Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Bab 97


Beberapa bulan kemudian.


"Bagaimana kabar Ibu mertuamu, Sha?" tanya Naila sambil menyerahkan Baby Raisha yang sekarang sudah berusia 5 bulan kepada Danisha yang ingin segera kembali ke kediamannya.


"Begitulah, Mih. Sekarang Ibu hanya bisa duduk di kursi roda karena kesehatannya semakin memburuk menurut Nisha."


"Hhh, seandainya mulut Ibu mertuamu itu sedikit saja lebih manis, mungkin Mami bersedia mengunjunginya. Tapi ... ah, sudahlah!" sahut Naila sambil menggelengkan kepalanya.


"Entah sampai kapan Ibu akan terus seperti itu. Bahkan Perawat yang merawat Ibu pun sudah silih berganti. Sebenarnya Nisha merasa sangat tidak nyaman, Mih. Nisha tahu, perubahan sikap Ibu terjadi karena sampai saat ini Nisha belum bisa memberikannya seorang cucu," lirih Danisha.


"Hush! Sudah, jangan bahas itu lagi. Sebaiknya cepat masuk ke mobil. Kamu tidak ingin keduluan Rey 'kan tiba di rumah?" sahut Naila.


Danisha pun tersenyum kemudian segera memasuki mobil milik sang Daddy, yang akan mengantarkannya kembali ke kediamannya.


"Bye, Raisha sayang!" ucap Naila sembari melambaikan tangannya kepada si kecil Raisha yang kini berada di pangkuan Danisha.


"Bye Grandma, bye Grandpa!" sahut Danisha seraya melambaikan tangan mungil Raisha kepada Naila dan Keanu yang baru saja muncul di halaman depan sambil tersenyum hangat.


Setelah Danisha dan Raisha memghilang dari pandangan mereka, Naila dan Keanu pun kembali memasuki rumah mewah mereka sambil bergandengan tangan.


"Seandainya aku adalah Daddy yang kejam, mungkin sudah sejak lama aku pisahkan Danisha dengan Rey! Sebenarnya ini bukan tentang Rey, tetapi tentang mertuanya yang menyebalkan itu," gerutu Keanu.


Naila tersenyum kemudian menyandarkan kepalanya di lengan Keanu. "Beruntung kamu Daddy yang baik ya, Hubby. Jadi anak perempuanmu tidak perlu menjadi janda."


"Bukan soal itu, Naila sayang. Aku memikirkan bagaimana perasaan Danisha yang tiap hari harus tertekan dengan ucapan-ucapan mertuanya yang sangat pedas itu. Kalau menurutku, lebih baik menjadi janda daripada tiap hari harus makan hati."


"Kita berdoa saja, Hubby. Semoga ada keajaiban untuk Nisha dan keluarga kecilnya."


Tidak berselang lama, mobil yang mengantarkan Danisha dan Raisha pun tiba di halaman depan rumahnya. Baru saja Danisha menginjakkan kakinya di depan pintu rumah, Pelayan dan Babysitter menghampirinya dengan wajah kusut.


"Nona Nisha, Ibu Wijaya marah-marah lagi. Kami bahkan tidak diizinkan mendekatinya," ucap Pelayan.


"Ya ampun, Ibu!" pekik Danisha sambil menggelengkan kepalanya.


Danisha menyerahkan Raisha kepada Babysitter kemudian bergegas menuju kamar yang sekarang di tempati oleh Ibunda Rey untuk sementara waktu. Sebelum Rey mendapatkan Perawat yang bersedia merawatnya.


Perlahan Danisha membuka pintu kamar tersebut dan nampaklah Ibunda Rey sedang duduk di kursi rodanya sambil memperhatikan keadaan luar melalui kaca jendela.


"Bu," sapa Danisha.


"Heh!" Ibunda Rey tersenyum sinis, tetapi ia tetap fokus ke depan tanpa berkeinginan menoleh kepada Danisha yang kini berjalan mendekatinya.


"Ibu kenapa lagi? Ibu kesal sama Nisha lagi, iya?" tanya Danisha sembari duduk di tepian tempat tidur Ibu mertuanya.


"Ya ampun, Bu ... jangan berkata seperti itu. Mulai sekarang, cobalah untuk mengontrol emosi Ibu. Kesehatan Ibu akan semakin memburuk jika Ibu terus-terusan seperti ini," sahut Danisha.


"Aku ini ketiban sial, Nisha! Dan itu semua gara-gara kamu," ketusnya.


Danisha mengusap wajahnya. Walaupun ia sudah mulai terbiasa dengan ucapan menyakitkan yang terus keluar dari bibir wanita itu, tetapi tidak bisa dipungkiri rasa sakit itu masih ada.


"Maafkan Nisha, Bu."


"Permintaan maafmu tidak ada gunanya, Nisha. Tidak akan pernah mengubah sesuatu yang sudah terjadi di keluarga ini," sahutnya. Terdengar pelan tetapi kata-kata itu begitu tajam di telinga Danisha.


"Ya, Nisha tahu itu."


Danisha bangkit dari duduknya kemudian pergi meninggalkan ruangan itu. Danisha meraih Baby Raisha dan membawanya ke kamar. Jika hatinya sedang bersedih seperti ini, Baby Raisha lah yang dapat menghiburnya.


Tepat disaat itu, Rey tiba di kediamannya. Hari ini, orang pertama yang ingin ia temui adalah Ibunya. Ia ingin menyampaikan bahwa ia sudah menemukan seorang perawat yang bisa merawat Ibunya.


"Bu, Rey sudah menemukan perawat yang bersedia merawat Ibu. Dan besok ia sudah bisa memulai pekerjaannya," ucap Rey sembari menghampiri Ibunya yang masih dalam posisi seperti sebelumnya.


"Syukurlah, Ibu juga ingin cepat-cepat pergi dari sini! Ibu sudah tidak betah berada lebih lama lagi di tempat ini."


Rey menghembuskan napas kasar. Ia benar-benar kesal mendengar jawaban dari sang Ibu.


"Astaga, Ibu!" pekik Rey. "Sampai kapan Ibu akan terus bersikap seperti ini? Apakah Ibu tidak pernah berpikir bahwa apa yang terjadi pada Ibu bukanlah karena kesalahan orang lain. Tetapi, karena kesalahan Ibu sendiri. Ibu tidak pernah bisa mengontrol emosi Ibu, bahkan Ayah saja menyerah!"


"Tapi, apa kamu sudah lupa, Rey? Ibu jadi seperti ini karena kamu lebih memilih mempertahankan wanita itu dari pada menuruti permintaan Ibu."


Rey menggelengkan kepalanya. "Sampai kapanpun, Rey tidak akan pernah meninggalkan Danisha, Bu."


"Ibu tidak minta kamu meninggalkan dia, Ibu cuma ingin kamu menikah lagi dan punya anak, sudah itu saja! Lagipula Nisha pasti setuju, kok. Bukankah dia sadar, bahwa dirinya bukanlah wanita yang sempurna!" ketus Ibunda Rey.


Tiba-tiba, Babysitter datang kemudian membuka pintu ruangan itu dengan wajah panik.


"Tuan Rey, sesuatu terjadi pada Nona Danisha dan dia sedang tidak sadarkan diri di kamar," ucap Babysitter.


"Apa?!" pekik Rey yang segera berlari menuju kamarnya.


"Hmm, sandiwara apa lagi yang dia mainkan sekarang! Dasar licik!" gumam Ibunda Rey sambil menekuk wajahnya.


...***...