Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Sop Buah Milik Keanu


Dengan mata berkaca-kaca, Nyonya Rita membawa cucunya keluar dari ruangan itu. Dan ternyata disana ada Tuan Rendra dan Andre yang sedang berbincang-bincang. Namun, pembicaraan mereka terhenti ketika mendengar tangisan yang begitu memilukan dari bayi Melisa.


"Kenapa, Bu?" tanya Tuan Rendra, ketika Nyonya Rita sudah duduk disampingnya dengan airmata yang menggenang di pelupuk matanya.


"Melisa, Yah! Melisa sama sekali tidak mempedulikan bayinya. Jangankan menyentuh anaknya, melihat wajah bayi mungil inipun, ia tidak sudi," sahut Nyonya Rita sambil mencoba menenangkan bayi itu.


"Ya ampun, Melisa! Dia memang benar-benar keterlaluan!" kesal Tuan Rendra.


Melihat bayinya yang terus menangis tanpa henti, membuat Andre tergerak hatinya untuk menghampiri Nyonya Mira. "Boleh saya menggendongnya, Bu?" ucap Andre.


Sontak Tuan Rendra dan Nyonya Rita menoleh kepadanya. "Tentu saja, Nak Andre," sahut Nyonya Rita seraya menyerahkan bayi mungil itu.


"Terima kasih, Bu."


Andre menyambut bayi mungil itu kemudian mencoba menenangkannya. Dan hanya dalam hitungan menit, bayi itu mulai menghentikan tangisnya. Andre menimang-nimang bayi itu sembari menciumi pipinya yang masih memerah dan bayi itupun terlihat sangat nyaman ketika bersamanya.


Tuan Rendra dan Nyonya Rita saling bertatap mata. Pikiran mereka sama, mungkin inilah yang terbaik untuk bayi itu. Nyonya Rita bahkan tidak sanggup menahan air matanya lagi dan iapun kembali menangis.


"Nak Andre, seperti bayi ini nyaman ketika bersamamu. Apa tidak sebaiknya kamu saja yang merawatnya?" tanya Nyonya Rita sambil terisak.


Sebenarnya ia sangat berat harus berpisah dari cucu pertamanya. Namun, mau bagaimana lagi. Melisa bahkan tidak menginginkan bayi itu.


"Benarkah? Saya boleh merawatnya, Bu?" tanya Andre dengan sangat antusias.


Tuan Rendra dan Nyonya Rita serempak menganggukkan kepala mereka. Dan hal itu membuat Andre benar-benar senang.


Akhirnya, Andre pun membawa pulang bayi itu bersamanya. Sedangkan Melisa benar-benar tidak peduli. Ia bahkan tidak pernah menanyakan dimana bayinya dan bagaimana keadaannya bahkan hingga ia diperbolehkan Dokter untuk pulang.


Sementara itu, di kediaman Tante Mira.


"Ish, dia datang lagi! Entah kenapa aku kok kesal lihat wajahnya yang cengingisan seperti itu! Apalagi jika aku ingat perlakuannya dulu terhadap Naila," gumam Tante Mira sembari mengintip dari balik kaca rumahnya.


"Dia kembali lagi?!" tanya Adnan yang ternyata sudah berdiri dibelakangnya.


"Eh, Adnan. Kamu ini bikin Tante jantungan aja!" ucap Tante Mira sambil memukul pelan tubuh Adnan. "Coba kamu lihat, Lelaki itu datang lagi! Dan masih sama, sambil menenteng sop buah di tangannya!"


Adnan menghembuskan napas berat. "Apakah Adnan perlu bertindak, Tante? Biar dia jera dan tidak akan berani lagi memunculkan wajahnya dirumah ini?!"


"Jangan, jangan! Tante takut terjadi sesuatu padamu. Biar bagaimanapun bodohnya orang itu, dia itu tetap Ayah dari bayi-bayinya Naila! Dan dia juga bisa melaporkan dirimu jika kamu berani menyentuhnya," tutur Tante Mira.


"Biarkan saja, Adnan tidak takut berurusan dengan lelaki bajingan seperti dirinya! Biarpun dia adalah orang yang paling berpengaruh dinegara ini," sahut Adnan sambil tersenyum sinis.


"Adnan!"


"Oke, oke! Adnan diam!"


Adnan melenggang pergi dan kembali ke kamarnya. Dan ketika ia ingin menuju kamarnya, ia melihat Naila tengah kesusahan menuruni anak tangga. Adnan bergerak cepat, ia menghampiri Naila kemudian tanpa bertanya-tanya, ia mengangkat tubuh mungil itu.


Naila sempat terperanjat karena Adnan tiba-tiba mengangkat tubuhnya. "Kak Adnan?!" Naila yang takut jatuh, segera melingkarkan tangannya di leher Adnan.


"Biar aku bantu. Lagipula seharusnya kamu itu pindah kamar saja. Pake kamar kosong di lantai bawah untuk sementara. Agar kau tidak perlu susah payah, menaiki dan menuruni anak tangga seperti ini. Aku takutnya kamu kenapa-napa, Nai," celoteh Adnan sambil menuruni anak tangga.


Naila tidak berani menjawab. Ia terus memperhatikan wajah Adnan yang begitu serius ketika bicara padanya. Setelah Adnan berhasil mendarat di lantai dasar bersama Naila, iapun segera menurunkan tubuh Naila dengan perlahan.


"Sama-sama." Adnan tersenyum kemudian ia kembali menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Sedangkan Naila terus memperhatikan lelaki itu sambil tersenyum hangat. Bahkan hingga Adnan menghilang dari pandangannya.


"Nai, Psssttt!" Tante Mira melambaikan tangannya kepada Naila yang masih terdiam di ujung anak tangga sambil menatap keatas.


Naila terkejut, ia segera berjalan menghampiri Tante Mira sambil menautkan kedua alisnya. Naila memperhatikan gelagat lucu Tante Mira yang terus mengintip sesuatu lewat kaca rumahnya.


"Apaan sih, Tante. Tante tu udah kayak tetangga kepo yang sering memperhatikan aktivitas tetangga sebelah rumah," ucap Naila sambil terkekeh pelan.


"Bukan lagi, Naila! Ini lebih dari seorang tetangga rempong! Coba sini, kamu lihat siapa yang berdiri dibalik pagar rumah ini dengan senyum bodohnya!" sahut Tante Mira.


Naila pun ikut mengintip disana dan ia sangat terkejut ketika melihat Keanu berdiri didepan pagar rumah Tante Mira sambil tersenyum bodoh menatap rumahnya. Dan satu yang menjadi perhatian Naila, sop buah yang ada di tangan Keanu.


"Benarkan! Dia itu lebih dari tetangga kepo sebelah rumah," kesal Tante Mira.


Naila hanya bisa tersenyum tipis sambil mengusap tengkuknya.


"Dan apa kamu tahu, Naila! Ini sudah yang keberapa kalinya dalam seminggu ini! Hanya saja Tante tidak menceritakannya kepadamu," sambung Tante Mira.


"Naila ingin Sop Buah itu, Tante." Naila kembali mengintip lelaki itu dari balik kaca. Namun bukan orangnya, melainkan sop buah yang sedang di tenteng oleh Keanu.


"Nanti Tante belikan, bahkan sama mas-mas yang jualnya sekalian," kesal Tante Mira, yang kembali mengintip lelaki itu.


"Rasanya beda, Tante. Padahal Kak Adnan sudah membelikan sop buah untuk Naila, bahkan Kak Adnan membelikannya ditempat yang berbeda-beda, tapi punya Tuan Keanu itu memang jauh lebih enak," tutur Naila sembari mengelus perutnya.


"Hhhh, itu semua bukan karena sop buah punya Tuan Keanu mu itu lebih enak! Tante sudah mencicipinya dan rasanya sama saja, bahkan jauh lebih enak yang dibeli sama Adnan. Itu semua karena bawaan si kembar tuh," celoteh Tante Mira.


"Ah masa sih, Tante. Memangnya bisa begitu?" tanya Naila


"Iya, Sayang! Itu semua karena bayi-bayi ini. Sepertinya mereka senang karena itu pemberian dari Ayah mereka," sahut Tante Mira sembari mengelus lembut perut buncit Naila.


"Ya, sudah! Biar Tante ambilkan. Kamu tunggu disini saja, tidak perlu ikut keluar."


Tante Mira berjalan menuju halaman depan rumahnya. Dan hal itu membuat, Keanu tersenyum puas.


"Saya membawa sop buah lagi untuk Naila, Tante Mira," ucap Keanu sembari menyerahkan sop buah itu kepada Tante Mira.


"Iya, iya, terima kasih banyak. Kamu bisa lambaikan tanganmu kearah sana, Naila berdiri disana." Tante Mira menunjuk kearah kaca rumahnya, dimana ia dan Naila berdiri mengintip lelaki itu.


"Benarkah? Oh, baiklah kalau begitu." Keanu pun melambaikan tangannya sembari tersenyum hangat, sebelum akhirnya ia pamit dan kembali melaju bersama mobilnya.


Tante Mira menghembuskan napas berat kemudian melangkah kembali menuju rumahnya. Setibanya disana, Naila begitu senang menyambut sop buah yang diberikan oleh Keanu untuknya. Tante Mira hanya bisa geleng-geleng kepala, melihat Naila menyantap sop buah itu dengan lahapnya.


"Enak?!" tanya Tante Mira sembari mengelus puncak kepala Naila,


Naila mengangguk cepat sambil tersenyum kepada Tante Mira. "Enak banget, Tante mau?"


"Tidak usah, makanlah," sahut Tante Mira.


...***...