
Setibanya didepan kediaman Keanu, Bi Iyem sudah menyambut kedatangan Keanu dan Naila.
"Oh, Tuhan. Terima kasih banyak!" gumam Bi Iyem dengan mata berkaca-kaca menatap Naila yang baru saja keluar dari mobil.
"Bi! Bibi, Naila kangen!" Naila dengan langkah cepat menghampiri Bi Iyem kemudian memeluk tubuh tua itu.
"Bibi juga, Naila. Bibi kangen sama Naila," Bi Iyem bahkan tidak bisa menahan airmatanya lagi. Ia terisak sembari memeluk tubuh mungil Naila.
"Bagaimana kabarmu, Nak. Dan bagaimana kabar dede bayimu?" tanya Bi Iyem. Bi Iyem melepaskan pelukan mereka kemudian memperhatikan tubuh Naila yang terlihat lebih berisi dari sebelumnya. Dan perutnya sudah sangat besar menjadi perhatian Bi Iyem.
"Ya ampun, Naila. Lihat perutmu sudah sebesar ini, pasti sudah mendekati hari persalinan, ya?"
Naila pun tersenyum. "Iya, Bi. Dan dede Naila ada dua lo, Bi!" seru Naila sembari membelai perutnya.
"Bibi turut senang mendengarnya. Semoga lahiran nanti semuanya berjalan dengan lancar," ucap Bi Iyem dengan sangat antusias.
"Ya, Bi. Terima kasih doanya," sahut Naila.
"Ya, sudah! Ngobrolnya didalam aja," sela Keanu sembari menarik tangan Naila kemudian menuntunnya masuk kedalam rumah.
Naila melangkah menyusuri ruangan demi ruangan yang ada dirumah megah itu. Dengan disusul oleh Bi Iyem dan Sid. Naila terdiam dan wajahnya nampak sedih mengingat dirumah itu banyak sekali kenangan-kenangan yang menyakitkan, yang ia lewati disana.
Namun, ketika Keanu ingin menuntun Naila memasuki kamar mereka, Naila malah terus melangkahkan kakinya menuju dapur. Dan hal itu membuat Keanu kembali kebingungan.
"Loh, Naila? Kamar kita disini, bukan disana," ucap Keanu.
Naila sontak terkejut. Ia lupa bahwa ia sekarang sudah menjadi Nyonya dirumah itu dan bukan lagi sebagai pelayan. Naila tersenyum kecut sembari mengelus tengkuknya. "Aku lupa,"
"Ya ampun, Nai!" Keanu menggelengkan kepalanya sambil terkekeh.
Keanu kembali menuntunnya menuju kamar baru mereka di lantai dasar. Ia sengaja memilih kamar itu sebagai kamar mereka agar Naila tidak perlu repot naik turun tangga lagi.
"Bagaimana, Naila? Apa kamu menyukainya?" ucap Keanu sembari memperlihatkan kamar baru mereka kepada Naila.
Naila memperhatikan sekeliling kamar. "Bagus! Aku suka. Ehm, sebentar! Apa kita akan tidur disini? Berdua?" tanya Naila dengan wajah cemas.
"Ya, tentu saja. Bukankah kita suami istri, Naila?" Keanu tersenyum nakal dan mencoba menggoda Naila.
Naila memundurkan langkahnya dan menjaga jarak dari lelaki itu. "Ish! Kamu mau apa?!" tanya Naila penuh selidik.
Keanu tergelak melihat ekspresi Naila saat itu. Apalagi wajahnya sudah mulai memucat. "Tenang saja, Naila. Aku masih memegang teguh janjiku padamu!" jawab Keanu sembari mencubit pelan hidung Naila.
Keanu perlahan menanggalkan kemeja yang sedang ia kenakan, dengan posisi membelakangi Naila yang masih mematung. Kini terlihat jelas bentuk tubuh Keanu yang atletis dengan kulit eksotisnya. Naila sempat terpaku melihat tubuh Keanu. Namun, hanya sebentar. Ia segera menutup matanya dengan kedua tangan.
"Jangan dilihat, jangan dilihat, jangan dilihat!!!" gumam Naila.
Keanu menanggalkan satu persatu pakaian yang sedang ia kenakan. Dan kini hanya tinggal celana boxer saja yang masih melekat erat di tubuhnya. Keanu berbalik dan kini tatapan Keanu tertuju pada Naila yang masih menutup matanya dengan kedua tangan. Keanu segera menghampiri wanita itu sembari tersenyum hangat.
Perlahan, Keanu meraih tangan Naila yang menutupi kedua matanya. Hingga kedua mata merekapun akhirnya saling bertaut satu sama lain. Keanu meletakkan tangan Naila ke dadanya kemudian berucap. "Nai, percayalah padaku, aku akan memegang erat janjiku padamu," ucap Keanu.
Mata Naila membulat. Jantungnya berdegub kencang, serasa ingin meledak saat itu juga. Ini pertama kalinya ia dan Keanu berada dalam posisi sangat dekat dan dalam kondisi sadar. Keanu tersenyum, ia merasakan tangan Naila bergetar saat menyentuh tubuhnya.
"Lepaskah aku,"
Sementara Keanu masuk kedalam kamar mandi, Naila mencoba menenangkan dirinya. Perlahan Ia duduk di tepian tempat tidurnya sambil memukul-mukul kedua pipinya. "Astaga Naila! Jangan bodoh! Jangan biarkan ia kembali mencuri hatimu kemudian mencampakkannya lagi! Itu akan lebih menyakitkan, Naila!" seru Naila.
Sambil menunggu Keanu selesai membersihkan dirinya dikamar mandi, Naila mulai mengatur tempat tidur mereka. Setelah beberapa saat, Keanu pun keluar dari kamar mandi tersebut. Tubuh polosnya hanya ia tutupi dengan handuk kecil yang melingkar di pinggangnya.
Keanu tersenyum kepada Naila yang kini menatapnya tanpa berkedip. "Kenapa? Apa aku terlihat tampan?" goda Keanu sambil mengedipkan matanya.
"Jangan geer! Aku cuma belum terbiasa dengan pemandangan seperti ini," kesal Naila.
Keanu hanya bisa tersenyum. Dan kini tatapannya beralih keatas tempat tidur. Keanu mengerutkan kedua alisnya ketika melihat pemandangan aneh diatas tempat tidur mereka.
"Apa ini?"
Keanu menunjuk pada kumpulan bantal dan guling yang disusun oleh Naila sedemikian rupa, hingga membentuk benteng ditengah-tengah tempat tidur mereka.
Naila menyeringai sambil menatap Keanu. "Itu adalah pembatas antara aku dan kamu! Kamu tidak boleh melewati batas itu, begitupula aku, aku juga tidak boleh melewati batas itu!" sahut Naila puas.
Keanu menggaruk kepalanya sambil memasang wajah masam. "Lalu bagaimana caranya aku bisa membelai kedua bayiku, kalau benteng yang membentang diantara kita saja setinggi ini?!" Keanu kembali menunjuk pembatas mereka. Namun, matanya tetap tertuju pada wanita muda yang berdiri di hadapannya itu.
"Ha! Jangan bermimpi!" Naila melenggang pergi menuju kamar mandi.
Keanu menggaruk kepalanya sambil memperhatikan Naila yang sudah menjauhinya. "Dasar bocah! Ya Tuhan, semoga aku bisa selalu sabar menghadapi sikapnya," keluh Keanu.
Malam pun tiba,
Naila yang sudah bersiap diatas tempat tidur, tidak berani memejamkan matanya sebelum lelaki itu tidur terlebih dahulu. Naila berbaring dengan posisi menghadap tembok, dengan tubuh tertutup selimut. Keanu hanya bisa tersenyum melihatnya. Perlahan ia membaringkan tubuhnya sambil menatap langit-langit kamar.
"Nai?"
"Hemm," gumam Naila dari dalam selimut.
"Aku kira kamu sudah tidur,"
Kamar itu kembali hening, seperti tak ada penghuni didalamnya. Setelah satu jam berlalu, Keanu kembali membuka suaranya. Namun kali ini lebih pelan.
"Nai?"
Tidak ada jawaban apapun dari dalam selimut. Dan hal itu membuat Keanu penasaran.
"Naila ...."
Masih tidak ada jawaban dari bibir mungil yang tersembunyi dari balik selimut. Hingga akhirnya Keanu memberanikan diri menghampiri wanita itu.
"Nai?"
Perlahan, Keanu menyingkirkan bantal dan guling yang disusun oleh Naila. Kemudian ia menyingkap selimut yang menutupi tubuh Naila. Ternyata wanita itu tengah tertidur pulas. Terdengar suara deru napasnya yang lembut keluar dari hidungnya. Sembari tersenyum, Keanu mengelus puncak kepala Naila dan meninggalkan sebuah kecupan disana.
"Selamat tidur Naila, mimpi indah," bisik Keanu.
...***...