Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Surat Perceraian


"Oh, astaga Ayah! Bisakah kita membeli rumah yang lebih layak daripada ini?!" hardik Melisa sembari menghempaskan kopernya ke lantai.


Tuan Rendra menggelengkan kepalanya, sedangkan Nyonya Rita tidak bicara sepatah katapun sejak ia meninggalkan kediaman mewahnya.


"Ini juga sudah bagus, Melisa. Walaupun sederhana, paling tidak fasilitasnya masih lengkap. Ada listrik, air, kamar mandi dan sebagainya. Belajarlah untuk lebih bersyukur," tutur Tuan Rendra sembari masuk kedalam kamar barunya.


"Bersyukur?! Apa yang harus disyukuri kalau tempatnya saja seperti ini! Kamarku bersama Keanu bahkan lebih besar dari rumah ini!" gumam Melisa sambil menyeret kopernya kedalam kamar barunya.


"Ya, Tuhan! Bahkan AC nya saja tidak berfungsi!" teriaknya.


"Sudah cukup, Melisa! Apa kamu tidak lihat, Ibu juga sama menderitanya ! Apalagi sekarang kita tidak memiliki satu orang Pelayan pun dirumah ini. Dan kamu tau apa itu artinya?! Artinya kita harus memasak makanan untuk kita sendiri, Melisa!" kesal Nyonya Rita.


Nyonya Rita duduk di tepian tempat tidur milik Melisa. Ia menangis tersedu-sedu sambil menutup wajahnya. "Aku tidak menyangka hidupku akan jadi seperti ini!" gumam Nyonya Rita disela isak tangisnya.


"Sudahlah, hentikan tangis kalian! Lagipula perjuangan kita masih panjang. Oh ya, hampir saja aku lupa! Sid sedang menunggumu diluar, Melisa," ucap Tuan Rendra


Nyonya Rita dan Melisa saling tatap dengan wajah heran. "Sid? Apa jangan-jangan?!" Melisa bergegas menuju ruang tamu dan ternyata benar, Sid sudah menunggunya disana.


Lelaki itu menatap Melisa dengan tatapan dingin walaupun Melisa sudah mencoba tersenyum manis kepadanya. "Ya, Sid. Ada apa?" tanya Melisa sembari duduk di sofa sederhana yang ada dirumah barunya.


"Maaf jika kedatangan saya mengganggu waktu anda, Nona Melisa. Saya hanya ingin meminta waktu anda sebentar untuk menandatangani surat ini," ucap Sid sembari menyerahkan berkas yang ada di tangannya dan sebuah ballpoint untuk Melisa menandatangani berkas itu.


"Apa ini?" tanya Melisa sembari menyambut berkas itu dengan wajah heran.


"Silakan dibaca dulu, Nona." sahut Sid.


Melisa membaca berkas itu dengan seksama. Wajahnya memerah dan emosinya kembali naik setelah mengetahui bahwa itu adalah surat perceraian yang harus segera ia tandatangani.


"Aku kira Keanu hanya mengancamku saja! Ternyata aku salah, dia benar-benar melakukannya!" hardik Melisa penuh emosi.


"Sudahlah, Melisa, tandatangani saja! Apa kamu tidak malu masih mengharapkan Keanu. Sudah jelas-jelas anak di kandunganmu bukan anaknya!" kesal Tuan Rendra yang kebetulan ada di ruangan itu.


Dengan penuh emosi, Melisa menandatangani surat perceraian itu kemudian melemparkannya dengan kasar kearah Sid.


"Ambil ini, sekarang kalian puas!!!" teriak Melisa sembari pergi dari ruangan itu kemudian masuk kedalam kamarnya. Melisa membanting pintunya dengan kasar hingga semua orang yang berada di rumah itu terkejut dibuatnya.


Tuan Rendra menghembuskan napas berat kemudian berucap, "Maafkan Melisa ya, Sid."


"Tidak apa-apa, Tuan Rendra. Dan terimakasih atas waktunya." Sid pamit kepada Tuan Rendra kemudian melaju dengan mobilnya.


"Kamu lihat bagaimana kelakuan anakmu, Rita! Itu karena kamu selalu memanjakannya. Kamu selalu menuruti semua keinginannya, bahkan pergaulannya pun, tidak pernah kamu perhatikan. Dan sekarang lihatlah hasilnya, saking bebasnya anakmu, ia hamil dengan siapa dan menikahnya dengan siapa?!" kesal Tuan Rendra.


"Sudah cukup! Jangan terus menambah masalah dirumah tangga kita, Rendra! Aku sudah cukup shok dengan kebangkrutanmu, belum lagi masalah Melisa yang semakin runyam. Dan sekarang, kamu malah melimpahkan semua kesalahan yang dilakukan oleh Melisa kepadaku!" Tangis Nyonya Rita kembali pecah.


Tiba-tiba Melisa keluar dari kamarnya dengan tergesa-gesa hingga membuat Tuan Rendra dan Nyonya Rita terkejut.


"Menyingkirkan Pelayan bodoh itu! Aku tidak akan pernah membiarkan ia kembali ke sisi Keanu. Jika aku tidak bisa memiliki Keanu, iapun tidak!!!" sahut Melisa sambil terus melangkah dengan cepat.


Tuan Rendra meradang mendengarnya, ia bergegas menyusul Melisa. Dan setelah berhasil menangkap tangannya, Tuan Rendra menarik paksa Melisa kembali ke rumah mereka.


"Lepaskah aku, Ayah! Biarkan aku menyingkirkan wanita bodoh itu!" hardik Melisa sembari ingin melepaskan tangan Ayahnya yang terus menariknya dengan kasar. Hingga akhirnya Tuan Rendra berhasil membawa Melisa masuk kedalam rumahnya.


Melisa menarik tangannya dari genggaman Tuan Rendra dengan kasar.


"Jangan lakukan hal bodoh, Melisa. Sudah cukup membuat kesalahan. Tidak bisakah kamu bertobat dan mencoba menerima keadaanmu sekarang?! Dan jika seandainya Keanu memilih wanita itu, itu wajar. Wanita itu berhak atas Keanu karena dia sedang mengandung anaknya," tutur Tuan Keanu sembari menenangkan emosi Melisa yang sedang meluap-luap.


"Tapi aku tidak bisa, Ayah! Aku tidak akan hidup tenang jika Keanu memilih bersama gadis dungu itu! Mereka hidup enak disana, sedangkan aku? Aku akan terus menderita disini, hidup miskin bersama anak ini!" kesal Melisa


"Kali ini Ayah tidak akan membiarkan kamu menyentuh Naila, Melisa. Sudah cukup penderitaan yang ia rasakan. Sekarang sudah waktunya ia bahagia bersama Keanu dan anaknya," ucap Tuan Rendra.


Melisa mengernyitkan alisnya. Ia merasa bingung karena Ayahnya selalu membela Naila. Dan ini bukan pertama kalinya, ini sudah kesekian kalinya Tuan Rendra membela gadis itu.


"Aku heran dengan sikapmu, Ayah. Ayah selalu membela gadis dungu itu! Memangnya ada hubungan apa diantara kalian?" tanya Melisa dengan penuh selidik.


Tuan Rendra membuang napas berat sembari menatap wajah Melisa. "Kerena dia adalah anakku, Melisa. Anak kandungku yang selama ini aku telantarkan demi kalian," tutur Tuan Rendra dengan wajah sendu.


"A-apa?!" Melisa kembali shok. Ia memundurkan tubuhnya beberapa langkah kemudian menjatuhkan dirinya ke sofa.


"Ja-jadi, gadis itu adalah anak dari Ariana?!" tanya Nyonya Rita yang juga tidak kalah shok setelah mendengar pengakuan Tuan Rendra.


"Ya, Rita! Naila adalah anakku dengan Ariana, yang aku terlantarkan karena lebih memilih kalian," sahut Tuan Rendra.


"Berarti aku dan Naila saudara seayah, begitu?" tanya Melisa yang masih tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Tuan Rendra.


Tuan Rendra kembali menghembuskan napas berat. "Bukan, Melisa. Antara kamu dan Naila tidak memiliki hubungan darah apapun. Karena kamu bukanlah anakku," tutur Tuan Rendra.


"Rendra, cukup!" sela Nyonya Rita.


"Tidak, Rita. Ini sudah saatnya Melisa tahu yang sebenarnya. Tidak ada yang perlu kita sembunyikan lagi darinya. Dia sudah dewasa, dia pasti bisa menerima kenyataan ini," sambung Tuan Rendra.


"Apa lagi ini ... " lirih Melisa sembari memeluk perutnya yang kembali terasa sakit.


"Maafkan aku, Melisa. Aku harus mengatakannya dan kuharap kamu tidak akan berubah sikap denganku. Karena walaupun kamu bukanlah darah dagingku, aku tetap menyayangimu, seperti anakku sendiri," tutur Tuan Rendra.


Perut Melisa semakin sakit, ia meringis kesakitan dengan wajah yang memucat. "Bu, tolong Melisa!" rintihnya.


...***...