
Mendengar kalimat yang terlontar dari bibir Bima, Gerhana menegakkan tubuhnya kembali. " Maksud lo apa, Bima ? Siapa yang hapus ?"
" Siapa yang tau, Gerhana Jangankan itu kita tau Pelaku yang jebak lo aja nggak. Kalau gini bakal susah cari jalannya. Kecuali mulut Pelaku yang ungkap semuanya," ujar Kenzie
" Satu-satunya bartender yang Pake masker kemarin. Entah dia orang suruhan atau entah minumnya ditukar sama seseorang," ujar Kris
" Nggak mungkin ditukar, Kris," sahut Kenzie
Gerhana mengusap wajahnya dengan gusar. " Gue nggak bisa jamin kalau kayak gini hubungan gue sama Liona bakal tetap bertahan," ucapnya. keempat cowok itu menoleh kaget. Mereka sangat tahu apa yang dirasakan Gerhana
Bima menepuk-nepuk Punggung Gerhana. " Nanti istirahat ikut ke gudang."
" Mau ngapain ?" tanya Gerhana.
" istirahat nanti kita Paksa Naura masuk ke gudang. Cuma Naura yang bisa beberin semuanya," ujar Bima
" Tumben banget otak lo encer, tumben juga lo santai ngomongnya Biasanya belum Puas kalau belum bikin sekelas kaget sama suara Petir lo," ledek Dion diiringi kekehan kecilnya
Bima berdecak malas. " Gue teriak salah. nggak teriak juga salah. Gue kalau jadi orang pendiem nanti kalian kaget,"
" Bukan cuma gue doang, Alam Pun gue yakin bakal kaget kalau lo jadi orang Pendiem," ucap Kris
Di sisi lain, segerombol cewek-cewek dengan terang-terangan menggosipkan Naura. Mereka semua begitu fokus membicarakan kejelekan Naura dengan blak-blakan.
kedatangan Liona membuat suasana kelas yang tadinya berisik, mendadak hening. Mereka menatap Liona dengan Kasihan, Lalu, suara gelak tawa memenuhi kelas. sorakan terdengar sangat berisik.
" Kalian Kenapa, sih ?" tanya Liona bingung. Namun tak ada satu Pun yang menjawab. Liona menoleh saat merasakan bahunya sedikit tersenggol Naura, cewek itu berjalan dengan kepala menunduk.
" Heh, lampir ! Lo itu seharusnya nggak masuk sini. Tempat lo tuh kelas seberang, alias kelas Celine monyet sama dua jajarannya tuh !" sarkas Mona meledek. Sindiran Pedas dari bibir Mona, mampu menghentikan langkah Naura. Cewek itu mendongak mencari Pemilik suara
" Nama kelas 12 IPS 2 udah jelek, ditambah lagi ada lo di sini, Naura. Lo kenapa harus jadi murid sini, sih !" sahut Dion. Meskipun seorang cowok, tapi ia tidak bisa dipungkiri seberapa besar ia ikut kesal dengan Naura
" M-maaf," ucap Naura menundukkan kepalanya, kemudian berjalan mendudukkan dirinya di kursi. ia tak memedulikan beberapa mata siswa-siswi yang menatapnya Penuh kebencian.
" Awalnya gue biasa aja lo masuk sini, karena tampang lo kalem eh Taunya lo di sini cuma mau rusak reputasi kelas 12 IPS 2 dan SMA Garuda," ujar Bima sedikit kesal.
" Gue kira lo itu bener-bener temen buat gue sama Liona, taunya ....." Mona menatap Naura, " Nusuk dari belakang,"
Liona menatap Naura malas. Sebelum duduk, Liona berdiri di samping meja Gerhana. Gerhana yang mula-mula sedang menelungkupkan wajahnya di antara lipatan tangannya. mendongak saat merasakan sepatu yang menyenggol ujung sepatunya.
" Liona ? Ada apa ?" tanya Gerhana. Liona menyodorkan satu kotak bekal kepada Gerhana, membuat dahi cowok itu mengernyitkan bingung selanjutnya, tersenyum tipis sembari menerima Pemberian Liona," Kamu Tumben-tumbenan ...... "
" Dari Naura," Potong Liona.
" Buat lo, Bim,"
" Dari siapa ?" tanya Bima. Gerhana menunjuk Naura dengan dagunya Bima bergidik. " Tadinya mau gue terima karena gue laper tapi nggak jadi takut dia naruh racun pelet dalam makanan ini. Buat lo, aja, Ken." Bima memberikan kotak itu kepada Kenzie
Kenzie mendongak, kemudian menatap Naura sekilas. " Thank nanti gue makan,"
Naura yang awalnya menunduk, lantas mendongak ia tersenyum tipis menatap Kenzie.
Liona menatap Naura cukup lama. Saat Naura menatapnya, Liona memutuskan Pandangannya dan hendak melangkah menuju mejanya sebelum Gerhana menarik tangannya, membuat Liona kembali diam di tempat.
" Nanti temui aku di gudang belakang sekolah, Aku mau jelasin semuanya di sana, " ujarnya. Liona terpaku untuk sesaat karena nada bicara Gerhana yang sangat rendah. " Na," Gerhana menyelipkan Poni Liona ke belakang telinga. " Jangan Pernah berubah ya. Tetap jadi Liona yang Gerhana kenal."
Liona memalingkan wajahnya. " Gue berubah itu karena sikap lo sendiri Gerhana,"
Gerhana mengangguk dan tersenyum tipis. " iya, Aku salah. Aku minta maaf,"
Suara siulan menggoda dari bibir Dion dan Kris membuat Liona segera melepaskan tangannya dari genggaman Gerhana.
" Udah mau kandas, masih aja romantis aja. Tau tempat kali, di sini banyak yang jomblo. Apalagi ada biang onar di sini, takutnya dia panas dan malah makin menjadi," ujar Dion menyindir Naura
Sebagian siswa kelas ini melotot tajam ke arah Dion, membuat Dion menutup bibirnya dengan telapak tangan. Mereka juga terhanyut ke dalam interaksi Gerhana dan Liona yang turut membuat hati mereka tercubit
" Gue boleh minta satu hal dari lo Gerhana," tanya Liona
" Apa ?"
Liona memejamkan matanya sejenak
" Jauhin gue dulu, bisa,"
Tidak ada Pilihan lain. Liona hanya ingin tenang untuk sejenak. ia tidak mau kepingan-kepingan menyakitkan itu kembali membuat hatinya berdesir ngilu.
Gerhana langsung tertegun dengan Permintaan Liona yang sangat sulit untuk ia setujui, " Kenapa, Na Aku tau kamu marah, aku tau kamu kecewa juga, kan ? Tapi Jangan Pernah suruh aku buat jauhin kamu. Aku nggak bakal bisa, Na," lirih Gerhana
" Gue harap jawaban iya yang keluar dari bibir lo," ucap Liona. tak memedulikan ucapan Gerhana. Liona hendak melangkah menuju kursinya tapi lagi-lagi tangan Gerhana menahan kuat Pergelangan tangan Liona.
" iya. Tapi aku minta sama kamu, temui aku di gudang belakang sekolah nanti. Kasih aku waktu buat ngomong bentar berdua sama kamu. setelah ini kalau kamu mau jauh dari aku silakan, Tapi tolong, jangan ada kata Putus di antara kita,"
Liona melepaskan genggaman tangan Gerhana, kemudian duduk di kursinya. ia sempat menoleh dan mendapati Mona yang menatapnya lama.