
Kenzie nampak menatap Helen sebentar, sebelum ia menerima Pemberian Helen. Hal itu membuat Helen tersenyum.
" Thanks gue duluan," kata Kenzie melenggang Pergi
Bima berlari menyusul Kenzie tak
Naura yang berdiri di antara Mona dan Liona sempat bingung dengan teman barunya yang m yang hendak melempar wajah Liona.
" Udah Kirana Lo main tangan sama dia sama aja lo bikin gue jauh sama Gerhana jangan macem-macem Kirana, biar gue turun tangan sendiri nanti," ucap Celine
sebelum Celine dan kedua temannya benar-benar Pergi. Cewek itu sempat melirik Liona dengan sinis.
" Mau bendera kemenangan atau bendera kekalahan ? Dan tanpa menunggu jawaban Liona, Celine melenggang Pergi dengan senyuman mengejek
" KE BALIK KALI NENEK LAMPIR SEHARUSNYA LIONA YANG NANYA GITU KE ELO MAU BENDERA KEMATIAN ATAU BENDERA KEHIDUPAN SEBAGAI KEMENANGAN !" teriak Mona emosi. ia menendang tembok dengan refleks. Cewek itu jingkrak-jingkrak kesakitan begitu kakinya terasa ngilu
" Rasain banyak tingkah sih lo !" ejek Liona. Kemudian ketiganya melanjutkan langkahnya menuju kantin dengan kondisi kaki Mona yang sedikit Pincang.
...•••••...
Berkali-kali Gerhana menelepon Bima. Cowok itu kesal karena Bima dengan lancang membawa motornya Pulang. Kalau seperti ini Gerhana Pulang naik apa ? ia menoleh ke kanan dan mendapati Liona yang sepertinya menahan kesal
" Awas lo Bima anjing Belum Puas lo gue guyur air satu ember Awas aja lo nanti malem, gue guyur air satu sumur," gerutunya kesal
" Lain kali kunci motornya jangan Pernah dititipin ke temen segala. Tau sendiri kan Bima itu kayak gimana sifatnya," ucap Liona. " Kalau gini kita gimana Pulangnya Naik taksi,"
Gerhana menggeleng akan usulan Liona. Cowok itu mencondongkan tubuhnya melihat jalanan yang nampak sepi. Aspal Pun tengah diguyur air hujan dengan derasnya. Entahlah, bulan ini sering kali turun hujan
" Ayo Pulang jalan kaki," ajaknya
" Kalau sambil cerita nggak bakal lama Ayo. " Cowok itu menarik Pergelangan tangan Liona dengan Paksa. Gerhana menutupi kepala Liona dengan telapak tangannya. Sebenarnya Gerhana itu sangat suka dengan Hujan
Cowok itu melepas jaket Levis-nya yang terpasang di luar seragamnya. Kemudian, ia menyampirkan Pada bahu Liona, sedikit membungkukkan tubuhnya, lalu mengumpulkan rambut Liona yang tergerai bebas. ia melepas gelang hitamnya untuk menguncir rambut Liona. Cewek itu sempat terpana dengan wajah yang terlalu dekat dengan wajahnya. Tak ada setitik Pun wajah Gerhana nyaris sempurna.
" Na," Panggil Gerhana membuat Liona membuyarkan lamunannya
" Kenapa ?"
" Dingin nggak ?" tanyanya
Liona refleks mengusap lengannya yang terasa dingin saat angin berembus dengan kencang
" Sedikit," ucap Liona
Mendengar jawaban yang terlontar bibir Liona. Gerhana mengeluarkan almamaternya dari dalam tasnya. Kemudian ia menyampirkan almamaternya Pada tubuh Liona yang terbalut seragam serta jaketnya
Liona mendongak. " Kamu nggak dingin ini almamater kamu kalau basah gimana,"
" Nggak apa-apa, aku Peluk kamu aja udah hangat. Soal almamater yang basah jangan dipikirin. Kamu dan almamater ini jauh lebih Penting kamu," Gerhana mengusap lembut Pipi Liona. ia menyugar rambutnya yang basah kemudian menggosok-gosok tangannya. Saat merasakan tangannya sudah hangat, cowok itu menggenggam erat telapak kanan Liona," Ayo,"
Kemudian langkah kaki keduanya berjalan membelah jalanan yang dibahasi rintik hujan. Dingin yang Gerhana rasakan saat ini, tergantikan dengan kehangatan saat melihat senyum Liona yang mengembang Cowok itu menarik Pinggang Liona untuk merapat ke arahnya
" Gini biar aku juga rasain hangatnya dekat kamu,"
...•••••...