Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Bab 19


"Nak Danish, terima kasih banyak karena sudah menolong kami. Padahal tadinya Bibi sudah pasrah dan siap menerima apapun yang dikatakan oleh orang-orang terhadap keluarga kami," tutur Bi Narti dengan mata berkaca-kaca menatap Danish yang kini duduk di kursi kayu miliknya.


"Tidak perlu berterima-kasih, Bu. Saya ikhlas melakukannya," jawab Danish.


Danish menghembuskan napas panjang sambil tersenyum hangat menatap Nazia yang sedang duduk di sampingnya dengan kepala tertunduk. Ia meraih tangan Nazia kemudian menggenggamnya dengan erat.


"Bu, bolehkah malam ini saya mengajak Nazia menemui kedua orang tua saya?"


Bi Narti menganggukkan kepalanya dengan cepat. Walaupun ia sama sekali belum mengenal siapa Danish yang sebenarnya, tetapi entah mengapa dia sangat menyukai kepribadian Danish yang sopan dan lemah-lembut. Berbanding terbalik dengan Aditya yang sombong dan angkuh.


"Tentu saja, Nak. Bukankah sekarang Nazia adalah Istrimu? Memang seharusnya kamu pertemukan Nazia dengan kedua orang tuamu."


Danish tersenyum lebar setelah mendapat izin dari Bi Narti. Sekarang tinggal meyakinkan Nazia untuk ikut dengannya.


"Bagaimana, Nazia? Apa kamu bersedia ikut denganku untuk menemui Mami dan Daddy?"


Nazia terdiam sejenak sambil menatap lelaki yang kini sah menjadi suaminya itu dengan wajah cemas sekaligus heran.


"Mami dan Daddy?"


"Ya, Ayah dan Ibuku. Kami sudah terbiasa memanggil mereka dengan sebutan Mami dan Daddy. Tapi kamu tenang saja, Nazia. Mereka baik, kok. Aku yakin mereka akan menyukaimu, percayalah padaku."


Nazia luluh mendengar ucapan lelaki itu kemudian ia pun menganggukkan kepalanya. "Baiklah, Tuan. Saya bersedia, tapi bolehkah saya mempersiapkan barang-barang saya dulu?" tanya Nazia.


"Tentu saja, aku akan menunggumu." Danish tersenyum manis dan membuat Nazia terpana akan senyuman itu. Ia masih terdiam sambil menatap Danish dan tak bergerak sedikitpun dari tempat duduknya.


"Nazia, bukannya mau bersiap-siap?" tanya Bi Narti kebingungan.


"Ah, iya. Maafkan Zia, Bi."


Nazia bergegas bangkit kemudian melenggang pergi menuju kamarnya. Setelah beberapa saat, Nazia pun kembali. Ia sudah siap dengan sebuah tas lusuh di tangannya. Tas yang berisi pakaian-pakaian kuno dan kampungan menurut Aditya. Namun, tidak bagi Danish. Baginya apapun yang dikenakan oleh Nazia selalu membuat gadis itu terlihat cantik di matanya.


"Saya sudah siap, Tuan," ucap Nazia sambil tersenyum manis.


Danish melirik jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya kemudian membalas senyuman Nazia.


"Baiklah, sebaiknya kita berangkat sekarang. Aku yakin, Mami dan Daddy sudah menunggu kedatangan kita," sahutnya.


Setelah berpamitan kepada Bi Narti, Danish dan Nazia pun berangkat. Bi Narti menangis haru melepaskan kepergian ponakannya itu. Namun, Danish sudah berjanji kepada Bi Narti bahwa ia akan mengajak serta Bi Narti jika mereka sudah tinggal di rumah mereka sendiri.


Di perjalanan, menuju kediaman Keanu dan Naila.


"Nazia, aku punya cerita lucu hari ini," ucap Danish membuka pembicaraan kepada Nazia yang masih terlihat canggung kepadanya.


Nazia menoleh kepada lelaki itu. "Apa itu, Tuan?"


"Sebenarnya hari ini aku berjanji pada kedua orang tuaku bahwa aku akan memperkenalkan dirimu sebagai seorang gadis yang ingin aku lamar kepada mereka. Tetapi, sekarang aku malah membawamu sebagai Istriku," tutur Danish sambil terkekeh pelan.


Nazia menautkan kedua alisnya. Ia bingung mendengar penuturan suaminya itu.


"Sebagai seorang gadis yang ingin anda lamar? Maksud Tuan?"


"Ya, Nazia. Sebenarnya sudah lama aku menyimpan perasaan kepadamu, hanya saja aku tidak berani mengutarakannya langsung. Namun, setelah mendapatkan restu dari kedua orang tuaku, aku pun memberanikan diri untuk menemuimu dan menyatakan perasaanku yang sebenarnya."


"Benarkah itu, Tuan? Ta-tapi kenapa? Saya hanya gadis miskin dan kampungan, rasanya tidak mungkin Anda jatuh hati kepada saya," lirih Nazia.


Nazia tertunduk malu. Ia tidak menyangka seorang Danish ternyata menyukai gadis miskin dan kampungan seperti dirinya.


Sebenarnya Nazia pun menyukai sosok Danish, tetapi ia sadar akan kondisinya. Ia dan Danish bagai bumi dan langit. Jangankan berharap menjadi istri dari seorang Danish, sekedar mengkhayal menjadi teman pun ia tidak berani.


Sementara itu di kediaman Naila dan Keanu.


"Ada apa sih, Mih? Kenapa Kak Danish meminta kita berkumpul di sini?!" tanya Keyla yang kepo.


"Dia ingin memperkenalkan calon istrinya kepada kita," sahut Naila dengan sangat antusias.


"Benarkah? Wah, aku penasaran sekali. Pasti gadis itu cantik, ya 'kan, Mih?"


"Entahlah, Mami juga tidak pernah melihat sosok gadis itu," sahut Naila.


"Ih kamu, Key. Dari tadi nanya terus. Sini, duduk di samping Daddy saja!"


Keanu menarik tangan Keyla dan menuntun gadis itu untuk duduk di sampingnya. Jika Keyla selalu ingin tahu, berbeda dengan Danisha. Ia hanya diam sambil memperhatikan Naila yang tengah sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kedatangan Nazia.


Tak berselang lama, terdengar suara deru mobil Danish yang terparkir di halaman rumah mereka. Danish membukakan pintu mobil untuk Nazia kemudian menggandeng gadis itu memasuki kediamannya.


"Ini tempat tinggal Anda, Tuan? Wah, besar sekali ya? Saya kira kediaman mewah seperti ini hanya ada di televisi saja, Tuan!" ucap Nazia sambil memperhatikan sekeliling bangunan mewah tersebut.


"Bukan, Nazia. Ini adalah milik Daddy dan Mami. Kalau rumahku jauh lebih kecil dari ini, tidak apa-apa, 'kan?"


"Tidak apa-apa, Tuan. Sebenarnya saya juga tidak ingin memiliki rumah yang besar."


Loh, kenapa?" tanya Danish sambil terkekeh mendengar ucapan polos Nazia.


"Saya takut tidak bisa merawat dan membersihkannya, Tuan," jawabnya singkat.


"Tapi yang bertugas membersihkannya 'kan Pelayan, Nazia sayang," sahut Danish.


"Oh, iya ya." Nazia menggaruk tengkuknya. Ia benar-benar malu, apalagi Danish sudah menyebutnya dengan sebutan 'sayang'.


"Oh ya, Nazia. Bisakah kamu berhenti memanggilku dengan sebutan 'Tuan'? Sekarang aku suamimu dan kamu tidak boleh memanggilku dengan sebutan itu," ucap Danish.


"Lalu, saya harus memanggil Anda dengan sebutan apa?"


"Sayang, Mas, Honey atau Hubby, seperti Mami memanggil Daddy,"


"Ehm, Mas aja deh."


"Ya, itu lebih bagus. Dan jangan pake 'Anda-Saya', cukup aku dan kamu," sambung Danish sambil tersenyum.


"Baiklah, Mas."


Akhirnya mereka pun tiba di ruang tengah, dimana seluruh keluarganya sudah berkumpul. Kedatangan Danish bersama Nazia membuat ruangan itu menjadi heboh. Mereka semua penasaran ingin melihat wajah Nazia dengan jelas. Terutama Naila dan Keanu, mereka begitu penasaran dengan sosok gadis yang akan menjadi calon menantu mereka.


"Mih, Dad, Key dan Nisha, kenalkan ini Nazia, Istri Danish," tutur Danish sembari menarik tangan Zia dengan lembut hingga gadis itu berdiri tepat di depan mereka.


"Istri???" jawab mereka serempak.


...***...