
Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi. Karena Naila tidak juga menunjukkan batang hidungnya, Tante Mira jadi mengkhawatirkan keponakannya itu. Ia terlihat cemas sambil sesekali melirik jam dinding mewah yang terpajang di ruang tengah.
"Tante kenapa sih? Dari tadi Adnan perhatikan sepertinya Tante sedang mengkhawatirkan sesuatu?" tanya Adnan sambil menatap heran kepada Tantenya itu.
"Naila! Kok, tumben ia terlambat bangun. Biasanya ia selalu stand by lebih dulu daripada kita," tutur Tante Mira. "Apa perlu Tante susul saja, ya?" sambungnya.
Adnan terkekeh pelan. "Sebaiknya Tante susul saja."
Tanpa basa-basi, Tante Mira segera menuju kamar Naila. Dengan langkah cepat, ia terus melangkahkan kakinya hingga berhenti tepat didepan kamar gadis itu.
Tok, tok, tok!!!
Tante Mira mengetuk pintu kamar Naila sembari meletakkan telinganya di daun pintu. Ia ingin mendengarkan suara dibalik kamar tersebut dan memastikan bahwa keponakannya dalam keadaan baik-baik saja.
"Naila, kamu didalam, Nak? Ini Tante," ucap Tante Mira.
"Ah ya, Tante! Sebentar, biar Naila buka pintunya," sahut Naila dari dalam kamarnya.
Terdengar langkah kaki Naila yang mendekati daun pintu. Kemudian gadis otu membuka kunci pintu kamarnya. Perlahan pintu kamar itupun terbuka dan tampaklah Naila dengan senyum kecut menatap Tante Mira.
"Silakan masuk, Tante." Naila membuka pintunya lebih lebar dan membiarkan Tante Mira masuk kedalam kamarnya.
Tante Mira masuk kedalam kamar Naila sambil memperhatikan penampilan gadis itu. "Kamu kenapa, Nak? Kok masih mengenakan kimono mandi?" tanya Tante Mira. Wanita itu perlahan duduk di tepi tempat tidur Naila tanpa melepaskan pandangannya terhadap gadis itu.
Ya, saat itu Naila masih mengenakan kimono mandinya dengan handuk kecil yang melilit diatas kepalanya.
Naila kembali tersenyum kecut seraya menutup kembali pintu kamarnya. Ia menghampiri Tante Mira dan duduk disampingnya.
"Tante, Naila malu." sahut Naila seraya menundukkan kepalanya.
Tante Mira meraih wajah Naila hingga akhirnya merekapun saling bertatap mata. "Malu kenapa, Sayang?" tanya Tante Mira.
Naila mengembuskan napas berat sambil tersenyum kecut. "Naila ingin mengenakan salah satu dress yang diberikan oleh Tante kemarin tetapi Naila tidak tahu harus memilih yang mana. Naila takut salah, Tante. Naila sudah mencoba semuanya tapi entah kenapa Naila tidak percaya diri. Sebab, selama ini Naila sudah terbiasa mengenakan pakaian usang milik Naila," lirih Naila.
Antara ingin tertawa atau sedih ketika mendengar penuturan keponakan polosnya itu, ia segera meraih tubuh mungil Naila kemudian memeluknya dengan erat.
"Ya ampun, Sayang! Pilih saja yang ingin kamu kenakan, yang menurutmu cocok dan nyaman untuk kamu. Dan jangan lupa, apapun yang kamu kenakan, kamu harus tetap percaya diri. Anggap saja kamu sedang mengenakan pakaian yang sering kamu kenakan." Tante Mira melerai pelukannya kemudian bangkit dan menghampiri lemari pakaian milik Naila.
Tante Mira memilih-milih pakaian yang menggantung di lemari pakaian Naila hingga akhirnya ia menemukan satu yang menurutnya cocok untuk gadis itu.
"Pakailah yang ini! Kamu pasti akan terlihat lebih cantik, Sayang."
Tante Mira membantu Naila mengenakan pakaiannya dan juga membantunya merias wajah gadis itu senatural mungkin. Dengan sentuhan jari-jemari lincah Tante Mira, Naila pun terlihat berbeda hari ini. Ia menjadi lebih cantik dan terlihat lebih dewasa.
"Selesai! Kamu terlihat lebih cantik, Naila." seru Tante Mira seraya memperhatikan Naila dari balik cermin.
"Sebaiknya mulai sekarang kamu harus banyak belajar tentang alat-alat tempur seorang wanita. Jangan melulu tentang peralatan bersih-bersih dan masalah dapur, kecantikan juga penting loh!" sambung Tante Mira seraya mencubit pipi Naila dengan lembut.
Naila melemparkan sebuah senyuman hangat kepada Tante Mira. "Terimakasih banyak, Tante. Naila tidak tahu bagaimana caranya membalas kebaikan Tante kepada Naila," sahut Naila.
"Sudahlah, mari kita turun. Adnan sudah menunggu kita diruang tengah," sambung Tante Mira seraya mengajak Naila melangkah bersamanya.
Ketika Naila dan Tante Mira turun dari kamarnya, Adnan memperhatikannya bahkan tanpa berkedip sedikitpun. Lelaki itu menyambut kedatangan Naila dan Tante Mira sambil tersenyum hangat.
"Bagaimana penampilan Naila hari ini, Adnan?" tanya Tante Mira ketika mereka sudah berdiri tepat didepan lelaki tampan itu.
Naila menundukkan kepalanya, ia benar-benar malu ketika Tante Mira menanyakan hal itu kepada Adnan. "Astaga, Tante!" gumam Naila.
"Sempurna, Tante," sahut Adnan dengan senyuman yang tidak pernah lepas dari wajah tampannya.
Tante Mira tersenyum puas. Setelah itu, merekapun segera melangkah menuju ruang makan. Namun, baru beberapa langkah berjalan, terdengar suara keributan dari halaman depan rumah Tante Mira.
Tante Mira, Adnan dan Naila serempak menatap kearah luar.
"Sepertinya ada keributan di halaman depan! Aku akan segera memeriksanya, kalian tunggu saja disini! Dan jangan keluar!" titah Adnan kepada Tante Mira dan Naila. Kedua wanita itupun menganggukkan kepalanya.
Adnan bergegas menuju halaman depan. Dan benar saja, sedang terjadi keributan ditempat itu. Ada beberapa orang memaksa masuk ke halaman Tante Mira. Padahal para Security sudah mencoba melarang dan menahan mereka dengan berbagai cara. Namun, mereka kalah telak ketika dua orang laki-laki bertubuh tambun mengacungkan senjata kearah mereka.
"Ada apa ini? Dan siapa kalian?" tanya Adnan seraya menghampiri orang-orang itu.
"Dimana kalian sembunyikan Naila ku?!" ucap seseorang yang tidak asing bagi Adnan. Dia adalah Keanu dan Sang Assisten, Sid. Dengan dua orang Bodyguard
Adnan tersenyum sinis seraya membalas tatapan Keanu. "Apa maksudmu?" tanya Adnan dengan tenangnya.
"Jangan berpura-pura tidak mengerti, Adnan! Aku sudah tahu semuanya. Sekarang katakan dimana kalian menyembunyikan istriku?!" ucap Keanu dengan wajah memerah menatap Adnan.
Adnan menggelengkan kepalanya sambil terkekeh pelan. "Anda benar-benar lucu, Tuan Keanu. Bukankah sudah saya katakan bahwa wanita itu adalah istri saya. Dan bukanlah wanita yang anda maksud. Lagipula, bukankah istri anda Nyonya Melisa? Lalu kenapa anda mencari-cari wanita yang bernama Naila?" sahut Adnan.
Keanu meradang, ia segera menghampiri Adnan kemudian mencengkeram kerah kemejanya dengan erat. "Jangan macam-macam padaku, Adnan! Katakan padaku dimana Naila atau aku sendiri yang akan mencarinya dengan mengobrak-abrik rumah mewahmu!" ancam Keanu.
"Lakukan saja jika kamu berani!" ketus Adnan seraya menepis lengan Keanu dengan kasar.
Sementara itu,
Karena penasaran, Naila dan Tante Mira mengintip dari balik kaca. Mereka begitu shok ketika mengetahui bahwa Keanu lah yang datang dan membuat keributan disana.
"Tante, itu Tuan Keanu! Naila mohon, Tante. Jangan biarkan lelaki itu membawa Naila lagi, Naila takut ..." lirihnya.
"Tidak akan, Sayang! Tante tidak akan membiarkan lelaki itu mengambilmu dariku! Sekarang naiklah ke kamarmu, kunci pintunya dan bersembunyi lah disana. Ingat, apapun yang terjadi, jangan pernah keluar dari kamarmu! Kamu mengerti, Sayang?!" ucap Tante Mira sambil menatap tajam kedua mata Naila.
Naila pun mengangguk. "Baik, Tante!"
Gadis itu berlari menuju kamarnya dan bersembunyi disana. Sementara Tante Mira segera keluar dari rumahnya kemudian menghampiri orang-orang itu.
Bersambung ...