Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Pembalasan Tante Mira


Tante Mira tidak bisa menahan amarahnya lagi. Ia menghampiri Tuan Rendra yang masih terdiam kemudian,


Plakkk!!!


"Ini tidak cukup untuk membalaskan rasa sakit yang kau torehkan kepada Adikku dan Naila!" hardik Tante Mira.


Tuan Rendra tidak melawan. Ia sadar, kesalahannya begitu besar kepada Ariana dan Naila. Ia kembali terdiam walaupun Tante Mira terus menghardiknya dengan kata-kata kasar.


"Kamu harus mendapatkan rasa sakit yang lebih dari ini! Dasar lelaki bajingan!" teriak Tante Mira seraya memukuli tubuh Tuan Rendra dengan berkas-berkas yang ada diatas meja kerjanya. Tidak cukup sampai disitu, kantor Tuan Rendra pun diobrak-abrik oleh Tante Mira.


Tommy, Asisten Pribadi Tuan Rendra ingin sekali menghentikan aksi Tante Mira. Namun, Tuan Rendra menahannya hingga akhirnya Tommy pun hanya bisa menyaksikan Tante Mira yang melampiaskan amarahnya di ruangan itu.


Begitupula Adnan, ia membiarkan Tantenya mengeluarkan segala kekesalannya kepada Tuan Rendra. Karena ia rasa, lelaki itu memang pantas mendapatkannya. Bahkan seharusnya lebih dari itu karena perbuatannya terhadap Ariana dan Naila memang tidak bisa dimaafkan.


"Maafkan aku, Mira. Aku sama sekali tidak tahu bahwa Ariana tengah mengandung anakku saat itu," lirih Tuan Rendra sambil menundukkan kepalanya. Rasa sakit akibat pukulan Tante Mira, tidak lagi ia rasakan. Karena rasa sakit yang ia rasakan di hatinya bahkan lebih dari itu.


"Alasan! Seharusnya kamu kembalikan Ariana kepada kedua orang tuaku, jika kamu memang ingin melepaskannya. Dasar laki-laki tidak punya hati! Kamu malah meninggalkannya disaat ia tengah mengandung anakmu. Dan akibat perbuatan mu itu, Adikku harus menderita bahkan hingga napas terakhirnya!" hardik Tante Mira.


"Aku akui, aku memang salah. Aku kira, setelah aku menceraikannya, Ariana akan kembali bersama kalian. Dan ternyata aku salah ... maafkan aku, Mira," lirih Tuan Rendra.


"Tidak ada kata maaf untukmu! Kamu bukanlah manusia, Rendra! Bukan hanya adikku yang kamu sakiti, bahkan anak kandungmu pun tidak kamu akui, lelaki macam apa kamu ini?!" sambung Tante Mira.


"Mungkin saja itu benar, gadis itu bukanlah anak dari suamiku! Mungkin saja adikmu hanya mengaku-ngaku," sela Nyonya Rita, tiba-tiba hadir diantara mereka.


Nyonya Rita akhir-akhir ini memang sering ikut ke kantor bersama Tuan Rendra. Selain untuk memata-matai suaminya, ia juga tidak ingin Tuan Rendra menemui Naila.


"Tutup mulutmu!"


Tante Mira menghampiri Nyonya Rita dan terjadilah perkelahian antara kedua wanita itu. Nyonya Rita kalah telak melawan Tante Mira yang notabenenya adalah seorang wanita tangguh.


"Ampun, ampun!" rintih Nyonya Rita ketika rambutnya yang tergerai indah dicengkeram dengan erat oleh Tante Mira.


"Ayo, katakan lagi! Biar ku sumpal mulutmu dengan sepatu mahal mu itu!" geram Tante Mira.


"Ampun ..." sahutnya


Tuan Rendra dan Tommy hanya seperti orang bodoh memperhatikan kedua wanita itu bergulat. Sedangkan Adnan panik kemudian menarik tubuh Tante Mira agar melepaskan Nyonya Rita dari cengkeramannya. Nyonya Rita hanya bisa meringis kesakitan sambil mengelus wajahnya yang sakit akibat pukulan Tante Mira. 


"Sudahlah, Tante! Tenangkan dirimu," ucap Adnan seraya memeluk tubuh Tante Mira.


"Ingat, Rendra Hermawan! Aku bersumpah, suatu saat nanti, kamu dan keluarga yang sangat kamu cintai ini akan hancur berkeping-keping! Tuhan tidak akan membiarkan kalian bahagia diatas penderitaan Adikku! Camkan itu!" geram Tante Mira seraya melangkah pergi dari kantor Tuan Rendra dan disusul oleh Adnan.


Sambil menyeka air matanya, Tante Mira terus melangkahkan kakinya hingga menuju tempat, dimana Adnan memarkirkan mobilnya.


"Aku belum puas, Adnan! Sebelum aku melihat kehancuran mereka dengan mata kepalaku sendiri!" ucap Tante Mira seraya masuk kedalam mobil.


"Mereka pasti akan mendapatkan karmanya, Tante. Kita hanya menunggu waktunya saja," sahut Adnan.


Adnan kembali melajukan mobilnya meninggalkan perusahaan milik Tuan Rendra.


Adnan tersenyum sambil melirik Tante Mira, "Ok, Tante!"


Adnan pun melaju menuju butik langganan Tante Mira. Adnan begitu hapal dimana tempat favorit Tantenya itu berada. Karena ia seringkali mengantarkan Tante Mira ketempat itu.


Setelah beberapa menit, akhirnya mereka tiba di butik favoritnya. Tante Mira bergegas masuk kedalam butik mewah itu dan kebetulan pemilik tempat itu adalah sahabatnya sendiri.


"Ya ampun, Mira! Aku kira kamu sudah melupakan aku!" ucap sang pemilik butik sembari menyambut Tante Mira dengan sebuah pelukan.


"Ih, kalau ngomong suka asal deh! Bukankah minggu lalu aku juga berkunjung ketempat ini dan menghabiskan banyak uang hanya untuk menambah pemasukan mu?!" jawab Tante Mira dengan wajah cemberut.


Wanita yang bernama Nyonya Rahma itulah tergelak setelah mendengar jawaban sahabatnya itu. "Hehe, hitung-hitung beramal dikit buat aku,"


"Eh, ada Nak Adnan rupanya. Kebetulan sekali Arumi juga ikut lho," sambung Nyonya Rahma ketika Adnan menghampiri mereka.


Adnan tidak menjawab, ia hanya tersenyum manis seraya mengulurkan tangannya kepada Nyonya Rahma yang kemudian disambut hangat oleh wanita itu.


"Ayo, ayo! Temani aku, aku ingin memilih pakaian untuk keponakan ku!" sela Tante Mira seraya menarik tangan Nyonya Rahma untuk segera ikut dengannya.


"Keponakan? Keponakan yang mana lagi?!" tanya Nyonya Rahma sembari menautkan kedua alisnya karena heran.


"Sudah, ikuti saja aku. Nanti aku ceritakan semuanya kepadamu!"


Tante Mira pun pergi bersama sahabatnya, memilih pakaian untuk Naila. Kini tinggal Adnan sendirian, duduk di kursi tunggu sambil memainkan ponselnya. Ia membuka-buka galeri ponselnya kemudian memperhatikan foto Naila dengan berbagai macam ekspresi. Foto itu sengaja ia ambil tanpa sepengetahuan gadis itu sebagai koleksinya.


"Naila, kamu manis sekali!" gumam Adnan sambil memperhatikan foto Naila yang sedang tersenyum manis.


"Adnan, sejak kapan kamu disini?!" sapa seorang gadis cantik yang tengah berdiri disampingnya.


Adnan mendongak. Ia menatap gadis cantik dengan rambut pirang yang tengah tersenyum kepadanya.


"Arumi, apa kabar?" Adnan bangkit kemudian mengulurkan tangannya kepada gadis cantik yang bernama Arumi tersebut.


"Baik, kamu?" sahut Arumi sembari menyambut uluran tangan Adnan kemudian mencium pipi kanan dan kiri lelaki muda tersebut.


Tanpa Adnan dan Arumi sadari, Tante Mira dan Nyonya Rahma memperhatikan mereka dari kejauhan.


"Lihat mereka, Mira! Mereka sangat cocok, kan?!" seru Nyonya Rahma seraya memeluk tubuh Tante Mira.


Tante Mira hanya bisa tersenyum getir melihat ekspresi Nyonya Rahma yang begitu antusias ingin menjodohkan Adnan dengan Arumi, anaknya.


Dua tahun yang lalu Adnan dan Arumi memang sempat dekat. Namun, hubungan mereka tidak berjalan dengan baik karena Adnan tidak terlalu menyukai sikap Arumi yang begitu posesif kepadanya.


"Bantu aku meyakinkan Adnan donk, Mira! Apa kamu tidak ingin besanan sama aku?" sambung Nyonya Rahma.


***