Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Penyesalan


"Aw!" pekik Arumi ketika Adnan dengan sengaja menggigit area tubuhnya.


"Sudah cukup, Mas! Jika kamu memang sudah muak denganku, maka kembalikan lah aku ketempat Ibuku. Sebagaimana kamu meminangku dengan baik maka melepaskan aku dengan baik pula," lirih Arumi.


"Diam, jangan banyak omong!" Adnan menutup mulut Arumi dengan tangannya hingga Arumi tidak bisa lagi berkata-kata.


Perlahan Adnan mencoba memasukkan miliknya kedalam area pribadi Arumi. Arumi sempat memekik ketika Adnan memasukkannya tanpa aba-aba. Lelaki itu menghentakkan tubuhnya sesuka hatinya kemudian menaik turunkan pinggulnya dengan cepat.


Arumi menitikkan air matanya. Ia tidak menyangka malam pertamanya akan jadi seperti ini. Ia bagai diperkosa oleh Suaminya sendiri. Benar-benar malam yang naas untuk Arumi, ia pingsan karena tangan Adnan membekapnya terlalu erat dan tak ada celah untuknya bernapas.


Adnan tidak menyadari bahwa istrinya pingsan saat itu. Ia terus saja bermain sepuas hatinya hingga akhirnya lelaki itu mengerang ketika ia sudah mencapai puncak kenikmatannya.


Adnan menjatuhkan dirinya disamping Arumi dengan napas terengah-engah. Tidak lama setelah itu, iapun tertidur dengan pulas.


Keesokan paginya,


Arumi terbangun dan ternyata hari sudah siang. Ia mencoba memperhatikan sekelilingnya sambil mengucek mata dan ternyata Adnan masih tertidur pulas disampingnya, dengan tubuh polos.


Arumi mencoba mengingat-ngingat apa yang telah terjadi tadi malam antara dirinya dan Adnan. Dan setelah mengingat semuanya, Arumi pun kembali bersedih.


"Mas Adnan keterlaluan!" hardiknya.


Arumi mencoba bangkit dari tempat tidur. Namun, tiba-tiba saja wanita itu meringis kesakitan karena ia merasakan sakit di area pribadinya. Dan dengan tergopoh-gopoh, Arumi pun berhasil bangkit kemudian melangkah ke kamar mandi.


"Mas Adnan benar-benar sudah kelewat batas dan kesabaranku pun ada batasnya! Aku memang mencintainya, tetapi bukan berarti dia bisa semena-mena memperlakukan diriku!"


Arumi terus mengumpat sambil membersihkan area pribadinya yang masih terasa sakit. Setelah selesai dengan ritual mandinya, Arumi pun bergegas kembali ke kamarnya.


Ia memperhatikan Adnan yang masih tertidur dengan nyenyak. Wajah tampan itu terlihat sangat tenang, seakan tidak memiliki dosa sama sekali.


"Maafkan aku, Mas. Aku menyerah ..." lirih Arumi.


Setelah selesai berpakaian, Arumi meraih semua pakaiannya dari dalam lemari dan memasukkannya ke koper. Disaat Arumi tengah berkemas, Adnan terbangun dari tidurnya.


Lelaki itu menggeliat sambil memijit-mijit kepalanya yang masih sakit akibat meminum minuman memabukkan itu. "Ugh!" pekiknya.


Adnan memperhatikan tubuh polosnya dan tiba-tiba saja ia teringat akan perbuatannya terhadap Arumi tadi malam. "Oh Tuhan!"


Adnan mencari keberadaan sosok wanita yang tadi malam ia perlakukan bak wanita nakal. Tanpa mempedulikan tubuh polosnya, ia terus menyusuri ruangan itu dan akhirnya ia menemukan Arumi tengah sibuk memasukkan barang-barang miliknya kedalam koper.


Adnan menghampiri Arumi kemudian memperhatikan Wanita itu. "Arumi, kamu mau kemana?" tanya Adnan.


Arumi sontak terkejut ketika mendengar suara Adnan yang terdengar begitu dekat. Ia pun menoleh dan memperhatikan lelaki yang tengah berdiri di hadapanya dengan tubuh polos. Namun, hanya sebentar. Arumi kembali berbalik dan meneruskan pekerjaannya.


"Aku ingin pulang, Mas!" sahut Arumi singkat dan jelas.


Adnan meraih tangan Arumi kemudian menatap lekat wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu. "Tidak, aku tidak mengizinkan kamu pulang!"


Arumi tersenyum sinis sambil membalas tatapan Suaminya. "Lepaskan aku!"


Adnan mengikuti langkah Arumi dan berdiri disampingnya. Ia begitu penasaran dengan obat yang ada ditangan Arumi. Adnan merebut benda kecil itu dari tangan Istrinya kemudian memperhatikannya dengan seksama.


"Obat apa ini?!" tanya Adnan penasaran.


Arumi merebut kembali obat-obat itu kemudian menyimpannya kedalam koper.


"Bukan urusanmu!"


Arumi melenggang pergi sambil menyeret kopernya meninggalkan Adnan yang masih kebingungan dengan sikap Arumi yang tiba-tiba berubah seratus persen.


Adnan segera meraih jubah mandinya kemudian mengejar Arumi yang sudah meninggalkannya. "Arumi, tunggu!" Adnan berlari sembari mengikat tali kimono mandinya.


Namun, Arumi tidak peduli. Ia terus melangkahkan kakinya menuju halaman depan, dimana mobilnya terparkir. Adnan terus berlari hingga akhirnya ia berhasil menangkap tangan Arumi sebelum wanita itu masuk kedalam mobilnya.


"Lepaskan aku!" ucap Arumi sembari mencoba melepaskan genggaman Adnan di pergelangan tangannya.


Adnan memperhatikan penampilan Arumi dengan seksama. Ia baru sadar bahwa Arumi begitu berubah. Wajah asli Arumi terlihat sangat jelas karena saat itu Arumi memang tidak menggunakan Make Up sama sekali. Wajahnya terlihat sangat pucat dan tubuhnya sangat kurus. Padahal dulunya Arumi memiliki tubuh yang sangat indah dan selalu menjadi impian para wanita.


"Apa yang terjadi padamu, Arumi? Apakah ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku?" tanya Adnan sambil menatap lekat mata Istrinya itu.


"Tidak ada. Tidak ada yang ku sembunyikan darimu, Adnan. Aku baik-baik saja," Arumi melepaskan tangan Adnan kemudian masuk kedalam mobilnya.


"Jalan, Pak!" titah Arumi kepada Pak Budi.


"Baik, Nona."


"Arumi!!!" Adnan mencoba mencegah kepergian Arumi, tapi percuma. Wanita itu sudah melaju dengan mobilnya.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada Arumi? Apakah dia punya penyakit atau semacamnya yang tidak aku ketahui? Tapi rasanya tidak mungkin, Arumi adalah gadis manja yang sedikit-sedikit merengek. Jangankan penyakit, tertusuk jarum saja dia pasti akan menangis histeris," gumam Adnan sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Adnan kembali ke kamarnya sambil terus berpikir. "Apakah aku harus meminta maaf pada Arumi atas sikapku tadi malam? Tapi aku rasa aku tidak salah! Bukankah dia istriku dan aku berhak atas dirinya!" gumam Adnan sembari mengacak rambutnya dengan kasar.


"Sepertinya aku harus meminta maaf dan memintanya kembali padaku!"


Adnan bergegas ke kamar mandi dan segera melakukan ritual mandinya. Adnan sempat terdiam ketika menyaksikan ada sedikit darah milik Arumi yang masih menempel di senjatanya.


"Ya Tuhan, ternyata Arumi masih suci dan tadi malam aku malah memperlakukannya seperti seorang wanita nakal!" batin Adnan dengan mata berkaca-kaca.


"Maafkan aku, Arumi!" gumam Adnan sambil memukul dinding kamar mandi.


Penyesalan terlihat jelas di matanya. Namun, sayang semuanya sudah terlambat. Arumi sudah kembali kerumah orang tuanya dengan penuh kekecewaan.


...***...


Aduh, Reader! Maaf baru bisa UP sekarang. Tadi Bocilku lagi ngambek, si emak dilarang ngetik 😵😵😵 dan mohon maaf jika ada banyak typo karena ngetiknya gak konsen.