KISAH UNTUK GERHANA

KISAH UNTUK GERHANA
BAB 8 Noda merah


" " Mona juga gue telfon gak diangkat. Chat gue juga diangkat. Chat gue juga satupun di bales,"


Liona


GUE MAU BELIIN LO PEMBALUT BUAT LO TENANG AJA !" Teriak Gerhana.


Gerhana niat untuk mempermalukan dirinya atau gimana. semua atensi seluruh siswa yang baru saja balik dari kantin langsung menatap Liona dengan Curiga


...••••...


Tiga Puluh


" WOI NA ! LO GAK MATI KAN DI SANA JANGAN MATI DULU LIONA GUE BELUM NIKAHIN LO,"


Liona membuka matanya, hampir saja ia ketiduran di dalam toilet ini. Liona membuka


Liona terlebih dulu membuka Pintu toilet sebelum Gerhana mengetuknya


" Ngapain lo masih di sini Mau ngintip gue,"


Gerhana berdeham singkat. " Ngapain juga gue ngintip cewek tepos kayak lo,"


" Minggir, gue mau


Liona menghentikan langkahnya, gadis berambut noda merah yang tercetak jelas di rok abu-abunya.


Gerhana , Na," Potong Gerhana


Liona menatap datar Gerhana," Lo Pernah Pake Pembalut ya, m


Liona berdecak sebal, yang ia pikirkan adalah bagaimana ia menutupi noda merah di rok


" Lo baper gak gue giniin,"


...•••••...


Gerhana m kambing Pake motor ninja nih. Kasihan, Slamet sama Desi kelaparan,"


Gerhana menolehkan kepalanya lantaran mendengar suara yang tidak asing di telinganya.


Tepatnya di Bawah Pohon mangga Angkasa atau ayah Gerhana tengah memberikan makanan kepada burung-burung Perkutut harga lima Puluh juta.


Gerhana melangkahkan kakinya mendekati ayah tercintanya.


" Lagi ngapain Pah ? Tanya Gerhana lebih tepatnya basa-basi.


Angkasa menolehkan kepalanya, " Lagi garuk celetong. Lo gak lihat Papah lagi ngapain,"


Gerhana berdeham singkat," Nikah Muda enak gak, Pah,"


Angkasa menoleh. ada apa dengan anaknya ini. Oh, atau Gerhana mau dinikahkan. Tidak mungkin seorang Gerhana mana Pecus ngurus rumah tangga. ****** ***** saja masih dicuciin sama mamanya


" Gerhana Capek jomblo terus, Pah, Pengen dibelai Juga kayak Papah dibelai Mamah," Gerhana merosotkan bahunya.


" Mau dibelai ? Sini Papah belai," Angkasa mengangkat tinggi-tinggi serok yang digunakan untuk menyendok makanan burung


" Belai sampe ke tulang itu namanya,"


" kamu tadi bilang apa ? Jomblo ?" Angkasa tertawa garing, " Pacar kamu yang dua enam di mana,"


" Udah nggak dua Puluh enam Pah kemarin Gerhana udah Putusin satu, Sekarang tinggal dua Puluh lima,"


Gerhana menolehkan kepalanya ke arah Angkasa yang sibuk membenarkan sarungnya yang hampir melorot. Gimana sih Pah kalo Perkututnya terbang gimana ?


" Pah,"


" Hm,"


" Gerhana boleh nambah Porsi nggak ?


Angkasa menolehkan kepalanya," Porsi apa, Gerhana ?


" Nambah Porsi cewek biar genap tiga Puluh," jawab Gerhana dengan entengnya


Angkasa terdiam, menghentikan aktivitasnya yang lagi memberikan makan tiga burungnya Tunggu-tunggu


Angkasa tersenyum lebar, bahkan matanya sampai menyipit. Pria baya itu Merangkul Pundak anaknya dan menepuk-nepuk kepala Gerhana


" Boleh kok boleh. Mau berapa anakku Hm," tanya Angkasa dengan lembut


" Mau nambah lima Porsi lagi aja Pah, Gak usah banyak-banyak,"


Angkasa tertawa garing, jauh didalam hati Angkasa menggeram tertahan. jika tidak ingat bahwa Gerhana ini anaknya mungkin saja sekop kecil yang ia Pegang akan menancap sempurna dikepala Gerhana.


" LIMA TUH BANYAK, PANGERAN KODOK LO MAU BUKA ASRAMA PEREMPUAN APA GIMANA !" Angkasa mengapit leher Gerhana dengan kencang.


" P-Pah Leher G-Gerhana ....." Gerhana memukul-mukul tangan Angkasa


" Mampus lo, hm ! Putusin Cewek lo satu-satu atau leher lo yang gue Putusin,"


" i-iya P-Pah T-tapi lepasin !"


Angkasa melepaskan kapitanya. ia salah, sungguh salah Pernah mengenalkan Gerhana dulu kepada teman-temannya


Angkasa membenarkan kaos hitamnya dan membiarkan Gerhana kabur darinya.


" Gerhana, Gerhana,"


...••••...