Menjadi seorang ibu

Menjadi seorang ibu
Episode 72


Pertemuannya dengan Jefftod membuat Andrean terfikirkan hingga anak itu sering murung ia memang merindukan ibu kandungnya tapi tak ingin terpisahkan hingga membuat Quenny khawatir.


" Andrean ingin bercerita sesuatu pada mama? " Quenny, mengajak putranya duduk di sampingnya.


Andrean menggelengkan kepalanya ." Sayang, mama hanya ingin kamu terbuka. Mama tak ingin kamu jatuh sakit baiklah kamu tak ingin bercerita sekarang mama tak ingin memaksa, jika ingin bicara mama selalu ada untukmu" kata Quenny.


" Terimakasih ma Andrean sayang mama" kata Andrean, memeluk dirinya.


Fina asyik bermain boneka ketika Andrean memeluk Quenny ia segera menghentikan mainannya dan mendekati mereka.


" Mama Fina juga ingin dipeluk" kata Fina, cemberut. Quenny tersenyum merentangkan tangannya Fina masuk dalam pelukannya.


Quenny mencium kening kedua anaknya. " Mana akan mencari tahu sayang apa yang menyebabkan kamu murung seperti ini" kata hati Quenny.


Di kediaman keluarga Hugo.


Mereka sedang berkumpul di ruang tengah tuan Alfred asyik dengan membaca koran nyonya dan nona Avi membicarakan hal fashion.


" Aku ingin membicarakan sesuatu " kata Jeffrod, menatap semua keluarga.


" Apa yang ingin dibicarakan, apakah masalah perusahaan mari kita bicara di ruang kerjamu" kata tuan Alfred.


" Nggk dad ini bukan masalah kantor tapi" Jeffrod menghela napasnya akhirnya ia menceritakan pertemuannya dengan Andrean putra pertama kakaknya.


" Apa" seru mereka. Avi segera mendekat ." Kamu tidak bercanda kan jeff untuk menenangkan hatiku" kata Avi, mengengam tangan Jeffrod.


" Ya kak kami bertemu kemaren ,kami bertemu di restoran " kata Jeffrod.


"Apakah bersama dokter Quenny kalian bertemu? " nyonya Devira.


" Andrean dan Fina bersama nona Wefina, mom" kata Jeffrod.


" Siapa dia Jeff? " tuan Alfred.


" Terus kenapa kamu tidak membawa mereka pulang bukannya kamu tahu kakak sangat merindukan mereka " kata Avi. dengan lirih.


" Ya nak kenapa kamu tidak membawa mereka? " Nyonya Devira.


" Tidak semudah itu kak, mom" kata Jeffrod.


" Apakah mereka melarangmu membawa mereka pulang, mereka itu anak-anakku aku yang berhak atas mereka " kata Avi, kesal.


" Apa perlu kita menghubungi polisi" kata tuan Alfred, ikut marah.


" Andrean yang tak ingin pulang" kata Jeffrod.


Deg


Jantung mereka berdetak dengan cepat." Kamu jangan bohong Jeff mana mungkin ada anak yang tak ingin bertemu dengan ibunya" tekan nyonya Devira, sedangkan Avi menangis dan tuan Alfred diam untuk mengerti.


" Mereka sudah menanggapnya sebagai ibu dia yang merawat mereka selama lima tahun ini. Mereka sudah melewati masa sulit dan senang bersama. Dokter Quenny tidak tahu pertemuan kami ini dan Andrean sendiri yang akan memberitahunya, Kak berilah waktu bagi mereka entah akan bertemu lagi atau tidak aku tak ingin kita memaksa mereka" kata Jeffrod.


" Apa yang dikatakan Jeffrod benar kita harus memberi mereka waktu takkan mudah menerima sesuatu yang bersama kita dan suatu saat akan berpisah" kata tuan Alfred.


" Saya beri waktu untuk Andrean selama seminggu dan dia sanggup kita hanya menunggu, kak sabarlah sedikit lagi kedua anakmu pasti kembali mereka hanya butuh waktu" kata Jeffrod, nyonya Devira dan Avi menanggukan kepalanya.


Diam-diam Quenny mencaritahu apa yang terjadi pada putranya ia akan selalu mengawasi sendiri putranya itu.


Dalam kamar


Andrean baru saja selesai sholat ia berdoa pada Allah memberinya kekuatan dan ketenangan.


" Ya Allah apa yang harus Andrean katakan pada mama kalau kami bertemu om Jeff saat makan siang bersama aunty Wefina, Andrean tak ingin dipisahkan dari mama walau Andrean mami pasti merindukan kami, ya Allah berilah hamba kekuatan " Dalam doa Andrean menangis ia mengingat kebersamaannya Fina bersama Quenny.


Tanpa disadari Andrean Quenny mendengar semuanya ia menangis putranya sangat menyayanginya tapi keluarga aslinya sedang mencari kedua anaknya rasanya hatinya sakit.