Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Makan Malam


Arumi bersikeras memaksa pulang hari itu juga kepada Dokter, walaupun sebenarnya Dokter tidak mengizinkannya. Namun, karena itu permintaan Pasiennya, Dokter pun tidak bisa memaksa wanita itu untuk tetap tinggal lebih lama lagi.


"Arumi, penyakit asma mu sudah semakin parah. Kalau saja Pak Budi terlambat mambawamu ke Rumah Sakit, mungkin  nyawa mu sudah tidak akan tertolong lagi," ucap Dokter itu.


Arumi menekuk wajahnya sambil menatap Dokter itu. Dokter cantik yang selama ini sudah seperti Kakaknya sendiri. "Ih, Kak Dokter mah ngomongnya begitu ..." sahut Arumi.


"Bukan begitu, Manis! Kakak tu cuma ingin kamu lebih perhatian lagi sama penyakitmu ini." ucap Dokter cantik itu sambil terkekeh pelan.


"Baiklah, Kak Dokter! Aku akan selalu mengingat kata-katamu. Dan terima kasih atas bantuannya selama ini. Aku sayang kamu Kak Dokter!" tutur Arumi sembari membentangkan kedua tangannya kepada Dokter itu.


Dokter cantik itu menghampiri Arumi dan memeluknya dengan erat. "Sama-sama, Arumi. Kakak pun sayang sama kamu. Semangat terus, ya! Jangan sedih-sedih lagi," ucap sang Dokter.


Arumi pun berpamitan kepada Dokter itu.


. . .


"Arumi, biarkan Mama ikut, yah! Mama masih mengkhawatirkan keadaanmu, Nak," lirih Nyonya Rahma dengan wajah sendu menatap Arumi. Nyonya Rahma ingin sekali menemani Arumi untuk beberapa hari kedepan, tetapi Arumi terus menolaknya. Ia tidak ingin Mamanya tahu bagaimana hubungannya dengan Adnan selama ini.


"Tidak usah, Mah.  Nanti Arumi malah menyusahkan Mamah lagi. Lagipula kondisi Arumi saat ini sudah lebih baik. Arumi bisa jaga diri kok, Mah. Dan apa Mamah sudah lupa? Arumi kan sudah punya Mas Adnan yang akan jagain Arumi," sahut Arumi sambil tersenyum semanis mungkin agar Mamanya yakin bahwa hubungannya dengan Adnan berjalan dengan baik.


Nyonya Rahma mengembuskan napas berat. "Baiklah kalau begitu. Jaga dirimu baik-baik ya, Nak!"


Setelah berpamitan kepada Ibunya, Arumi pun segera memerintahkan Pak Budi untuk mengantarkannya pulang.


Setibanya di rumah, Arumi bergegas masuk dan ternyata Adnan belum pulang dari tempat kerjanya. Tiba-tiba saja Arumi punya ide untuk menyambut kedatangan Suaminya nanti. Walaupun kondisi  masih belum pulih seratus persen, wanita itu masih ingin melakukan sesuatu yang mungkin bisa membuat Adnan melihat kesungguhannya.


Arumi melangkah menuju dapur dan mengambil bahan-bahan makanan yang ingin ia masak untuk suaminya. Setelah mengambil bahan makanan itu dari dalam kulkas, Arumi meletakkannya diatas meja dan siap untuk dieksekusi.


"Nona, anda sedang apa?" tanya Pelayan


"Sini Bi, bantu aku. Aku ingin membuat masakan untuk menyambut kedatangan Suamiku nanti," ucap Arumi penuh semangat.


Pelayan itu menautkan kedua alisnya sambil memperhatikan Majikannya tersebut. "Nona, bukankah anda masih sakit? Seharusnya anda beristirahat saja dikamar, sama seperti yang diucapkan oleh Dokter," tutur Pelayan.


"Tidak apa-apa kok, Bi. Ini tidak akan membuatku lelah." Arumi bersikeras ingin memasak untuk Adnan dan meminta Pelayannya itu agar membantunya. Mau tidak mau, Pelayan itupun menuruti keinginan Majikannya tersebut.


Setelah beberapa saat, akhirnya masakan pertama Arumi pun siap dihidangkan. Walaupun cuma bermodal nekat dan tidak tahu bagaimana reaksi Adnan ketika mencicipi masakannya, paling tidak Arumi sudah berusaha sebaik mungkin.


Arumi menata makanan yang sudah ia masak keatas meja makan dengan dibantu oleh Pelayannya.


"Akhirnya selesai juga! Semoga Mas Adnan menyukainya dan bersedia memaafkan kesalahan ku," gumam Arumi sambil tersenyum puas.


Arumi bergegas kembali ke kamarnya. Ia ingin membersihkan dirinya dan bersiap-siap menyambut kedatangan Adnan. Setelah selesai melakukan ritual mandinya, Arumi memilih dress yang paling cantik menurutnya. Ia juga berdandan secantik mungkin agar wajahnya yang masih pucat terlihat lebih segar. Rambut pirangnya yang selalu ia gerai, kini disanggul dengan indah. Selaras dengan dress indah yang sekarang ia kenakan.


"Apa aku sudah terlihat cantik? Apa Mas Adnan akan menyukaiku?" Arumi bertanya-tanya sembari menatap bayangannya didalam cermin.


"Semoga saja Mas Adnan menyukainya." Arumi bangkit dari tempat duduknya kemudian melangkah menuju ruang makan. Ia kembali menghias meja makannya agar terlihat cantik.


"Hmmm, Perfect! Sekarang kamu lihat kan, Mas Adnan! Aku bukanlah gadis manja yang hanya bisa merengek pada Mamaku, sama seperti yang sering kamu katakan padaku!" gumam Arumi sambil tersenyum puas.


Tik ... tok ... tik ... tok ...


Detik berganti menit dan menit pun berganti jam. Namun, hingga jam di dindingnya menunjukkan pukul 22.00, Adnan belum juga pulang dari tempat kerjanya.


Arumi sudah berkali-kali mencoba menghubungi nomor ponsel Adnan dan puluhan kali ia mengirimkan pesan chat. Namun, Lelaki itu sepertinya enggan menerima panggilan darinya. Bahkan pesan chat pun hanya centang dua berwarna abu.


Tetapi seperti janjinya, ia tidak akan menyerah begitu saja. Ia akan terus berusaha merebut kembali hati Adnan dari Naila walau bagaimanapun caranya.


Arumi masih setia menunggu walaupun sebenarnya ia sangat lelah dan butuh istirahat. Namun, demi sang pujaan hati, Arumi rela menunggu disana walaupun sampai pagi.


Tidak berselang lama, akhirnya pintu rumahnya terbuka. Tampaklah seorang lelaki tampan dengan wajah kusut. Arumi tersenyum, ia bergegas menghampiri Adnan dan menyambut kedatangan Suaminya itu.


"Sayang, baru pulang?" sapa Arumi sembari menyambut Chef Jacket dari tangan Suaminya itu.


"Ya, pekerjaan ku banyak sekali hari ini dan aku sangat lelah!" sahut Adnan sembari melangkahkan kakinya menuju kamar.


"Ah, Sayang! Coba lihatlah, aku punya kejutan untukmu." Arumi coba mengajak Adnan untuk mengikutinya ke ruang makan.


Namun, Lelaki itu menolaknya. Ia menepis tangan Arumi sambil berucap. "Nanti saja, aku sudah lelah. Aku ingin istirahat!"


Adnan melenggang menuju kamar, sedangkan Arumi hanya bisa menatapnya dengan wajah sedih hingga lelaki itu menghilang dari pandangannya. Arumi berbalik kemudian melangkah menuju ruang makan. Ia meletakkan Chef Jacket milik Adnan dan meletakkannya disalah satu sandaran kursi.


Arumi menatap makanan yang tertata indah diatas meja dengan wajah sendu. Hatinya kembali tersayat ketika perjuangannya sama sekali tidak dianggap oleh Suaminya.


"Ya, sudahlah ... biar aku makan sendiri saja!" gumam Arumi sembari mengisi piringnya dengan makanan.


Sambil menitikkan air matanya, Arumi terus memasukkan makanan itu ke mulutnya, walaupun ia sama sekali tidak lapar. Rasa laparnya sudah hilang ketika Adnan menolak ikut dengannya.


Ternyata Pelayan di rumahnya belum tidur. Ia menatap sedih kepada Arumi yang menikmati makan malamnya sendirian.


"Nona, tidak apa-apa?" tanya Pelayan itu.


"Bibi? Kebetulan sekali. Mari, Bi! Temani aku," ucap Arumi sambil menyeka air matanya. Ia mengambil piring kosong kemudian mengisinya dengan makanan dan menyerahkannya kepada Pelayannya itu.


Walaupun ia sudah kenyang, tetapi demi sang Majikan, Pelayan itupun bersedia menemani Arumi memakan makanan itu.


"Kurang enak ternyata ya, Bi! Huft ... untung Mas Adnan tidak mencicipinya," seru Arumi sambil tersenyum kecut.


"Makanannya enak lho, Non. Walaupun ini adalah masakan pertama yang pernah Nona buat, tetapi Nona berhasil membuatnya," sahut Pelayan it.


"Masa sih, Bi?! Ehm, sepertinya aku harus belajar banyak sama Mas Adnan."


...***...


Reader, bagi yang masih pengen membaca lanjutan cerita Arumi dan Adnan, ceritanya masih berlanjut kok. Insyaallah tiap hari akan di UP seperti biasa. Namun, ceritanya Author kasih lebel End dulu ya, siapa tahu bisa bikin naik level. Soalnya level karya ini ngenes 😰😵 bulan tadi aja diturunin sama NT.