Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Bab 95


"Apa?" pekik Danisha dengan wajah panik.


"Ya, ya, aku akan segera kesana!"


Setelah panggilan itu di matikan, Danisha pun bergegas mengganti pakaian kemudian bersiap menuju Rumah Sakit.


"Mbak, tolong jaga Raisha sebentar. Aku harus segera ke Rumah Sakit karena sesuatu baru saja terjadi pada Ibu mertuaku," ucap Danisha sembari menepuk pundak sang Babysitter kemudian tidak lupa melabuhkan ciuman hangatnya di puncak kepala Baby Raisha.


"Tentu saja, Nona Danisha."


Setelah berpamitan kepada Babysitter yang bertugas menjaga Raisha. Danisha pun segera berangkat bersama sopir pribadi yang akan mengantarkannya ke Rumah Sakit.


Setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit, Danisha pun tiba di Rumah Sakit. Danisha bergegas menuju lobby, dimana Rey sudah menunggu kedatangannya.


"Bagaimana keadaan Ibu sekarang, Mas? Ibu baik-baik saja 'kan?" tanya Danisha seraya menyambut uluran tangan Rey yang sejak tadi terulur di hadapannya.


"Beruntung Ibu hanya mengalami stroke ringan dan tidak menimbulkan masalah yang serius pada tubuhnya," sahut Rey.


"Oh, syukurlah."


Rey dan Danisha bergegas menuju ruangan dimana Ibunda Rey dirawat. Setibanya di ruangan tersebut, Rey mengajak Danisha menemui Ibu mertuanya yang sedang tergolek lemah di atas tempat tidur pasien.


"Bu ... Ibu baik-baik saja?"


Danisha duduk di samping tempat tidur sambil mengelus lembut tangan wanita paruh baya tersebut.


"Saat ini aku sedang tidak baik-baik saja."


Ibunda Rey membuang wajahnya ke arah lain dan membuat Danisha sadar bahwa wanita itu masih merasa kesal kepadanya.


"Maafkan Danisha, Bu," lirihnya.


Danisha bangkit dari posisi duduknya karena merasa sangat tidak nyaman ketika berada di samping wanita yang sudah melahirkan suaminya itu.


"Ehm ... Mas, sebaiknya aku tunggu di luar saja."


Danisha menghampiri Rey yang juga nampak tidak nyaman, sama seperti dirinya.


"Baiklah," jawab Rey sembari mengelus pipi Danisha dengan lembut.


Setelah Danisha keluar dari ruangan itu, nampak Rey sedang bicara dengan serius di dalam sana bersama Ibunya. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, yang pastinya Danisha tidak ingin mendengarnya.


Setelah beberapa saat, pembicaraan merekapun selesai. Wajah Rey nampak tidak bersahabat ketika keluar dari ruangan itu. Ia menghampiri Danisha kemudian duduk di sampingnya.


Rey terdiam seribu bahasa sambil menggenggam erat tangan Danisha. Namun, dari raut wajah lelaki itu Danisha tahu bahwa Rey dan Ibunya baru saja membicarakan masalah dirinya yang tidak bisa memberikan anak dan cucu untuk keluarga kecil mereka.


"Ibu membahas masalah itu lagi ya, Mas?"


Reyhan membuang napas berat kemudian menatap wajah sendu Danisha saat itu.


Danisha tersenyum getir kemudian memeluk tubuh suaminya dengan erat. "Aku harap Tuhan memberikan kita sebuah keajaiban. Jika seandainya kita memang tidak diizinkan memiliki keturunan, paling tidak Tuhan bisa membuka hati Ayah dan Ibu agar bisa menerima keadaanku yang tidak sempurna," ucap Danisha dengan mata berkaca-kaca.


"Amin."


Tidak berselang lama, Naila hadir di tempat itu dengan wajah cemas. Ia menghampiri Danisha dan Rey yang masih duduk di ruangan itu sambil berpegangan tangan.


"Danisha, bagaimana kondisi Ibu mertuamu?"


Danisha dan Rey segera menoleh dan merekapun pun tersenyum menyambut kedatangan Naila yang begitu tiba-tiba.


"Mami?!"


Danisha bangkit dari tempat duduknya kemudian memeluk Naila.


"Barusan Mami dari rumahmu, Nisha. Kata Babysitter, kamu baru saja pergi ke Rumah Sakit untuk menjenguk Ibu mertuamu. Ya, sekalian aja Mami mampir kesini," ucap Naila sembari melepaskan pelukan Danisha.


"Ibu ada di dalam, Mih. Sini, biar Rey antar," ajak Rey.


"Tidak usah, Rey. Kalian disini aja, Mami bisa sendiri, kok."


"Baiklah kalau begitu."


Rey pun kembali ke posisi duduknya dan Naila pun segera beranjak dan menghampiri pintu ruangan, dimana Ibunda Rey sedang beristirahat.


Di dalam ruangan itu.


"Rey benar-benar keras kepala! Dia masih saja kekeh ingin mempertahankan rumah tangganya. Padahal apa yang ia harap dari Danisha? Walaupun cantik dan memiliki karier yang sukses tapi kalau tidak bisa memberikan seorang anak, untuk apa?" ucap Ibunda Rey sambil menekuk wajahnya.


"Sudahlah, Bu. Ingat penyakit ibu, apa Ibu ingin penyakitmu kumat lagi?!" sahut sang Suami yang masih setia menemaninya di ruangan itu.


"Tapi, Ibu 'kan masih kesal, Yah!"


Tanpa mereka sadari, pembicaraan mereka saat itu terdengar dengan jelas di telinga Naila. Hati Naila hancur, sehancur-hancurnya ketika mendengar perkataan yang menyakitkan itu keluar dari bibir Ibundanya Rey.


Perlahan Naila menghampiri tempat tidur wanita itu dengan wajah sendu. Ibu dan Ayah Rey membulatkan mata mereka setelah sadar bahwa ada Naila di ruangan itu bersama mereka.


"Nyo-Nyonya Naila?!" pekik Ibunda Rey dengan gemetar.


"Silakan duduk, Nyonya Naila!"


Ayah Rey menghampiri Naila kemudian mempersilakan wanita itu untuk duduk di samping tempat tidur yang sedang ditempati oleh istrinya.


"Aku sudah dengar semuanya!" ucap Naila dengan nada yang lebih tegas dari biasanya.


Seketika wajah kedua orang itu pucat pasi ketika menatap Naila.


...***...