Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Bab 41


"Ish, tuh 'kan!"


Keyla menekuk wajahnya menatap pasangan itu dari kejauhan. Perasaan bahagianya sirna dan rasa sakit itu kembali mendominasi hatinya. Danisha mengerti bagaimana perasaan Adiknya saat itu. Ia menepuk lembut pundak Keyla sembari menyemangati gadis itu.


"Yang sabar ya, Key. Semua akan indah pada waktunya, percayalah."


Saat itu Naura tengah memilih-milih pakaian yang cocok untuk ia gunakan ke reunian minggu depan. Ia sudah mempersiapkan dirinya agar menjadi yang terbaik, sama seperti dahulu. Disaat Naura masih memilih-milih, mata Ardhan tiba-tiba tertuju pada kedua gadis cantik yang sedang duduk disebuah Cafe sambil memperhatikan kebersamaannya dengan Naura.


"Bukankah itu Keyla dan Danisha?" gumamnya.


"Ardhan, bagaimana menurutmu yang ini, apa ini cocok untukku?" tanya Naura sembari menenteng sebuah dress pendek selutut berwarna baby pink kepada Ardhan.


Karena saat itu pikiran dan mata Ardhan tertuju pada dua gadis cantik di seberang mereka, lelaki itu tidak mendengar apa yang di ucapkan oleh Naura. Naura segera menoleh kepada Ardhan karena tak ada satupun jawaban yang keluar dari bibir lelaki itu.


"Ardhan?"


Naura meraih tangan Ardhan sambil memperhatikan wajahnya. Ardhan sontak terkejut kemudian membalas tatapan Naura saat itu.


"Ya?!"


"Kamu kenapa? Kenapa pertanyaanku tidak dijawab?" tanya Naura.


"Ehm, maafkan aku. Pikiranku terbagi. Aku sedang memperhatikan kedua sepupuku disana jadi aku tidak mendengar pertanyaan darimu," jawab Ardhan seraya menunjuk kearah Keyla dan Danisha.


Disaat Ardhan menunjuk kearahnya, Danisha tersenyum sembari melambaikan tangannya kepada lelaki itu. Naura refleks menoleh kepada kedua gadis cantik yang sedang duduk di seberangnya. Ia mengangkat sebelah alisnya kemudian berucap.


"Bukankah itu si gadis tomboy? Dan yang satunya itu Kakaknya 'kan?" tanya Naura.


"Ya," jawab Ardhan sambil membalas lambaian tangan Danisha.


"Sebaiknya kita temui mereka sebentar," ajak Ardhan kepada Naura yang tiba-tiba menekuk wajahnya. Ia kesal karena Ardhan memutuskan sesuatu sebelum ia berkata 'Ya' ataupun 'Tidak'.


Sambil menggandeng tangan Naura, Ardhan menghampiri meja Keyla dan Danisha. Keyla gugup saat itu, tangannya bahkan terasa sangat dingin. Ia memegang tangan Kakaknya sambil tersenyum kecut.


"Rileks!" bisik Danisha sambil melotot kepada Keyla yang hampir tidak bisa mengontrol emosinya.


"Aku gugup!" jawabnya, tidak mau kalah sama Sang Kakak.


"Sembunyikan perasaanmu dan bersikap lah sewajarnya! Jangan malu-maluin!" gerutu Danisha.


Akhirnya pasangan itu tiba di depan meja mereka. Danisha tersenyum hangat menyambut kedatangan sepupunya itu kemudian mengulurkan tangan kepada Ardhan.


"Hai Ardhan, apa kabar?"


"Biasalah, cewek. Shoping."


Sekarang tatapan Ardhan fokus pada gadis tomboy yang sama sekali tidak ingin menatapnya. Ia tersenyum tipis kemudian menyapa gadis itu.


"Key, apa kabar? Sudah lama tidak main kerumah. Mama dan Papa sering menanyakan kabarmu," tanya Ardhan.


"Baik!" ketus Keyla dengan tangan yang bersilang didepan dadanya. Matanya tetap menatap kearah lain dan sedikitpun tidak berkeinginan untuk membalas tatapan lelaki itu.


"Ayolah, Ardhan. Masih banyak yang harus aku beli," rengek Naura sambil menggoyang-goyangkan tangan Ardhan yang sedang menggenggam tangannya sengan erat.


Keyla sempat melirik tangan pasangan itu dan ia sangat ingin menggigitnya sampai gadis yang bernama Naura itu tidak berani lagi menyentuh tangan Ardhan. Namun, sayangnya itu hanya keinginannya belaka. Danisha tidak akan pernah membiarkan dirinya melakukan hal itu.


"Ah, iya. Aku hampir saja lupa. Key, Nisha, kenalkan ini Naura. Dia--"


"Kekasihmu, aku sudah tau!" sela Keyla, masih dengan ekspresi yang sama seperti tadi.


Ehm--"


"Ayo!!!"


Belum sempat Ardhan meneruskan jawabannya sampai selesai, Naura sudah menarik tangannya dan mengajaknya meninggalkan meja Keyla dan Danisha.


"Kakak lihat, 'kan? Si Es Batu begitu luluh jika berada di sampingnya si 'Ratu Sejagat'?!" kesal Keyla.


"Sudah, sudah. Sebaiknya kita pulang saja."


Danisha menarik tangan Keyla pelan dan mengajak Adiknya untuk pulang. Di sepanjang perjalanan menuju kediaman mereka, Keyla yang biasanya paling bawel dan bicara tanpa henti, sekarang malah menjadi gadis yang paling pendiam. Bibirnya tertutup rapat dan pandangannya menerawang lurus ke depan.


Danisha merasa Iba, ia meraih tangan Keyla kemudian menggenggamnya dengan erat. "Yang sabar ya, Dek. Semua akan indah pada waktunya," ucap Danisha.


Tatapan gadis itu masih sama seperti tadi. Raganya memang bersama Danisha, tetapi jiwanya entah berada dimana. Tak ada reaksi apapun, ia hanya diam seperti boneka manekin yang tidak bernyawa. Namun, bagi Danisha, Keyla adalah sosok gadis yang tangguh. Sebesar apapun permasalahannya, ia pantang menangis. Bahkan hingga saat ini pun, gadis itu tetap kuat dan tak ada airmata yang keluar dari sudut matanya.


Setibanya di kediaman mereka, Keyla tiba-tiba saja berucap. Kata-kata yang membuat Danisha tersenyum bahagia.


"Baiklah, aku sudah memikirkan semuanya. Mulai hari ini aku ingin berubah dan mencoba Move On dari si Es Batu! Semoga aku bisa! Amin!!!" ucap gadis itu menyemangati dirinya sendiri.


Danisha tersenyum puas kemudian segera memeluk tubuh Keyla.


"Begitu donk! Itu baru Adiknya Kak Nisha!"


...***...