Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Bab 24


Istirahat makan siang pun tiba. Aditya bergegas menemui Helen untuk mengajaknya makan siang bersama. Wanita itupun tidak menolak dan merekapun segera menuju tempat makan khusus untuk para petinggi perusahaan.


"Sayang, aku punya berita penting. Mau tau apa itu?" ucap Aditya sambil tersenyum kepada Helen yang sedang menikmati makan siangnya.


"Apa?!" tanya Helen.


"Boss besar kita akan segera menikah," jawab Aditya.


Uhuk ... uhuk!!!


Helen begitu terkejut mendengarnya hingga ia tersedak. Aditya bergegas mengambilkan air minum untuk Helen dan menyerahkannya kepada wanita itu.


"Minumlah, Helen."


Setelah ia selesai meminum minuman itu dan mulai merasa baikkan, Helen pun kembali mempertanyakan kebenaran tentang ucapan Aditya tadi.


"Tuan Danish menikah? Apakah itu benar? tanya Helen dengan wajah serius menatap Aditya.


"Ya, barusan Tuan Danish-nya sendiri yang bilang," sahut Aditya.


Benarkah? Sama siapa, cewek mana?!" tanyanya penasaran.


Aditya terkekeh ketika mendengar ucapan Helen yang begitu penasaran hubungan Tuan Danish.


"Seandainya aku tahu. Tetapi, sayangnya aku pun tidak tahu karena Tuan Danish sepertinya menyembunyikan identitas calon istrinya. Mungkin saja, ia tidak ingin privasi calon istrinya terganggu."


Mendadak aura wajah Helen berubah. Ia bangkit dari kursinya kemudian melenggang pergi meninggalkan Aditya.


"Loh, Sayang. Kamu mau kemana?" tanya Aditya.


"Aku sudah kenyang," sahutnya singkat dan jelas tanpa menghentikan langkah kakinya.


Aditya kebingungan melihat tingkah aneh Helen. Ia memperhatikan punggung Helen yang berjalan menjauhinya hingga menghilang dari pandangannya.


"Sebenarnya ada apa sama Helen? Setiap kali mendengar Tuan Danish yang dekat dengan seorang wanita, entah mengapa ekspresinya selalu berubah," batin Aditya.


Sementara itu, Helen terus melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ruangan Danish dan kebetulan saat itu Danish mesih berada di dalam ruangannya.


"Sayang, kamu sudah makan siang?" tanya Danish kepada Nazia yang sedang menunggunya di kediaman orang tua Danish.


"Ehm iya, Mas. Sudah. Mas sendiri?" jawab Nazia.


"Sebentar lagi," ucap Danish sambil melirik jam tangannya. "tapi setelah aku melepas rinduku padamu," goda Danish sambil tersenyum.


Wajah Nazia kembali merona. Ia tidak menyangka kalau Danish ternyata sangat romantis. "Nanti kalau udah pulang, Mas mau di masakin apa sama Zia? Zia jadi pengen masak-masak ini."


"Beneran ya, Mas. Janji,"


"Ya, aku berjanji. "


"Sudah dulu ya, Mas. Ada Mami, Nazia malu kalau ketahuan," ucap Nazia sembari mematikan panggilan Danish.


Danish terkekeh sambil memperhatikan layar ponselnya. "Zia, zia!"


"Boleh saya masuk?"


Tiba-tiba Helen masuk ke dalam ruangan Danish. Danish sudah mulai merasa tidak nyaman, tetapi ia tidak ingin menolak kedatangan sekretarisnya itu.


"Bukankah kamu sudah masuk, lalu kenapa masih minta izin untuk masuk?!" jawab Danish dengan wajah malas menatap wanita itu.


"Dengar-dengar, katanya kamu ingin menikah. Apakah itu benar?" tanya Helen sembari duduk di kursi yang terletak di depan meja Danish.


Danish masih memasang senyuman manisnya. Ia memperhatikan wajah masam Helen yang kini duduk di hadapannya.


"Ya, itu benar. Aku akan segera menikah dalam waktu dekat. Kamu tenang saja, Helen. Kartu undangan pernikahanku pasti akan mendarat dengan selamat di tanganmu," sahut Danish semringah.


"Danish, kenapa kamu masih tidak mengerti? Aku mencintaimu, Danish! Bagaimana lagi caranya agar kamu mengerti dengan perasaanku," tuturnya sambil memelas.


Danish menghembuskan napas panjang. Ia sudah tahu bahwa Helen pasti akan mengatakan hal itu. Sudah ribuan kali Helen menyatakan cintanya untuk Danish dan ribuan kali pula Danish menolaknya.


"Sudah ku bilang padamu, Helen. Aku tidak memiliki perasaan apapun padamu. Lagipula apa kamu tidak kasihan kepada Aditya yang begitu mengharapkan dirimu?" ucap Danish.


Helen bangkit dan menghampiri tempat duduk Danish. "Aditya hanya pelarianku, Danish! Kenapa kamu masih tidak mengerti?! Aku tidak mencintai lelaki itu, tetapi dialah yang memaksaku untuk menerima cintanya!" jawab Helen kesal.


"Saranku, belajarlah mencintai Aditya. Kurasa dia tulus mencintaimu bahkan dia rela meninggalkan calon istrinya hanya demi dirimu."


"Danish, kamu!!!"


Helen sangat kesal, ia bergegas keluar dari ruangan itu dan tanpa ia sadari ternyata Aditya sudah berada di depan pintu ruangan Danish. Namun, sayangnya lelaki itu tidak mendengar percakapan antara Helen dan Danish.


"Helen, kamu kenapa?" tanya Aditya ketika melihat Helen keluar dari ruangan Danish dengan wajah kesal. Bahkan matanya pun sudah terlihat berkaca-kaca.


Jangankan peduli, Helen terus melangkahkan kakinya tanpa menoleh sedikitpun kepada Aditya. Aditya penasaran, ia bergegas masuk ke dalam ruangan Danish dan mencoba mencari tahu apa yang terjadi pada kekasihnya itu.


"Tuan Danish, apa yang terjadi pada Helen? Aku lihat ia begitu sedih, apa dia melakukan kesalahan?" tanya Aditya.


"Tidak. Selama bekerja bersamaku, Helen tidak pernah melakukan kesalahan sedikitpun. Tetapi sepertinya ia punya masalah pribadi. Sebaiknya kamu susul dia, Aditya. Dia pasti sangat membutuhkanmu, lagipula aku ingin makan siang, perutku sudah lapar," jawab Danish sembari melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya dengan wajah tak acuh.


...***...