
Tante Mira berjalan menuju kamar Adnan. Dan kebetulan kamarnya, kamar Adnan dan kamar Naila masih satu lantai, walaupun letaknya agak berjauhan. Setibanya didepan pintu Adnan, Tante Mira segera mengetuk pintu keponakannya tersebut.
Tok, tok, tok!!!
"Adnan, ini Tante ..." ucap Tante Mira.
"Ah ya, Tante! masuk aja, Tante. Pintunya tidak dikunci kok," sahut Adnan dari dalam kamar.
Perlahan, Tante Mira membuka pintu kamar Adnan dan nampaklah lelaki itu tengah berdiri didepan cermin seraya merapikan kemejanya.
"Pagi, Tante. Tumben pagi-pagi begini sudah jengukin Adnan," ucap Adnan sambil tersenyum hangat kepada Tante Mira lewat bayangan di cerminnya.
Tante Mira menghampiri Adnan kemudian berdiri disamping keponakannya itu. "Kamu terlihat sangat tampan, Adnan." Tante Mira turut membantu Adnan merapikan kerah kemejanya.
Adnan terkekeh pelan, "Tapi sayang, keponakan Tante yang tampan ini ternyata nasibnya ngenes. Sampai detik ini, Adnan masih saja bertitle jomblo. Jomblo akut malah," sahutnya.
Tante Mira ikut terkekeh kemudian menyentuh pipi Adnan dengan lembut. "Taklukkan hatinya, Adnan. Dia butuh seseorang yang benar-benar menyayangi dirinya dan dapat menerima keadaannya, seperti dirimu."
Adnan terdiam, namun senyuman manis yang menjadi khasnya tetap mengembang di wajah tampannya.
Tante Mira menepuk pundak Adnan. "Adnan, hari ini gak usah masuk kerja dulu. Anterin Tante ke suatu tempat," ucap Tante Mira seraya duduk disisi tempat tidur Adnan.
"Kemana, Tante? Tapi Adnan harus ijin dulu sama tangan kanan Adnan disana," sahut Adnan.
"Memberikan sedikit pelajaran pada seseorang yang pernah menyakiti dan menyia-nyiakan Ariana dan Naila!" Wajah Tante Mira tiba-tiba memerah karena menahan amarahnya.
Adnan mengerti apa yang dimaksud oleh Tante Mira. Iapun setuju dan bersedia mengantarkan Tante Mira ketempat itu.
Setelah memberitahu tangan kanannya, Adnan pun bersiap mengantarkan Tante Mira ketempat yang ingin ia tuju.
"Wah, Kak Adnan mau kemana? Keren sekali!" seru Naila ketika mereka berselisihan. Ia membulatkan matanya seraya memperhatikan penampilan Adnan yang terlihat lebih keren dari biasanya.
Adnan tersipu, "Kamu bisa aja! Aku ingin mengantarkan Tante ke suatu tempat," jawab Adnan.
Naila menautkan kedua alisnya. "Kemana?" tanya Naila yang masih penasaran.
"Rahasia," sahut Adnan,
Naila kesal setelah mendengar jawaban dari Adnan, ia refleks memukul lengan lelaki itu sambil menekuk wajahnya.
"Ish!!!"
Adnan meraih tangan Naila kemudian menggenggam nya dengan erat. Kini matanya menatap tajam kedua bola mata indah milik Naila. Detak jantungnya bahkan berdetak dengan irama yang sudah tidak beraturan. Namun, hal itu tidak menyurutkan keinginannya untuk bersama wanita mungil yang tengah berdiri di hadapannya walaupun hanya untuk beberapa saat.
"Ehemm!"
Tiba-tiba Tante Mira sudah berada di belakang Adnan sambil berdehem. Saking asiknya saling bertatap mata, Naila dan Adnan bahkan tidak menyadari bahwa Tante Mira sudah berada di sana.
"Sudah selesai saling tatap nya?" goda Tante Mira sambil tersenyum.
Adnan segera melepaskan tangan Naila kemudian berbalik menghadap Tante Mira. "Sejak kapan Tante berada disini?" tanya Adnan dengan wajah merona menahan malu.
"Sejak kamu meraih tangan Naila? Dasar Bocah bucin!" sahut Tante Mira sambil terkekeh.
Adnan hanya bisa menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal sambil tersenyum kecut.
"Nai, hari ini Tante dan Adnan akan jalan-jalan sebentar. Tante mohon dengan sangat, jangan pernah keluar dari rumah ini. Tante takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepadamu, Naila. Jadi, dengarkan kata Tante, ya?" bujuk Tante Mira.
Setelah berpamitan kepada Naila, Adnan dan Tante Mira segera berangkat menuju tempat yang menjadi tujuan mereka.
Ketika Tante Mira dan Adnan keluar dari gerbang depan, ternyata ada seseorang yang sedang mengintai kediaman mereka. Sebuah mobil berwarna hitam terparkir tidak jauh dari kediaman Tante Mira.
"Sepertinya Nyonya Mira dan Keponakannya, Chef Adnan sudah keluar dari kediaman mereka," ucap salah satu dari mereka.
"Baguslah, dengan begitu kalian akan lebih mudah melakukan tugas kalian, bukan?" sahut seseorang dari seberang telepon.
Setelah selesai bicara dengan orang yang memberikan tugas kepada mereka, merekapun kembali melanjutkan tugasnya. Salah satu diantara mereka turun dari mobil dengan membawa sebuah paket di tangan.
Kali ini ia berpura-pura menjadi seorang kurir pengantar paket. Para penjaga keamanan pun sama sekali tidak mencurigainya.
"Nona Naila, ada kurir pengantar paket didepan. Dia bilang itu adalah paketan milik Nyonya Mira," ucap salah seorang Pelayan kepada Naila.
"Ehm, kamu aja yang mewakilinya." Naila mengintip dari balik pintu dan ternyata benar, seorang kurir sedang berdiri didepan gerbang sambil memegang sebuah paket.
"Tapi, Nona ... Kurir itu tidak ingin orang lain yang mengambilnya. Ia ingin Nyonya Mira nya sendiri atau kerabatnya yang mewakilinya," sahut Pelayan itu.
Naila menautkan kedua alisnya, "Kok, bisa gitu?" tanya Naila heran.
"Ya, dia bilang seperti itu," sahutnya.
"Baiklah, tapi temenin aku kesana, ya!" ajak Naila kepada Pelayan itu.
Pelayan itupun menganggukkan kepalanya kemudian berjalan bersama Naila menuju gerbang depan. Kurir itu tersenyum ramah memyambut kedatangan Naila bersama Pelayan itu.
"Ini paketannya, Nona. Maaf sudah mengganggu anda," ucap Kurir itu seraya menyerahkan paketan itu kepada Naila.
Naila menyambutnya sambil tersenyum kemudian Kurir itupun segera kembali ke mobilnya. Begitupula Naila, ia kembali masuk kedalam rumah.
"Kira-kira apa isinya, ya?" tanya Naila seraya memperhatikan paketan itu.
"Maafkan saya kurang tahu, Nona."
Sementara itu,
"Bagaimana?"
"Sipp! misi pertama berhasil," ucapnya sambil menyeringai.
Ternyata mereka adalah orang suruhan Sid. Mereka bertugas mengintai keberadaan Naila dan memastikan bahwa wanita itu adalah Naila. Dan benar saja, mereka sudah punya bukti kuat untuk memastikan bahwa wanita itu adalah Naila. Wanita muda yang selama ini dicari-cari oleh Tuan Keanu. Dengan bukti rekaman kamera yang tersembunyi dari balik jaket Kurir tersebut.
Ditempat lain,
"Kita sudah sampai, Tante!" ucap Adnan seraya membukakan pintu mobil untuk Tante Mira.
"Ikuti aku, Adnan." Tante Mira berjalan dengan langkah cepat menuju sebuah ruangan dengan diikuti Adnan dari belakang.
Aura wajah Tante Mira kini berubah. Wanita itu terlihat lebih sangar dari biasanya. Bahkan semua orang yang ia lewati memberikan jalan untuknya. Tak ada yang berani memberikan senyuman kepadanya karena ekspresi wajahnya saat itu seperti monster yang sudah siap menelan mangsanya hidup-hidup.
Setibanya diruangan yang dituju, Tante Mira membuka pintu ruangan tersebut dengan kasar. Sehingga orang yang sedang berada didalam ruangan sempat terkejut dibuatnya.
"Mira, selamat datang!" sapa Seseorang yang sudah menunggu kedatangannya. Orang itu tanpa merasa bersalah, tersenyum kepadanya seraya menunjuk sebuah kursi didepan mejanya sambil mempersilakan Tante Mira untuk duduk disana.
"Dasar laki-laki bajingan! Tidak adakah rasa bersalah di hatimu?!" hardik Tante Mira sambil berteriak di ruangan itu.