Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Arumi Kembali Jatuh


Arumi terdiam di sepanjang perjalanan menuju rumah Ibunya. Ia bingung alasan apa yang akan ia katakan kepada sang Ibu tentang kepulangannya kali ini. Ia tidak ingin Adnan terlihat buruk dimata sang Ibu walaupun sebenarnya perlakukan Adnan memang buruk kepadanya.


Beberapa kali Arumi menghembuskan napas berat. Dadanya pun ikut-ikutan terasa nyeri. Arumi mengelus dadanya sambil mencoba mengatur napas.


"Non, dadanya sakit lagi ya?" tanya Pak Budi. Ternyata lelaki paruh baya yang sudah lama mengabdi di keluarga besar Arumi pun menyadari bahwa wanita itu sedang kesakitan.


"Iya, Pak. Mungkin kita bisa berhenti sebentar buat beli air mineral. Aku ingin minum obatku, Pak. Tadi pagi aku memang kelupaan meminumnya."


"Baiklah, Nona."


Pak Budi celingak-celinguk sembari melajukan mobilnya. Ia mencari keberadaan toko atau warung yang menjual air mineral di pinggir jalan. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah warung kecil di pinggir jalan.


Pak Budi menepikan mobilnya kemudian segera membelikan air mineral itu untuk Arumi.


"Ini air minumnya, Non."


Pak Budi segera menyerahkan air mineral itu kepada Arumi.


"Terima kasih, Pak."


Arumi meraihnya dan segera meminum obatnya. Akibat perbuatan Adnan yang begitu keterlaluan tadi malam, Arumi sampai melupakan obatnya.


Setelah Arumi selesai meminum obatnya, Pak Budi segera melajukan mobilnya kembali.


"Pak Budi," sapa Arumi sambil menatap punggung lelaki itu.


"Ya, Non."


"Nanti, jika Mama bertanya apapun tentang Mas Adnan kepada Pak Budi. Pak Budi jangan berkata jujur, ya. Jangan pernah katakan bagaimana perlakukan Mas Adnan kepadaku selama ini. Aku tidak ingin Mas Adnan semakin jelek dimata Mama," lirih Arumi.


Pak Budi menghembuskan napas berat. Padahal mulutnya sudah gatal ingin mengadukan bagaimana perlakuan Adnan terhadap Arumi selama ini kepada Bu Rahma. Namun, karena Arumi sendiri yang memintanya, dengan terpaksa Pak Budi pun harus diam.


"Baiklah, Nona."


"Seandainya saja Tuan Adnan membuka hatinya sedikit saja kepada Nona Arumi, mungkin ia bisa melihat sisi baik Istrinya yang selama ini selalu ia anggap manja dan cengeng," batin Pak Budi.


Tidak berselang lama, mobil yang dikemudikan oleh Pak Budi pun tiba di kediaman Nyonya Rahma. Setelah memarkirkan mobilnya, Pak Budi bergegas membukakan pintu mobil untuk Arumi dan membantu membawakan barang bawaannya.


"Lho, Arumi?!"


Nyonya Rahma bergegas menghampiri Arumi. Ia memperhatikan penampilan Arumi dan ia yakin anak semata wayangnya itu sedang ada masalah.


"Ma, Arumi kangen Mama," ucap Arumi sembari memasang senyuman semanis mungkin kepada Ibunya.


"Arumi sayang, kamu kok bawa banyak barang? Apa kamu ...?"


"Bukan, Mah. Arumi cuma mau nginap untuk beberapa hari disini karena Mas Adnan sedang ada tugas diluar kota. Jadi, Arumi milih menginap disini daripada diam disana. Disana sunyi tanpa Mas Adnan," tutur Arumi sambil tersenyum hangat menatap sang Ibu.ย 


Tidak semudah itu bagi Nyonya Rahma mempercayai penuturan Arumi. Apalagi setelah melihat penampilan kusut anak semata wayangnya itu. Ia yakin sekali anaknya dalam masalah, tetapi Arumi mencoba menyembunyikan semua itu dari dirinya.


"Ya sudah, mari kita masuk. Lagipula rumah ini, rumah kamu juga Arumi sayang. Kapanpun kamu mau mengunjungi rumah ini, pintu rumah ini selalu terbuka lebar untukmu," sahut Nyonya Rahma.


Nyonya Rahma menuntun Arumi memasuki rumah mereka. Namun, baru saja beberapaย  langkah, Arumi merasakan dadanya semakin sakit. Napasnya tersengal-sengal dan kepalanya terasa sangat berat.


Brugkh ...


Tubuh Arumi jatuh ke tanah dan tak sadarkan diri. Nyonya Rahma panik, ia segera meraih tubuh anaknya kemudian menepuk-nepuk pipinya agar Arumi sadar.


"Arumi, Arumi! Kamu kenapa, Nak? Bangunlah Arumi sayang, jangan seperti ini. Mama takut," ucap Nyonya Rahma sembari menepuk pipi Arumi.


Karena Arumi tidak juga membuka matanya, Nyonya Rahma segera memerintahkan Pak Budi agar membawa Arumi ke Rumah Sakit.


"Pak, kita bawa ke Rumah Sakit saja! Cepat, Pak! Aku tidak ingin anakku kenapa-napa!"


"Baik, Nyonya!"


Pak Budi segera mengangkat tubuh Arumi dan memasukkannya kedalam mobil dengan ditemani oleh Nyonya Rahma. Nyonya Rahma tiada hentinya menangis sambil memanggil-manggil nama Arumi. Ia sangat takut kehilangan anak semata wayangnya itu.


"Sayang, bangunlah! Jangan tinggalkan Mama. Mama tidak sanggup jika harus kehilanganmu. Mama bisa gila, Arumi!" ucap Nyonya Rahma sambil menciumi wajah pucat Arumi yang kini sedang berada didalam pelukannya.


Perjalanan yang hanya memakan waktu sekitar 15 menit itu terasa berjam-jam bagi Nyonya Rahma. Ia sudah tidak sabar ingin secepatnya tiba di Rumah Sakit.


"Cepat, Pak!" titah Nyonya Rahma.


Tidak berselang lama, akhirnya mereka tiba di Rumah Sakit yang biasa menangani penyakit Arumi selama ini. Beruntung para petugas medis di Rumah Sakit itu sigap. Mereka segera membawa Arumi agar nyawa wanita itu segera tertolong.


"Pak Budi, sebenarnya apa yang terjadi pada Arumi? Entah mengapa aku rasa selama Arumi tinggal bersama suaminya, penyakitnya malah sering sekali kambuh?! Berat badannya bahkan sampai merosot seperti itu?! Katakan padaku yang sebenarnya, Pak Budi. Jangan ada yang disembunyikan."


Pak Budi terdiam. Ia menundukkan kepalanya tanpa berani melihat kepada Majikannya tersebut. Ia sudah berjanji pada Arumi bahwa ia tidak akan mengatakan apapun tentang kehidupan Arumi dan Adnan kepada Nyonya Rahma.


...***...


Hai Reader! Mumpung hari senin, Author mau ngemis Vote, ah ... dan buat yang udah kasih Vote, like, komentar, tips dan hadiah Author ucapkan Terima Kasih banyak ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜