyum dan menuju bagian resepsionis.


" Selamat siang nona apakah ada yang bisa saya bantu, atau anda ingin mendaftar untuk berobat? " resepsionis, melihat mereka di hadapannya.


" Kami ingin bertemu bunda" kata Fina, dengan semangatnya, suster yang mendengarnya hanya tersenyum ia mengira pasti bundanya di rawat disini.


" Adek, memangnya bundanya sakit apa dan siapa namanya biar nanti suster cari ruangannya" kata suster, dengan ramah, Fina dan Andrean saling memandang tiba saja Fina merengek ia mengira Queny sakit.


" Kakak bunda sakit apa? " Fina, menangis Andrean ikut menangis sedangkan mbak Ila tersenyum pahit pada suster yang memandangnya.


Suster bertanya apakah mereka tidak mengetahui bundanya sakit dan kenapa mereka ke sini kalau bukan menjenguk bunda mereka.


" Tuan, nona kecil tenang ya bukanya tadi kita sudah menghubungi bunda dan baik saja" bujuk mbak Ila.


Andrean dan Fina menanggukan kepalanya tapi mereka masih bersenggukan.


" Maaf suster ini ada kesalahan bunda yang mereka bicarakan dokter Queny" kata mbak Ila.


" Apa" teriak suster , ia terkejut mendengar kalau dokter Queny sudah memiliki dua anak.


Teriakannya membuat sekitarnya menjadi bahan tontonan, sementara itu di ruangan Avi Hugo mereka bertiga senantiasa menunggu kesadarannya.


" Belikan dad coffe dan untuk mommymu teh hangat juga makanan ringan" kata tuan Alfred, Jeffrod menanggukan kepalanya dan keluar menuju kantin.


Disaat tiba di lobi dia melihat bebeeapa orang berkerumum di dekat resepsionis.


" Apakah ada kecelakaan " gumannnya, tapi langkahnya terhenti mendengar suara Queny.


" Sayang" kata Queny, menghampiri kedua anaknya. Queny baru saja dari ruang poli setelah memeriksa pasiennya dan kakinya terhenti melihat kedua anaknya bertanya ke bagian resepsionis tapi akan kesana dokter Vela merupakan temannya mendekat dan membicarakan sesuatu.


Tak lama mereka mendengar suara teriakan dari suster.


" Dokter apa yang terjadi? " dokter Vela, Queny tersenyum dan mendekati mereka diikuti oleh dokter Vela.


Andrean dan Fina yang masih bersenggukan menoleh ke belakang dan melihat Queny berlarian.


" Bunda" teriak Fina, berlarian dan memeluk kakinya erat serta menangis, Andrean dan mbak Ila mengikutinya dari belakang.


" Loh sayang bunda kenapa menangis" Quenny, berjongkok dan menghapus air mata Fina.


" Bunda" seru Andrean, dengan lirihnya. Queny merentangkan tangannya dan Andrean masuk dalam pelukannya.


" Nona, saya minta maaf" kata mbak Ila, takut jika Queny marah.


" Sekarang katakan pada bunda kenapa kesayangan bunda menangis? " Queny.


" Kata suster itu bunda sakit jadi kami sedih" Andrean, menunduk kepalanya dan diangguk oleh Fina.


" Dokter, saya minta maaf karena saya kira bundanya sakit, dokter apakah benar bunda dari kedua anak ini" kata suster, dengan suara yang gemetaran.


Queny tersenyum berdiri dan tangannya memegang tangan kedua anaknya.


" Ya" mereka anakku"