Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Membeli Cincin Baru


"Mari, Naila." Keanu mengulurkan tangannya untuk mengajak Naila pulang bersamanya.


Naila menoleh Tante Mira yang masih berdiri disampingnya dengan mata berkaca-kaca. Namun, beberapa detik kemudian Tante Mira menangis histeris. Dan hal itu membuat Naila, Keanu dan Adnan kelabakan.


"Lho, Tante kenapa?" Naila kebingungan, ia mengelus punggung Tante Mira dan mencoba menenangkannya.


"Naila, Tante sedih. Tante tidak ingin Naila pergi. Padahal Tante sangat berharap Naila dan kedua bayi mungil itu tinggal dirumah ini selamanya. Menemani Tante dan meramaikan rumah ini," ucap Tante Mira sembari memeluk tubuh Naila.


Naila tersenyum kecut. "Tante 'kan masih bisa menjenguk Naila dirumah Tuan Keanu? Tiap hari juga boleh kok, Tante." Naila melepaskan pelukan Tante Mira dan mulai menyeka airmata wanita paruh baya itu.


"Benarkah? Apakah boleh aku menginap di rumahmu, Keanu?" tanya Tante Mira sambil menatap Keanu dengan tatapan sendu.


"Tentu saja, Tante. Kenapa tidak," sahut Keanu.


Tante Mira tersenyum puas. "Terimakasih, Keanu. Dan sekarang kalian berangkatlah, hati-hati dijalan ya, Keanu. Jangan ngebut-ngebut. Ada dua nyawa yang harus dijaga dengan baik, ingat itu!" ucap Tante Mira seraya menepuk pundak Keanu.


"Baik, Tante."


"Ingat, Keanu. Jangan pernah menyakiti Naila lagi. Jika sampai ia terluka sedikit saja, maka aku orang pertama yang akan menghajarmu! Ini adalah kesempatan terakhirmu, Keanu. Jadi gunakanlah baik-baik!" tegas Adnan sambil menatap tajam kearah Keanu.


Keanu tersenyum hangat sembari kemudian menepuk pundak Adnan dengan lembut. "Tentu saja, Adnan. Aku tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan ini."


Keanu meraih tangan Naila dan menuntunnya masuk kedalam mobil.


"Naila, baik-baik disana, ya! Jaga kesehatan dan juga kedua bayimu. Jangan sampai kelelahan ya, ingat pesan Tante!" Tante Mira kembali terisak. Adnan meraih tubuh Tante Mira kemudian membiarkan Tante Mira menangis di pelukannya.


"Iya, Tante. Tante jangan menangis lagi. Naila tidak enak kalau Tante nangis terus," lirih Naila yang sudah duduk didalam mobil.


"Ya, sudah, kalian pergilah, Tante baik-baik saja, kok." Tante Mira memerintahkan Sid untuk segera melajukan mobilnya. Dan merekapun segera melaju memecah keramaian kota.


Adnan hanya bisa menghembuskan napas berat sambil memperhatikan mobil yang ditumpangi oleh Naila.


Didalam mobil,


Keanu terus tersenyum sambil sesekali melirik Naila yang masih tegang dengan suasana barunya. Naila hanya diam, bibirnya terkunci rapat setelah mereka meninggalkan kediaman Tante Mira.


"Nai, jangan tegang begitu, donk! Aku tidak akan melahapmu, kok," ucap Keanu sambil tersenyum manis menatap Naila.


Naila masih diam dan tak bicara sepatah katapun. Bahkan dia tidak bergerak sama sekali, menoleh kearah Keanu pun ia enggan. 


"Nai," Keanu meraih tangan Naila kemudian menggenggamnya. Naila sontak menoleh dan menatap tajam kearah mata Keanu. "Percayalah padaku, Nai. Aku tidak akan pernah menyakiti kamu lagi. Aku juga sudah berjanji padamu dan juga keluargamu tidak akan menyentuh dirimu tanpa seizin darimu. Dan aku tidak akan pernah mengingkarinya," ucap Keanu dengan wajah serius membalas tatapan Naila.


Naila masih terdiam, bibirnya masih tertutup rapat.


"Sid, kita mampir ke toko perhiasan. Aku ingin membelikan cincin pernikahan yang baru untuk Naila. Dan jangan lupa mampir ke Butik, Naila butuh pakaian yang bagus untuk ia kenakan," Keanu kembali tersenyum manis menatap Naila.


"Baik, Tuan!"


Tidak berapa lama, Sid pun menghentikan mobilnya tepat didepan sebuah toko perhiasan yang sudah terkenal di kota mereka. Keanu menuntun Naila memasuki toko perhiasan tersebut dan segera disambut oleh sang Pemilik toko.


"Selamat siang, Tuan Keanu. Selamat datang kembali di toko kami! Ada yang bisa kami bantu?" tanya sang pemilik toko.


"Saya ingin membelikan cincin pernikahan untuk istri saya. Karena cincin miliknya sudah kekecilan, mungkin efek dia sedang hamil besar," tutur Keanu.


"Ih, baik-baik! Tentu saja, Tuan." Sang pemilik toko semringah.


"Aku ingin yang paling bagus dan yang paling mahal," sela Naila tanpa ekspresi apapun di wajahnya.


Keanu, Sid dan Pemilik toko sontak menoleh kepada Naila. Namun, Naila tetap tidak peduli. Wajahnya tetap datar, tanpa ekspresi apapun.


Keanu hanya bisa tersenyum sembari menggaruk kepalanya. Bukan masalah harga cincin yang mahal. Dia hanya tidak menyangka Naila ternyata masih bisa mengerjai dirinya disaat seperti ini.


"Baiklah, Tuan. Berikan cincin pernikahan yang paling bagus dan paling mahal di toko ini," ucap Keanu.


Tentu saja sang pemilik toko girang bukan main setelah mendengarnya. Ia segera memerintahkan anak buahnya agar segera memperlihatkan koleksi perhiasan terbaik di tokonya.


"Tuan, Nyonya, silakan duduk." Pemilik toko mempersilakan Naila dan Keanu duduk disana sembari menunggu anak buahnya membawakan koleksi cincin pernikahan terbaik yang mereka miliki.


Tidak berselang lama, beberapa anak buah pemilik toko tersebut datang dengan membawa perhiasan ditangan mereka. Mereka segera memperlihatkan koleksi cincin pernikahan terbaik yang mereka miliki kepada Naila dan Keanu. Naila bingung melihat perhiasan yang begitu menyilaukan mata. Ia jadi bingung sendiri setelah melihatnya.


"Nah, Naila. Sekarang kamu pilih yang mana?" tanya Keanu.


"Yang paling mahal, yang mana?" tanya Naila kepada salah seorang anak buah sang pemilik toko.


Lelaki itu meraih cincin yang paling mewah dengan bertahtakan berlian diatasnya. Dia menyerahkan cincin itu kepada Naila dan segera diraih oleh wanita itu. Naila memperhatikan cincin itu dengan seksama kemudian mengenakannya. Ternyata cincin itu sangat pas dan terlihat begitu cantik dijari manis Naila. Walaupun sebenarnya ia sama sekali tidak menyukai cincin itu. Namun, Naila tetap menginginkannya.


"Aku ingin yang ini!" Naila memperlihatkan jari manisnya kepada Keanu.


Keanu pun tersenyum, "Baiklah, apapun untukmu,"


Naila menekuk wajahnya. Padahal maksud hati, Naila ingin mengerjai Keanu, tetapi lelaki itu malah terlihat senang dengan pilihannya. Setelah selesai di toko perhiasan tersebut, Sid kembali melajukan mobilnya menuju Butik yang terbaik di kota itu.


"Pilihlah apapun yang kamu suka," ucap Keanu kepada Naila.


Naila memutarkan bola matanya kemudian meminta salah satu karyawan dibutik itu untuk menemaninya memilih pakaian. "Pilih aja yang paling mahal! Biar Tuan itu kewalahan membayarnya," ucap Naila kepada Karyawan Butik tersebut.


Karyawan butik itu terkekeh pelan. "Kok begitu sih, Nona. Bukankah Tuan itu suami Nona?" tanya Karyawan Butik tersebut.


"Aku masih kesal dengannya, jadi biar aku kerjain aja! Cepat gih! Cariin yang mahal tapi yang enak dipakai juga tapinya," sahut Naila.


"Baik, Nona!" sahut Karyawan itu sambil tersenyum hangat.


...***...