Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Akhirnya


"Adnan, perasaanku masih sama seperti dulu. Tidak bisakah kita kembali memulai hubungan kita seperti dulu?" tanya Arumi seraya menyentuh tangan Adnan kemudian menggenggamnya.


Adnan tersenyum manis sembari melepaskan tangannya dari genggaman Arumi secara perlahan agar gadis itu tidak tersinggung.


"Bagaimana ya, sebenarnya aku masih betah sendiri, Rum. Aku masih ingin menikmati waktuku tanpa memikirkan hal-hal lainnya. Dan akupun tidak ingin terikat dalam hubungan apapun untuk saat ini," sahut Adnan.


Arumi menundukkan kepalanya, terlihat jelas ia begitu kecewa setelah mendengar jawaban Adnan.


"Adnan, selama ini aku selalu berharap perasaanku terhadapmu bisa terbalaskan. Namun, ternyata aku salah. Kamu masih belum bisa menerimaku," lirih Arumi seraya mengangkat kepalanya kemudian menatap Adnan dengan tatapan sendu. Tangannya saling menggenggam satu sama lain dan diletakkan diatas pangkuannya.


"Jangan bicara seperti itu, Arumi. Kamu itu cantik, sangat cantik bahkan. Dan aku sangat yakin, kamu pasti bisa mendapatkan laki-laki yang lebih dari aku, lebih dalam segala hal," ucap Adnan seraya mengusap lembut tangan Arumi.


"Ehemmm!"


Nyonya Rahma berdehem ketika menyaksikan Adnan dan Arumi yang terlihat begitu mesra. Padahal apa yang baru saja dilihatnya, tidak seperti apa yang terjadi sebenarnya.


Setelah menyadari bahwa Nyonya Rahma dan Tante Mira sudah berada di sampingnya, Adnan segera menarik tangannya kembali.


"Eh, Tante! Sudah selesai belanjanya?" tanya Adnan.


Nyonya Rahma terlihat begitu senang. Sedangkan Tante Mira terus menantap Adnan dengan tatapan anehnya, seperti meminta penjelasan lebih lanjut dari keponakannya itu.


"Iya, sudah. Tantemu membeli banyak barang untuk keponakan barunya. Siapa tadi namanya? Naila, ah ya! Naila," sahut Tante Rahma.


"Rahma, terima kasih atas waktunya. Sebaiknya aku dan Adnan segera pulang. Kasihan Naila sendirian di rumah." sela Tante Mira seraya mengulurkan tangannya kepada sahabatnya itu.


"Oh ya, sama-sama Mira! Nanti kapan-kapan aku ajak Arumi berkunjung ke rumahmu untuk bertemu keponakan barumu." Nyonya Rahma menyambut uluran tangan Tante Mira kemudian kedua sahabat itupun berpelukan untuk beberapa saat.


Setelah berpamitan kepada Nyonya Rahma dan Arumi, Adnan pun kembali melajukan mobilnya menuju kediaman Tante Mira.


"Adnan!" seru Tante Mira dengan wajah malas menatap keponakannya yang tengah mengemudikan mobilnya.


Adnan menoleh kemudian terkekeh ketika melihat ekspresi Tantenya. "Tidak seperti yang Tante bayangkan. Adnan hanya mencoba menenangkan Arumi saat itu," sahut Adnan.


"Tante hanya takut kamu kecewa untuk kedua kalinya, Adnan." Tante Mira menepuk pundak Adnan dengan lembut.


"Tidak, tidak! Tante tenang saja, hal itu tidak akan terjadi lagi," sahut Adnan sambil tersenyum hangat.


Setelah beberapa saat, merekapun tiba di kediaman Tante Mira. Naila menyambut kedatangan mereka sambil tersenyum hangat. Begitupula Tante Mira, ia segera merengkuh tubuh mungil Naila seraya mengajaknya duduk di ruang tengah.


"Nai, Tante membelikan kamu sesuatu," ucap Tante Mira seraya menyerahkan barang-barang keperluan Naila yang ia beli di butik Nyonya Rahma.


"Wah, banyak sekali!"seru Naila


Tiba-tiba ia teringat akan paketan milik Tante Mira yang diberikan oleh kurir tadi pagi. "Sebentar ya, Tante." Naila melangkah menuju kamarnya untuk mengambil paketan itu dan membawanya kembali ke ruang tengah.


"Nah, Tante. Katanya ini paketan milik Tante." Naila menyerahkan paketan itu kepada Tante Mira.


Tante Mira mengerutkan alisnya. "Paketan apa? Perasaan Tante tidak memesan apapun, masa tiba-tiba saja ada paketan?" tanya Tante Mira seraya meraih paketan itu dari tangan Naila.


"Mungkin saja itu beneran punya Tante. Hanya saja Tante sudah lupa kalau Tante memesannya," sahut Adnan.


"Sumpah! Tante tidak memesan apapun akhir-akhir ini," ucap Tante Mira seraya mengguncang-guncang paketan itu, yang sepertinya tidak ada apapun di dalamnya.


Dengan cepat, Tante Mira membuka bungkusannya. Ia begitu penasaran apa isi paketan tersebut. Begitupula Naila dan Adnan yang sedari tadi hanya memperhatikan Tante Mira mengotak-atik kotak tersebut.


Setelah dibuka, ternyata benar. Tak ada apapun didalamnya. Hanya sebuah kotak kosong. Dan hal itu membuat mereka bertiga kebingungan.


"Ini kosong lo, Adnan! Tante jadi khawatir, jangan-jangan ini ada hubungannya dengan Keanu atau Istrinya yang sombong itu?!" ucap Tante Mira tiba-tiba.


Adnan dan Naila saling tatap. Merekapun berpikiran hal yang sama dengan apa yang dipikirkan oleh Tante Mira.


"Sebaiknya kita cek rekaman CCTV," ucap Adnan seraya bangkit dari duduknya dan melangkah menuju ruangan dimana mereka akan mengecek rekaman CCTV di rumah itu. Begitupula Tante Mira dan Naila, mereka mengikuti langkah Adnan menuju ruangan tersebut.


Setibanya di ruangan itu, Adnan segera mengeceknya. Dan ternyata benar, ada seorang Kurir paket yang mengantar paketan itu sama seperti yang sudah diceritakan oleh Naila. Seorang lelaki mengenakan jaket kulit berwarna hitam dan topi untuk menutupi wajahnya agar tidak terlalu jelas kelihatan.


"Apa kamu mengenali pria itu, Nai? Ya, mungkin saja kamu pernah melihatnya berkeliaran di kediaman Tuan Keanu," tanya Adnan.


Naila mengerutkan kedua keningnya. "Naila benar-benar tidak mengenali pria itu. Dan selama Naila bekerja di rumah Tuan Keanu, Naila tidak pernah melihat pria itu dimanapun," sahut Naila.


Adnan dan Tante Mira semakin bingung. Dan disaat mereka tengah sibuk memikirkan tentang paketan itu, disisi lain, Keanu malah mendapatkan kabar bahagia.


Di kantor Keanu,


"Bagaimana? Apa mereka sudah mendapatkan informasi tentang wanita yang berada di kediaman Nyonya Mira?" tanya Keanu kepada Sid.


"Ya, Tuan. Ini foto-foto yang berhasil mereka dapatkan." Sid menyerahkan sebuah amplop berisi foto-foto Naila ketika ia menyambut paketan itu.


Dengan tangan gemetar, Keanu menyambutnya. Perlahan, ia membuka amplop tersebut kemudian memperhatikan satu persatu foto Naila dengan seksama.


"Benarkah kataku! Wanita itu Naila! Dia adalah istriku dan aku harus segera menjemputnya!" seru Keanu sambil tersenyum puas.


Ia begitu bahagia karena akhirnya pencariannya terhadap Naila tidak sia-sia. Sid pun ikut bahagia melihat majikannya bahagia. Ini pertama kalinya ia melihat Keanu tersenyum lepas setelah kepergian Naila.


"Tapi ... aku bingung, kenapa Nyonya Mira dan Chef itu mencoba menyembunyikan Naila dariku? Aku mulai curiga, jangan-jangan Chef itu menginginkan Naila?! Tidak, tidak, ini tidak bisa dibiarkan!" geram Keanu.


Sid hanya bisa menghembuskan napas dalam. "Ya, ampun Tuan Keanu! Anda masih belum menyadari kesalahan terbesar anda adalah menyia-nyiakan gadis itu. Dan tidak ada yang salah jika mereka mencoba membantu Naila untuk melindungi dirinya dari anda," batin Sid


"Sid, besok kita kesana. Aku ingin membawa kembali Istriku. Dan jangan lupa bawa beberapa orang bodyguard untuk berjaga-jaga. Siapa tahu mereka tetap kekeh mencoba mempertahankan Naila," titah Keanu.


"Baik, Tuan. Lalu bagaimana dengan rapat besok? Apa anda ingin membatalkannya?" sahut Sid.


Keanu nampak berpikir. "Ya, sebaiknya batalkan saja. Kali ini, Naila lebih penting dari apapun."


...***...