
"Kamu baik-baik saja 'kan, Key?" tanya Febrina yang mulai tidak nyaman melihat Keyla yang masih terdiam, memperhatikan kemesraan pasangan itu.
"Tidak, aku tidak apa-apa. Kamu tenang saja," jawab Keyla sambil tersenyum yang nampak begitu dipaksakan.
"Jika kamu ingin kita pindah cafe, kita bisa pergi sekarang, Key."
"Tidak perlu, sebaiknya kita abaikan saja mereka dan anggap mereka tidak pernah ada," sahutnya.
Febrina mengalah dan mereka pun tetap melanjutkan obrolan mereka di Cafe tersebut. Netra indah milik Keyla berkali-kali kedapatan melirik kearah pasangan itu. Walaupun hatinya terasa sakit, tetapi ia tetap berusaha tersenyum kepada sahabatnya, Febrina.
Beberapa menit kemudian, pertemuan Ardhan dan gadis itupun berakhir. Ardhan yang masih tidak menyadari keberadaan Keyla di Cafe tersebut, membawa Naura bersamanya. Lagi-lagi, Keyla kedapatan sedang memperhatikan kepergian pasangan itu.
"Akhirnya mereka pulang juga," gumam Febrina sembari menghela napas lega setelah Ardhan melajukan mobilnya meninggalkan Cafe tersebut.
"Ya," jawab Keyla sambil tersenyum kecut.
Tidak berselang lama, pertemuan Keyla dan Febrina pun turut berakhir. Karena kesibukannya, Febrina akhirnya harus menyudahi pertemuan mereka. Ia pamit pada Keyla dan berlalu setelah sopir pribadinya menjemput.
"Bye, Keyla! Nanti kita ngumpul lagi, ya!" teriak Febrina sembari melambaikan tangannya kepada Keyla dari balik pintu mobil sebelum sopir pribadinya melajukan mobilnya.
"Ya!" jawab Keyla tak mau kalah.
Baru saja Keyla naik keatas motornya dan bersiap melajukan motor tersebut, tiba-tiba ponselnya berdering. Ia menerima panggilan itu dan ternyata Adriela lah yang sedang memanggilnya.
"Key, kamu jadi kesini gak, sih?" tanya Adriela.
"Iya, sebentar lagi. Aku baru saja selesai bertemu dengan Febrina. Sahabatku ketika di SMA dulu, kamu masih ingat 'kan," jawab Keyla.
"Ya, tentu saja. Eh, udah dulu, ya! Sepertinya sedang ada tamu diluar. Nanti aku hubungi lagi," jawab Adriela.
Setelah mengucapkan hal itu, panggilan pun terputus. Keyla kembali fokus pada motornya kemudian melajukannya memecah keramaian kota.
Keyla sudah berjanji pada Adriela bahwa dirinya akan kembali mengunjungi gadis itu. Seperti biasa, menemaninya memasak dan mencicipi masakannya. Ya, Adriela memiliki hobby memasak karena pada dasarnya ia memang anak dari seorang Chef handal. Ia suka mencoba hal baru dan Keyla lah yang selalu bersedia menjadi tester untuknya.
Baru saja Keyla tiba di halaman depan rumah Adriela, ia kembali dikejutkan dengan mobil Ardhan yang terparkir rapi di halaman tersebut.
"Adhan?" gumam Keyla sembari melepaskan helm dan meletakkannya keatas stang motor. Perlahan Keyla menghampiri kediaman lelaki itu. Ia masuk dan menyusuri ruangan demi ruangan yang ada di bangunan megah itu, hingga akhirnya langkah Keyla terhenti ketika ia menyaksikan perbincangan hangat yang sedang berlangsung antara keluarga besar Adnan bersama Naura, gadis yang tadi bersama Ardhan di Cafe.
Untuk yang kedua kalinya, hari ini Keyla harus menelan pil pahit. Ia memundurkan langkahnya sebelum orang-orang di ruangan itu sadar akan kehadirannya. Dengan langkah tergesa-gesa, Keyla menuju tempat ia memarkirkan motor dan segera melaju bersama benda berwarna merah tersebut.
Disaat itu Keyla tidak sadar bahwa dirinya telah menyalip sebuah mobil yang sedang dikemudikan oleh Aditya. Aditya sempat terkejut dan mengumpat kasar pada Keyla yang melesat begitu saja, menyalip mobilnya.
"Dasar sialan!" gerutu Aditya.
Aditya yang masih tidak menyadari bahwa orang itu adalah Keyla, membuntutinya dari belakang. Ia kesal dan berniat ingin memarahi orang itu.
"Dilihat dari bentuk tubuhnya, aku rasa dia seorang perempuan. Tapi, wow! Lihat kecepatannya, mengerikan!" gumam Aditya.
Hingga akhirnya Keyla menghentikan laju motornya di sebuah taman. Gadis itu melepaskan helm dan jaketnya kemudian duduk di tepi danau dengan menekuk kedua lututnya.
Aditya begitu penasaran, ia memperhatikan gadis itu dari kejauhan. Setelah memarkirkan mobilnya, Aditya segera keluar dan berjalan mendekati gadis itu. Samar-samar, Aditya mendengar gadis itu mengumpat kasar sambil melemparkan batu-batu kecil ke danau yang ada di hadapannya.
"Dasar bodoh, katanya tidak punya waktu untuk memikirkan hubungan dengan seorang perempuan, trus tadi itu apa namanya? Apa Naura bukan seorang perempuan?!"
Aditya tersenyum mendengar umpatan Keyla dan ia mulai mengenali siapa gadis itu sebenarnya.
"Keyla?!" sapa Aditya dengan ragu-ragu.
Perlahan Keyla berbalik dan menatap Aditya dengan mata berkaca-kaca.
"Kak Aditya? Ngapain Kakak disini?" tanya Keyla dengan wajah heran menatap Aditya.
Aditya terkekeh pelan setelah mengetahui bahwa gadis nekat yang tadi menyalip mobilnya adalah Keyla. Niatnya ingin memarahi gadis itu, malah batal.
"Membuntuti kamu," jawab Aditya.
Keyla menautkan kedua alisnya. "Membuntuti Keyla, buat apa?!"
"Key, lain kali bawa motor pelan-pelan. Jangan nyelip sembarangan. Ingat, jalan raya itu bukan arena balap, loh! Sedikit saja kamu lengah dan braaakkk!!!" jawabnya sambil terkekeh kembali.
Akhirnya Keyla sadar bahwa dirinya baru saja menjadi pembalap dadakan setelah mendengar ucapan Aditya.
"Maafin Keyla ya, Kak. Jangan bilangin sama Kak Danish, nanti motor Keyla bisa disita sama dia," lirih Keyla dengan wajah memelas menatap Aditya.
...***...