
Bukannya pulang, Aditya malah menuju Apartemen Helen, wanita yang kini merajai hatinya. Aditya bergegas menuju kamar wanita itu setelah selesai memarkirkan mobilnya di halaman parkir.
Tok ... tok ... tok ...
"Helen, ini aku, Aditya!"
Tidak berselang lama pintu itupun terbuka. Nampak wajah cantik Helen yang sedang cemberut menatap Aditya.
"Untuk apalagi kamu kesini, bukankah kamu sudaj membatalkan acara dinner kita!" ketusnya.
"Helen, dengarkan aku!"
Helen ingin menutup pintunya kembali tetapi Aditya menahannya kemudian memaksa masuk kedalam ruangan itu. Setelah Aditya berhasil masuk, ia segera menutup pintu tersebut kemudian mengajak Helen untuk duduk bersamanya di tepian tempat tidur.
"Helen, coba dengarkan aku sebentar. Ada yang harus aku katakan padamu," bujuk Aditya.
Helen membuang pandangannya kearah lain. Ia benar-benar kesal kepada lelaki yang sedang duduk disampingnya.
"Helen, menikahlah denganku! Aku berjanji akan terus membahagiakan dirimu dan aku akan mengabulkan semua keinginanmu, asalkan kamu bersedia menikah denganku!"
Aditya menatap wajah Helen yang cemberut sambil memegang kedua pundaknya. Wanita itu bahkan tidak ingin membalas tatapannya.
"Aku belum siap untuk menikah! Aku tidak ingin terikat dengan dunia pernikahan! Apalagi kalau harus menjadi Ibu rumah tangga yang super sibuk dengan urusan rumah dan juga bocah kecil, iyyuhhh! Tidak akan!" bantahnya.
"Tapi, Helen! Jika kamu tidak bersedia menikah denganku, maka aku akan segera dinikahkan dengan seorang gadis kampungan pilihan Ayah! Aku tidak mau, aku hanya mencintai dirimu, Helen. Kumohon, menikahlah denganku!" lirih Aditya.
Kini Helen menatap lelaki menyedihkan itu. Ia tersenyum tipis sambil berucap, "Nikahi saja gadis itu, apa susahnya! Yang penting, 'kan hatimu masih milik aku dan aku tidak peduli pada statusmu, selama kamu masih bisa memenuhi semua kebutuhanku!"
. . .
Keesokan harinya.
"Darimana saja kamu, Dit?! Semalaman tidak pulang," hardik Pak Dodi pada Aditya yang baru saja menginjakkan kakinya di halaman rumah.
"Sudahlah, Ayah! Aku lelah,"
Aditya melengos dan masuk kedalam rumahnya tanpa mempedulikan wajah masam sang Ayah. Pak Dodi mencium bau menyengat ketika anak semata wayangnya itu melewatinya. Ia tahu bahwa lelaki itu habis minum-minuman keras.
"Lihatlah anakmu, Radia! Bahkan sekarang ia sudah belajar menyentuh minuman memabukkan itu!" kesalnya.
Istri Pak Dodi segera menghampiri suaminya yang sedang emosi. Ia mengelus punggung lelaki itu sembari berucap. "Sudahlah, Pak. Jangan terlalu dipikirkan, kita berdoa saja semoga setelah menikahi gadis itu, ia bisa berubah menjadi lebih baik," ucap sang Istri.
Sementara itu di kediaman Keanu dan Naila.
Karena hari ini adalah hari minggu, semua anggota keluarga kecil itu berkumpul diruang keluarga, termasuk Keyla. Gadis cantik yang hobinya bergelut dengan tempat tidurnya.
"Tumben pagi-pagi begini kamu sudah rapi, Key! Mau kemana?" tanya Naila sembari memperhatikan Keyla yang nampak cantik dengan baju kaos ketat serta celana jeans panjang membentuk kakinya yang jenjang.
"Keyla mau berkunjung kerumah Om Adnan, Mah! Sudah lama Keyla tidak main kesana," jawab Keyla.
"Hmm, menemui Om Adnan atau menemui Ardhan?" ledek Danish.
"Halah, aku saja! Bukannya kamu suka sama Ardhan? Bahkan di galeri ponselmu saja berhambur fotonya, ya 'kan?!" imbuhnya.
Wajah Keyla memerah menahan malu, membuat semua orang diruangan itu tertawa melihatnya.
"Ih, Kakak suka ngintipin ponselku ternyata!" kesal Keyla.
"Bukan, Kakak hanya asal nebak. Tapi, ternyata itu benar," Danish kembali tergelak.
"Ih!"
Keyla kesal, tetapi saat ia ingin pergi meninggalkan kediamannya, ia tetap berpamitan kepada keluarga kecilnya itu. Ia bergegas menuju garasi kemudian membawa keluar sebuah motor sport kesayangannya.
Setelah mengenakan jaket tebal serta penutup kepala, Keyla pun mulai menghidupkan mesin motornya.
Brummm ... brummm ...
Naila mengintip dari balik kaca sambil memperhatikan putri bungsunya itu. Setelah Keyla meninggalkan kediamannya, ia segera berbalik dan menatap Keanu dengan wajah masam.
"Lihatlah Keyla, Daddy kalian bahkan mendukung hobinya bersepeda motor. Sedangkan Mami ... mendekati sepeda motor pun tidak diperbolehkan!"
Sontak saja, ucapan Naila menjadi bahan tertawaan Suami dan Si Kembar Danish, Danisha.
"Apa kalian masih ingat, Danish, Nisha, ketika Mami kalian merusakkan motor baru Pak Ahmad?! Bagaimana Daddy bisa membiarkan Mami mendekati benda itu lagi, bisa-bisa Daddy semakin rugi dibuatnya!" tutur Keanu sambil terkekeh.
Sementara Mami, Daddy dan Danisha sedang asik membahas masalah motor, Danish malah sibuk sendiri dengan pikirannya. Ia memikirkan gadis manis penjual bunga, Nazia.
"Jika aku berkata jujur bahwa aku sedang jatuh hati pada gadis itu, apakah dia bersedia menerimaku? Lalu bagaimana reaksi kedua orang tuaku bahwa aku jatuh cinta pada gadis biasa yang mungkin tidak selevel dengan keluarga kami?!"
Danisha menyadari bahwa saudara kembarnya itu hanya terdiam sejak kepergian Keyla. Ia menyenggol tangan Danish kemudian bertanya kepada lelaki itu.
"Kamu kenapa, Kak?! Kayak habis kesambet setelah kepergian Keyla. Jangan-jangan kamu juga kangen sama Adriela, ciee ... ya 'kan!"
"Adriela, bocah ingusan itu? Yang benar saja," sahut Danish sambil terkekeh pelan.
"Hmm, tapi dia cantik persis seperti Tante Arumi, ya 'kan?!"
"Iya, tapi bukan dia yang sedang aku pikirkan, Nisha. Aku sedang memikirkan seorang ...,"
"Kalian membicarakan apa, sih? Serius amat!" sela Naila ketika menyaksikan anak kembarnya sedang bicara satu sama lain.
"Ini loh Mam, Dad! Kak Danish itu sedang ehm ...!"
Danish menutup mulut Danisha dengan tangannya kemudian melemparkan senyuman kepada kedua orang tuanya.
"Bukan apa-apa, Mih, Dad!"
...***...