
"Keyla? Keyla sayang? Kamu kenapa?"
"Aku sudah mengantuk, Mas. Aku mau tidur," jawab Keyla tanpa membuka matanya yang sudah terpejam sejak tadi.
"Ah, syukurlah. Aku kira kamu pingsan." Ardhan terkekeh pelan sembari melabuhkan ciuman hangat di kening Keyla.
Keyla tidak menjawab, ia sudah larut ke alam mimpinya. Ardhan berbaring di samping Keyla sambil memperhatikan wajah Keyla yang sedang tertidur dengan seksama.
"Betapa bodohnya aku, Key. Aku pernah mengabaikan dirimu dan beruntung Tuhan masih bersedia memberikan kesempatan kedua untukku. Aku berjanji tidak akan pernah melakukan kesalahan itu lagi."
Ardhan membelai lembut wajah Keyla kemudian meraih tubuh gadis tomboy itu kedalam pelukannya.
Keesokan harinya.
"Aaakhh!!!" teriak Keyla ketika sadar ada sebuah lengan kekar sedang melingkar di perutnya.
Keyla yang belum sadar seutuhnya, mendorong Ardhan yang masih terlelap di sampingnya dengan keras.
"Siapa kamu! Berani-beraninya kamu menyelinap ke kamarku!" geram Keyla dengan mata membulat.
Ardhan begitu terkejut. Nyawanya bahkan belum terkumpul sepenuhnya, tetapi ia sudah mendapatkan serangan mendadak kedua dari gadis tomboy itu. Ardhan mengucek matanya kemudian menatap lekat Keyla.
"Ini aku Ardhan, Key. Suami kamu! Dan kita sedang berada di hotel, apa kamu ingat? Kita baru saja menikah kemarin. Jangan bilang kalau kamu juga lupa bahwa tadi malam kita sudah bercinta dengan hebatnya," ucap Ardhan.
"Ya, Tuhan! Maafkan aku, maafkan aku."
Keyla yang baru saja tersadar segera menghampiri Ardhan dan memeluk lelaki itu dengan erat.
"Maafkan aku, Mas. Aku benar-benar lupa, aku kira tangan itu milik siapa, eh tidak tahunya milik Es Batu."
"Es Batu?"
"Bukan apa-apa, Mas. Sudahlah, lupakan saja. Sebaiknya aku mandi dulu."
Keyla melerai pelukannya kemudian perlahan turun dari tempat tidur mewahnya. Tiba-tiba Keyla terdiam sejenak sambil merasakan area pribadinya yang masih terasa perih.
"Aduh, masih sakit ternyata. Aku kira setelah bangun tidur rasa perih ini akan segera menghilang," gumam Keyla sembari menyeret kakinya menuju kamar mandi.
Ardhan masih memperhatikan Keyla dan ia merasa lucu sekaligus kasihan melihat Keyla yang jalannya kelihatan aneh.
"Kamu baik-baik saja, Keyla sayang?"
"Ya."
"Baik-baik apanya. Sakit begini, untung aku tidak pingsan. Ternyata apa yang dikatakan oleh Kak Danish dan Danisha itu ada benarnya. Malam pertama memang terasa sangat menakutkan. Ya, walaupun ada nikmat-nikmatnya juga," gumam Keyla yang masih menyeret kakinya.
Ardhan bangkit kemudian menghampiri Keyla. Tanpa bertanya-tanya lelaki itu mengangkat tubuh Keyla.
"E-eh, jangan, Mas. Keyla bisa jalan sendiri."
Setibanya di kamar mandi, Ardhan meletakkan tubuh Keyla yang memang masih polos secara perlahan ke dalam Bath Up. Setelah memutar kran dan mengisi Bath Up tersebut dengan air hangat, ia pun segera menyusul masuk kemudian duduk di belakang Keyla.
"Kamu tidak jera 'kan, Key?" tanya Ardhan sembari menciumi pundak dan tengkuk mulus Keyla.
"Tidak lah, Mas."
"Syukurlah kalau begitu. Aku takut kamu jera dan tidak ingin melakukan itu lagi bersamaku, 'kan gawat. Bisa-bisa Juniorku berontak," Ardhan pun terkekeh pelan.
"Ish, tidaklah."
Setelah selesai melakukan ritual mandi ala mereka, pasangan pengantin baru itupun segera berpakaian dan bersiap kembali ke kediaman Tuan Keanu untuk sementara waktu.
"Ayo, Keyla sayang."
"Sedikit lagi," ucap Keyla sembari merapikan pakaiannya.
Ardhan memperhatikan penampilan Keyla yang tidak seperti biasanya. Gadis tomboy itu terlihat lebih feminin dan jauh lebih cantik. Ardhan meletakkan koper yang sejak tadi ia pegang kemudian berjalan menghampiri Keyla dan memeluknya dari belakang.
"Dress?"
"Kenapa, apa aku terlihat jelek?"
Keyla memperhatikan penampilannya sekali lagi dan ia takut Ardhan tidak menyukainya.
"Tidak, Key. Malah sebaliknya, kamu terlihat sangat cantik."
"Apa kamu menyukainya?"
"Tentu saja, kenapa tidak?"
Keyla berbalik dan mereka pun berdiri dengan posisi saling berhadapan. Kedua tangan Keyla melingkar ke leher suaminya itu.
"Aku cinta kamu, Es Batu. Walaupun kamu sering membuat aku kecewa dan kesal, tetapi tidak bisa ku pungkiri, aku tidak bisa membohongi perasaanku padamu."
Ardhan tersenyum sembari mengelus kedua pipi mulus Keyla. "Aku memang bodoh, Keyla. Aku berpura-pura tidak peduli padamu, padahal selama ini aku begitu peduli. Sehari saja kamu tidak muncul dan mengganggu hidupku, aku pasti merasa ada yang kurang dalam diriku."
"Tapi sekarang kamu harus siap, Mas Ardhan. Karena aku akan selalu berada di sisimu setiap hari. Aku akan selalu mengganggumu, membuatmu kesal dan mengacaukan setiap harimu."
"Tidak masalah karena itu adalah pilihanku."
"Apa kita akan terus seperti ini, Mas? Kalau kita terus seperti ini, kapan kita balik?"
Ardhan terkekeh pelan. "Siapa yang mulai duluan?"
"Kamu," jawab Keyla sembari memeluk lengan Ardhan kemudian melangkah bersama sang suami keluar dari kamar itu.
...***...