
Aditya melajukan mobilnya dengan cepat menuju kediamannya. Rasa malu sudah menguasai hati dan pikirannya saat itu. Ia bahkan terus mengumpat kasar, memaki dirinya sendiri.
"Seandainya waktu bisa kuputar kembali, maka aku ingin kembali ke masa dimana Nazia masih menjadi calon istriku. Paling tidak aku ingin mencabut kata-kataku selama ini," gumamnya.
"Ya Tuhan, aku benar-benar malu!"
Tidak berselang lama, ia pun tiba di kediamannya. Ia bergegas masuk tanpa permisi apalagi memberi salam kepada kedua orang tuanya yang kini sedang asik bersantai di ruang utama.
"Nak, kamu sudah pulang?"
Jangankan menjawab pertanyaan Bu Radia, Aditya bahkan tidak melirik sedikitpun kearah mereka. Ia terus melangkahkan kakinya menuju lantai atas, dimana kamarnya berada.
Bu Radia dan Pak Dodi saling tatap. Mereka tahu apa yang membuat anak mereka menjadi seperti itu.
"Sebaiknya Ibu menyusul Aditya ya, Yah."
"Tapi, jika ia masih berkata kasar padamu, sebaiknya tinggalkan dia, Bu. Anak itu harus dikasih pelajaran sekali-sekali," ketus Pak Dodi.
Bu Radia menghembuskan napas panjang kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar Aditya. Setibanya di depan kamar, ternyata pintu kamar anak semata wayangnya itu tidak dikunci. Bu Radia dapat membukanya dan mengintip apa yang dilakukan oleh laki-laki itu didalam kamarnya.
Aditya terlihat frustrasi, ia duduk di tepian tempat tidurnya sambil menatap dinding kamarnya dengan tatapan kosong. Rambutnya terlihat acak-acakan dan bahkan pakaiannya pun sangat berantakan. Berbanding terbalik dengan Aditya yang biasanya selalu tampil rapi dan keren. Sebagai seorang Ibu, Bu Radia tentu saja sedih melihat keadaan anaknya yang seperti itu. Walaupun sebenarnya hal itu akibat perbuatannya sendiri.
"Dit, boleh Ibu masuk?" tanya Bu Radia.
Aditya sempat menoleh, tetapi hanya sebentar, kemudian ia kembali melemparkan pandangannya kearah dinding kamar. Ia pun tidak mempersilakan Ibunya masuk kedalam kamarnya. Namun, Bu Radia tetap masuk, walaupun Aditya tidak mengizinkannya.
Bu Radia menghampiri Aditya dan duduk disampingnya.
"Sudahlah, Nak. Jadikanlah ini pembelajaran. Lain kali jangan pernah meremehkan sesuatu yang kamu anggap tidak ada harganya. Kamu tidak akan tahu bahwa sesuatu yang kamu anggap tidak ada harganya ternyata sangat berharga untuk orang lain," ucap Bu Radia sambil merapikan rambut Aditya yang berantakan.
"Tapi--" ucapan Aditya terjeda, ia menarik napas panjang kemudian menghembuskannya. "Aku tidak sanggup menampakkan wajahku lagi, Bu. Apalagi dihadapan Tuan Danish. Aku yakin sekali, Tuan Danish sudah mengetahui hal ini, tetapi aku sama sekali tidak menyadarinya. Aku bahkan pernah mengolok-olok penampilan Nazia bersama Helen dan aku yakin, Tuan Danish pun mendengarnya saat itu."
Bibir Aditya bergetar, tetapi ia tahan dengan cara mengigitnya.
"Minta maaflah kepada mereka dengan tulus. Ibu yakin, baik Tuan Danish maupun Nazia bukanlah seorang pendendam. Mereka pasti bersedia memaafkan semua kesalahanmu," ucap Bu Radia sambil menepuk pundak Aditya yang mulai bergetar.
"Aku tidak tahu, apakah aku masih sanggup menampakkan wajahku ke hadapan mereka, Bu."
. . .
Dua hari kemudian.
"Ke kantor," jawabnya singkat.
Bu Radia kembali bertatap mata bersama suaminya. Ia benar-benar cemas karena selama dua hari ini, Aditya benar-benar kacau. Hari-harinya ia habiskan dengan diam dan termenung.
Hari ini pun, ia terpaksa kembali ke kantor karena pamannya, Sid, sudah memarahinya. Sid marah karena Aditya sudah melalaikan tugasnya.
"Dit, kamu yakin bisa bekerja hari ini?" tanya Bu Radia cemas.
"Ya."
Aditya segera melajukan mobilnya menuju perusahaan dan sesampainya disana, ia kembali melangkah gontai menuju ruangannya.
Namun, langkahnya terhenti ketika melewati sebuah ruangan. Ia mencoba mendengarkan dengan seksama percakapan antara dua wanita didalam sana yang sepertinya sedang menyebut-nyebut namanya.
"Kasihan dia loh, Helen. Aditya benar-benar mencintai dirimu dengan tulus."
Terdengar suara gelak tawa Helen didalam sana. "Iya, sebab itu lah aku masih bertahan sama dia. Lagipula kantongnya cukup tebal loh, Ly. Masih lumayan lah, ketimbang tidak sama sekali," jawabnya sambil tertawa renyah.
"Trus, kalo udah dapat Ceo baru, gimana kabar Aditya?!" tanya Lily penasaran.
"Ya, ku buang lah! Ngapain aku melanjutkan hubungan yang sama sekali tidak aku inginkan ini? Aku terpaksa berhubungan dengannya karena putus asa, Danish selalu menolakku mentah-mentah," kesal Helen sembari menyilangkan tangannya ke dada.
Tubuh Aditya menggigil. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Seorang Helen yang selalu ia puja-puja diatas segalanya, sekarang dengan mudahnya berkata seperti itu.
"Jadi, selama ini aku hanya menjadi pelarian Helen saja? Ternyata selama ini wanita itu mencintai Tuan Danish?!"
Aditya membuka pintu ruangan itu dengan keras hingga membuat kedua wanita itu terperanjat. Apalagi setelah menyaksikan dirinya berdiri tepat didepan mereka dengan wajah memerah menahan amarahnya.
"Ternyata dirimu begitu licik, Helen. Aku bahkan rela meninggalkan Nazia di hari pernikahan kami hanya untuk dirimu. Dan sekarang inikah balasan mu padaku, Helen!!!" teriaknya dengan emosi berapi-api.
Lily, sahabat Helen, segera menjauh dan pergi meninggalkan tempat itu. Sedangkan Helen, ia tidak bisa kemana-mana selain diam dan menghadapi kemarahan lelaki itu.
"Sa-sayang, kamu salah paham. Se-sebenarnya aku dan Lily hanya bercanda. Aku berani bersumpah," ucap Helen terbata-bata, mencoba menenangkan Aditya yang sedang emosi.
"Sudah, cukup! Jangan mengelak lagi, Helen!"
...***...
Maafkan Author ya, Readers. Author bisanya UP cuma satu bab. Soalnya sama seperti yang author bilang dulu, cerita Danish dan Nazia tidak panjang. Paling tinggal beberapa bab lagi. Kalo di UP dua kali sehari, mungkin beberapa hari lagi bakal END beneran dan author bakal rindu cuitan kalian di novel ini ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜