
Disepanjang perjalanan, Naila hanya terdiam. Ia masih shok dengan kejadian tadi, dimana ia hampir saja ditemukan oleh Keanu. Naila benar-benar tidak ingin bertemu dengan lelaki itu lagi. Ia sudah cukup trauma dengan apa yang menimpa dirinya.
Tante Mira terus memeluk tubuh mungilnya dan mencoba menenangkan Naila yang masih ketakutan.
"Tenang saja, Sayang. Tante tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakiti dirimu lagi. Termasuk pasangan itu, Keanu dan Melisa!" ucap Tante Mira yang kemudian melabuhkan ciuman hangat di puncak kepalanya.
"Naila tidak ingin bertemu mereka lagi, Tante! Tidak mau!!!" seru Naila seraya memeluk tubuh Tante Mira dengan erat.
Tante Mira mengusap lembut puncak kepala Naila. "Tidak akan, Sayang! Tidak akan," sahut Tante Mira.
Adnan masih kesal. Wajahnya bahkan masih memerah karena menahan amarahnya. Ia ingin sekali memberi pelajaran kepada lelaki itu tetapi sayang, ia tidak bisa melakukannya.
"Kenapa tadi Tante melarang ku menghajar lelaki tidak tahu diri itu?" sela Adnan, masih fokus kedepan, memperhatikan jalanan yang tengah padat merayap.
Tante Mira menghembuskan napas berat, "Adnan, jika kamu menuruti apa kata hatimu, mungkin Keanu akan semakin curiga kepada kita! Dan jika Keanu tahu, dia pasti tidak akan tinggal diam. Tante sangat yakin, Keanu akan merebut kembali Naila karena Naila masih sah menjadi istrinya walaupun mereka hanya menikah secara siri," tutur Tante Mira.
Adnan mendengus kesal setelah mendengar penuturan Tante Mira. "Akh!" Lelaki itupun memukul stir mobilnya berkali-kali karena kesal.
Sambil melajukan mobilnya, sesekali Adnan melirik ekspresi Naila dari kaca spion mobilnya. Ia tahu, Naila pasti sangat shok atas kejadian barusan.
"Aku berjanji, Naila. Aku akan selalu menjagamu dan takkan membiarkan siapapun menyakiti dirimu lagi!" batinnya.
Beberapa hari kemudian,
Setelah mengetahui bahwa Naila adalah keponakan Tante Mira, Tya begitu menyesali perbuatannya. Ingin sekali ia meminta maaf kepada gadis itu. Namun sayang, sejak kejadian naas itu, Tante Mira sudah melarangnya mendekati Naila.
Namun, Naila tetaplah Naila. Walaupun statusnya sudah berubah, dari Pelayan biasa menjadi Keponakan kesayangan Nyonya besar dirumah mewah itu, tidak membuatnya menjadi sombong dan bermalas-malasan.
Ia sudah terbiasa menyibukkan dirinya dengan berbagai pekerjaan rumah. Dan sekarang pun ia masih suka bergelut dengan alat-alat kebersihannya.
"Naila!" pekik Tante Mira ketika melihat gadis itu tengah membersihkan kaca rumahnya yang terlihat agak kotor.
Naila reflek menoleh kepada Tante Mira yang berjalan cepat menuju ke arahnya.
"Aduh, Naila! Kenapa masih bekerja seperti ini? Bukankah sudah Tante bilang untuk berhenti melakukan tugas ART dan fokuslah pada kandungan mu. Disini masih banyak Pelayan lain yang akan melakukannya, Naila." Tante Mira meraih alat pembersih kaca yang masih menempel ditangan Naila kemudian menyerahkannya kepada salah satu Pelayan dirumah itu.
Naila mengerutkan kedua alisnya melihat ekspresi berlebihan dari sang Tante. "Naila bosan, Tante. Naila sudah terbiasa melakukan pekerjaan seperti ini dan Naila tidak terbiasa diam sambil ungkang-ungkang kaki," sahut Naila seraya menjatuhkan dirinya di sofa empuk yang berada disamping tubuhnya.
Tante Mira terdiam sejenak sambil memikirkan sesuatu. Sesuatu yang akan menyibukkan Naila agar keponakannya itu tidak bosan. Sambil terus berpikir, Tante Mira ikut menjatuhkan dirinya ke sofa dan duduk dengan nyaman di tempat itu.
"Ah ya! Sini duduklah disamping Tante," titah Tante Mira sambil menepuk ruang kosong di sebelahnya.
Naila pun menurut saja. Ia menggeser posisi tubuhnya hingga akhirnya ia duduk disamping Tantenya tersebut. Tante Mira tersenyum sambil mengelus lembut rambut Naila. Dan tepat disaat itu, Adnan yang baru saja turun dari kamarnya di lantai atas, segera menghampiri dua wanita berbeda usia tersebut. Ia tersenyum sembari menjatuhkan dirinya disamping Tante Mira.
"Tentu saja, Sayang! Kebetulan sekali Tante ingin membahas sesuatu bersama Naila," sahut Tante Mira sambil tersenyum hangat.
"Membahas tentang apa?" Adnan menautkan kedua alisnya sambil menatap kedua wanita cantik disampingnya secara bergantian.
Tante Mira menghembuskan napas panjang, "Sebenarnya Tante sudah merencanakan hal ini sejak Tante tahu tentang kehamilan Naila. Tante ingin Naila menjadi wanita sukses dan mandiri, agar orang lain tidak mudah menindas apalagi menginjak-injak harga dirinya," tutur Tante Mira.
Adnan tersenyum setelah mendengar penuturan Tantenya. "Ya, Adnan juga setuju Tante," sahut Adnan.
"Tetapi untuk mewujudkannya, Naila harus melanjutkan pendidikannya. Apa kamu setuju, Naila?" tanya Tante Mira seraya menatap lekat kedua bola mata indah milik Naila.
"Tapi Tante, bagaimana dengan kehamilanku? Naila yakin sekali, semua orang akan menertawakan Naila jika Naila sekolah dengan perut buncit," sahut Naila seraya menundukkan kepalanya.
"Tidak, Naila ku sayang! Kita akan melanjutkan pendidikan mu dengan sistem pembelajaran Home schooling. Jadi kamu tidak perlu repot-repot bolak balik ke sekolah. Kamu cukup diam dirumah dan belajarlah dengan benar. Lagipula Tante tidak ingin kamu kemana-mana tanpa pengawasan dari Tante maupun Adnan. Tante takut Pria tak berhati itu kembali mendekatimu." tutur Tante Mira.
Adnan pun mengangguk cepat, "Ya, Adnan juga setuju, Tante. Nanti jika Naila sudah lulus, ia bisa melanjutkan kuliahnya sesuai dengan minat dan kemampuannya. Lagipula setelah Naila lulus SMA, Baby Twin itu sudah lahir juga, kan? Jadi kita bisa menjaga mereka secara bergantian," sahut Adnan yang begitu antusias.
"Sekarang bagaimana, Naila? Apa kamu setuju?" tanya Tante Mira,
Naila tersenyum hangat kemudian iapun menganggukkan kepalanya, sebagai tanda ia setuju.
Sementara itu di kediaman Keanu,
"Sid, semalam aku melihat Naila. Ya, aku sangat yakin, dia adalah Naila," ucap Keanu seraya mengusap wajahnya, mencoba mengingat-ingat kembali kejadian waktu itu.
"Benarkah?" sahut Sid sembari mengerutkan kedua alisnya. Sid tidak tahu harus percaya atau tidak karena selama ini ia dan anak buahnya bahkan tidak tahu dimana Naila berada.
"Ya, Sid. Semalam aku bertemu dengannya di klinik Dokter Kandungan langganan Melisa. Tetapi orang-orang yang datang bersamanya, terus menyangkal dan mengatakan bahwa wanita itu bukanlah Naila." tutur Keanu.
"Orang-orang itu? Siapa mereka, Tuan?" tanya Sid
"Nyonya Mira dengan Keponakannya, Chef Adnan. Pemilik Restoran mewah di tengah kota, yang menjadi restoran favorit Melisa," jawab Keanu sambil mengembuskan napas berat.
Sid pun menganggukkan kepalanya secara perlahan.
"Aku butuh bantuanmu lagi, Sid! Bantu aku menyelidiki siapa wanita itu. Aku ingin kamu ikuti Nyonya Mira beserta keponakannya, Chef Adnan dan juga terus pantau kediamannya, kalau perlu suruh anak buahmu berjaga 24 jam disana secara bergantian," titah Keanu.
"Baik, Tuan!" sahut Sid.
Beruntung, Nyonya Mira termasuk salah seorang pebisnis terkenal. Hingga tidak sulit mencari tahu dimana alamatnya. Setelah mendapatkan tugas dari Keanu, Sid pun bergegas memberitahu anak buahnya agar mereka mulai mengawasi kediaman Nyonya Mira.