Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Mengantuk


Oee ... Oeee ...


Naila terkejut dan segera bangkit dari tempat tidurnya setelah mendengar tangisan si Kembar yang kehausan.


Naila melangkahkan kakinya dengan mata terpajam. Entah sudah ke berapa kalinya Naila bangun dan tidurnya pun tidak sampai satu jam, si kecil kembali merengek.


"Baby, sudahlah kembalilah tidur. Biar aku saja yang menenangkan mereka," ucap Keanu sembari menuntun Naila kembali ketempat tidur mereka.


"Eh, jangan begitu Hubby! Biarkan aku menemani mu, kamu kan udah hampir tiap malam begadang menjaga mereka," protes Naila sambil mengucek matanya.


Ya, hampir tiap malam Keanu berjaga. Matanya bahkan sudah terlihat seperti mata panda akibat kurang tidur.


"Tapi, besok kan kamu harus sekolah lagi? Jadi, sekarang kembalilah tidur, aku tidak ingin kamu ngantuk dan tidak bisa mengikuti pelajaran mu dengan baik," sahut Keanu.


"Tidak, aku tetap ingin disini, menamani kamu." Naila kembali melangkahkan kakinya menuju tempat tidur bayinya dan meraih Danisha yang sedang kehausan.


Keanu pun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia menghampiri Naila yang sedang menggendong Danisha dan menyerahkan sufor yang sudah ia buat.


Naila dan Keanu terpaksa memilih memberikan sufor untuk kedua anak mereka. Sebab, hingga saat ini asi Naila keluarnya cuma sedikit-sedikit. Padahal Keanu sudah memberikan berbagai macam Asi Booster buat melancarkan asi Naila. Namun, hasilnya tetap sama.


Danisha menyedot sufornya dengan lahap. Setelah merasa kenyang, iapun kembali tertidur nyenyak. Perlahan Naila meletakkan Danisha kedalam tempat tidurnya. Kemudian ia dan Keanu kembali berjalan menuju tempat tidur mereka untuk melanjutkan tidur. Namun, baru saja mereka menemukan posisi enak, terdengar lagi tangisan bayi.


Oee ... Oeee ...


Sekarang giliran Danish yang kehausan. Keanu dan Naila sempat bertatap mata kemudian serempak menghembuskan napas panjang. Merekapun kembali bangkit dan memberikan sufor untuk Danish yang sedang kehausan.


Namun, si Danish berbeda. Matanya masih segar walaupun ia sudah kenyang. Bayi tampan itu malah berceloteh ria setelah perutnya kenyang. Naila dan Keanu tersenyum kecut. Ini artinya mereka akan melewati malam panjang mereka bersama Danish.


Pagi pun tiba,


Naila melangkah gontai menuju kamar mandi. Dan setelah selesai melakukan ritual paginya, Naila bergegas memakai seragam sekolahnya dan berjalan menuju ruang makan. Ia dan Keanu bahkan tidak sempat saling sapa karena sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.


Akhirnya ia dan Keanu berkumpul di meja makan. Naila dan Keanu sama-sama mengantuk, karena hampir semalaman mereka berjaga.


Keanu terkekeh melihat Naila yang begitu malas mengunyah sarapannya. "Baby, kamu yakin bisa bersekolah hari ini?" tanya Keanu.


Naila menganggukkan kepalanya. Ia bahkan tidak bisa berkata-kata lagi saat ini. Kepalanya pening dan matanya terasa begitu berat. Begitupula Keanu, iapun merasakan apa yang dirasakan oleh Naila.


Setelah berpamitan kepada kedua bayi mereka, Keanu dan Naila pun berangkat. Sid akan mengantarkan Naila terlebih dahulu ke sekolahnya, baru setelah itu mereka berangkat ke kantor Keanu.


Setibanya didepan sekolah, Naila sudah disambut oleh kedua sahabatnya, Ria dan Kamila. Selama sebulan ia menjadi siswa di sekolah ini, Kedua temannya inilah yang begitu baik dan selalu menyambut hangat dirinya.


"Hai, Naila! Bagaimana PR mu? Sudah selesai dikerjakan?" tanya Ria sambil memeluk lengan Naila yang baru saja keluar dari mobilnya.


Naila pun menganggukkan kepalanya. Kepalanya masih terasa berat, ia bahkan malas untuk bicara.


"Baby!" Keanu memanggil Naila karena buku paket milik Naila tertinggal disamping tempat duduknya. Keanu menyerahkan buku itu dan segera disambut oleh Naila.


"Terima kasih!"


Ini baru pertama kalinya Ria dan Kamila melihat sosok Keanu. Mereka menjerit histeris ketika bersitatap dengan Pria blasteran yang memanggil Naila dengan sebutan Baby.


Naila yang tadinya mengantuk berat, tiba-tiba mendapatkan daya sekitar seratus watt di matanya akibat terkejut mendengar pertanyaan Ria.


"Eh, apa? Om? Ah, ya! Dia Om ku. Memang kenapa kalau Om itu memanggil ku dengan sebutan Baby? Ada yang salah?" sahut Naila


"Ya, kesannya kamu kayak 'Sugar Baby' gitu!" ucap Ria dengan setengah berbisik kepada Naila.


"Ish!" Naila kesal.


Ketiga sahabat itupun segera memasuki ruang kelas mereka. Disaat jam pelajaran baru dimulai, rasa kantuk itu kembali menyerang Naila. Tanpa ia sadari, ia tertidur dengan posisi kepala diatas meja.


Kebetulan guru yang mengajar rmata pelajaran disaat itu merupakan guru yang terkenal galak dan tak segan-segan menghukum muridnya yang salah, tanpa pandang bulu.


Ketika Guru itu sedang menjelaskan materi pelajaran mereka saat ini, tiba-tiba saja mata Guru itu tertuju pada kursi Naila. Ia memperhatikan Naila yang tengah tertidur. Perlahan Wanita itu menghampiri Naila dan memukul mejanya dengan sebuah penggaris panjang.


Blakkkk!!!


Naila sontak terbangun dari tidurnya. "Ya, Hubby!" pekik Naila sambil mengucek matanya.


Hal itu sontak membuat semua teman sekelasnya tertawa. Naila sangat malu karena ia menjadi bahan tertawaan satu teman sekelasnya. Namun, ketika semua orang sedang menertawakan dirinya, Ria dan Kamila malah menatap heran kepada Naila.


"Hubby? Entah mengapa aku curiga sama Naila. Bukankah Om tadi juga memanggilnya dengan sebutan Baby? Apa kamu yakin kalau lelaki itu adalah Om nya Naila?" tanya Ria kepada Kamila sambil berbisik pelan.


Kamila menggelengkan kepalanya pelan. Iapun sebenarnya merasa curiga kepada Naila.


"Astaga, Naila! Kamu ini murid baru! Baru juga sebulan kamu mengikuti pelajaran di sekolah ini, kamu sudah berani tidur di jam mata pelajaranku!" kesal Ibu guru galak itu.


Suara lantang sang Guru membuat seluruh murid terdiam. Tawa yang tadi menggema diseluruh ruangan kelas, tiba-tiba menjadi hening.


"Ketika jam istirahat berbunyi, temui Ibu di kantor! Paham?!"


Naila menganggukkan kepalanya secara perlahan. "Baik, Bu."


"Sekarang, cuci muka, biar matamu segar!" titah Guru itu.


Naila pun melangkah gontai, keluar dari ruangan itu. Ia menuju kamar ganti dan segera mencuci wajahnya.


Sambil menahan kantuknya, Naila mengikuti setiap mata pelajaran yang diberikan oleh guru-gurunya. Dan akhirnya jam istirahat pun tiba. Naila segera menuju ruang kantor. Ternyata Bu Guru galak itu sudah menunggunya dengan wajah masam. Dengan ragu-ragu, Naila menghampiri Bu Guru tersebut.


"Hubungi orang tuamu, Naila. Biar mereka tahu apa yang dilakukan oleh anaknya di sekolah," ucap Bu Guru, masih dengan wajah masam menatap Naila.


"Naila sudah tidak punya orang tua, Bu. Naila hanya punya Tante," lirih Naila.


"Kalau begitu, segera hubungi Tantemu!"


Naila menghembuskan napas berat. Baru sebulan ia mengikuti pelajaran di sekolah itu, ia malah sudah mendapatkan teguran dari Gurunya.


"Baik, Bu." sahut Naila dengan wajah sendu.