
" Gerhana, Na, Detak jantungnya melemah !"
Liona menggeleng kuat. Tangannya mengusap air mata, menoleh air matanya yang siap terjun kembali Buru-buru Liona menyambar tasnya dan berlari keluar dari dalam hutan, tak memedulikan kakinya yang tergores ranting-ranting.
...•••••...
Cewek dengan seragam Putih abu-abu itu baru saja menginjakkan kakinya di lantai rumah sakit. Air matanya turun Kian menderas. sedari tadi, jantungnya berdebar sangat kencang. hatinya Pun berdesir ngilu. Liona, takut jika Gerhana Pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.
" Kamu nggak boleh Pergi ninggalin aku Gerhana !" ucap Liona dengan kaki yang terus berjalan. Liona terisak Pilu, membuat beberapa Pasang mata menatap Liona dengan iba. Ketika ia hendak mendorong pintu inap Gerhana, tindakannya terhenti saat Bima datang dan menahan tubuh Liona melarangnya untuk memasuki ruang tersebut.
" Na, jangan masuk dulu. Gerhana masih ditangani dokter." cegah Bima
" B-Bima, Gerhana nggak apa-apa, kan ? Dia nggak ...... " Ucapan Liona terhenti saat Bima memeluk tubuh Liona dengan erat. Cowok itu mengusap-usap Punggung Liona untuk menenangkannya.
Bima melepaskan Pelukannya. Sejenak ia menatap wajah Liona yang memerah. ia tak tahan untuk mengusap air mata Liona. " Na, sorry Gue izin buat hapus air mata lo kali ini aja." Tangan Bima terangkat mengusap air mata Liona yang membasahi wajah cantiknya. " Jangan nangis, Gerhana bilang lo nggak boleh nangisin dia. Terus kenapa sekarang nangis ? Jangan nangis lagi, Gerhana baik-baik aja. Jangan takut ada gue sama Kenzie yang selalu ada buat lo," ujar Bima dengan senyum tipisnya
Decitan Pintu yang terdengar membuat Liona, Bima dan Kenzie menoleh dan segera mendekat ke arah dokter Haris yang baru saja keluar dari dalam ruangan.
" Gimana dengan keadaan teman saya, Dok ?" tanya Kenzie
Dokter Haris sempat mengembuskan napasnya Perlahan. " Bersyukur detak jantungnya Pasien Gerhana saat ini sudah normal Tapi ...." Dokter Haris menatap satu Persatu anak-anak remaja di depannya." Kondisinya saat ini semakin memburuk. Hal ini membuat Pasien harus memakai alat bantu Pernapasan. " jelasnya," Mungkin setelah Pasien sadar nanti, akan ada kejadian di luar dugaan kita semua. Saya tidak mau terburu-buru mengungkapkannya sekarang, saya akan memberitahukannya setelah kondisi Gerhana nanti,"
Bima menyugar rambutnya dengan frustasi. sedangkan Kenzie terduduk lemas. ia melepas dasi yang melingkar di kerah baju, lalu menyandarkan bahunya dan memejamkan matanya sejenak.
" Kenapa harus gini, Gerhana, " lirih Kenzie. " Kenapa harus lo ? Kenzie buru-buru mengambil Ponselnya dari dalam saku celana. ia menghubungi orangtua Gerhana dan memberi tahu kejadian ini.
Sedangkan Liona, ia seperti kehilangan semuanya. Tak ada sepatah kata yang keluar dari bibirnya saat mendengar Penjelasan Dokter Haris. Tanpa Permisi, langkah kakinya memasuki ruang rawat inap. Matanya memanas saat melihat alat-alat medis yang terpasang di tubuh Gerhana. Tubuhnya hampir saja jatuh jika ia tak bertumpu Pada Pembatas brankar.
" G-Gerhana," lirih Liona. Cewek itu terduduk lemas di atas kursi dekat Gerhana. ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya menumpahkan air matanya yang sudah tak bisa ia bendung lagi. Bahunya bergetar hebat.
Bima yang melihat Liona serapuh itu dibuat tak tega. ia mengusap sudut matanya yang mengeluarkan sedikit air mata.
" Bangun, Gerhana, Lo tega cewek yang lo sayang kayak gini ?" gumam Bima
Liona terisak dengan kencang. ia tak kuasa menahan tangisnya. " Bangun Gerhana, Kamu nggak boleh Pergi ninggalin aku sendirian di sini," Liona menggenggam kuat telapak tangan Gerhana yang sedikit dingin." Kamu udah janji cuma Pergi sebentar, kan ? Kenapa selama ini kamu ninggalin aku ? Aku butuh kamu. Tolong, buka mata kamu, " isaknya. " Kalau kamu Pergi, yang jagain aku siapa ? Yang buat aku ketawa lagi siapa ? Kamu janjinya nggak bakal lama Perginya, tapi kenapa ini lama banget buat aku Gerhana ?" Liona mendongak, menahan rasa sesak di hatinya. Cewek itu kembali menatap Gerhana dengan mata yang memerah. Tangannya begitu lembut mengusap dahi Gerhana." Kalau kamu Pergi, aku ikut ya,"
" Gerhana nggak bakal Pergi ninggalin kita semua. Dia Pasti bangun entah itu kapan waktunya. Tugas kita cuma nunggu Gerhana bangun dari komanya," ujar Kenzie yang baru saja memasuki ruangan.
Liona menoleh, tapi ia tak menjawab ucapan Kenzie. Cewek itu kembali terfokus Kepada Gerhana yang masih begitu tenang memejamkan matanya. Liona mengangkat tangan Gerhana dan menempelkannya Pada Pipinya
" Kenapa harus kamu ? Kenapa kamu tarik aku waktu itu Gerhana Seharusnya biarin aku aja yang ada di Posisi kamu sekarang," ucap Liona." Maafin aku Gerhana," lirihnya.
Setelah itu, Liona terdiam cukup lama. sembari menatap wajah Gerhana dengan tatapan sendu, jemari lentiknya mengusap-usap lembut Punggung tangan Gerhana.
" Bangun, Gerhana. Aku udah Percaya sama kamu Bangun ya. Aku kangen kamu."
Pintu ruangan yang mula-mula tertutup rapat, tiba-tiba terbuka lebar menampilkan beberapa cewek yang berdiri di sana. Bima dan Kenzie menoleh, tak heran lagi mereka datang. Begitu mendengar kabar buruk menimpa Gerhana tadi. Bima langsung memberi tahu anak-anak sekolah melalui grup resmi SMA Garuda.
Mona, Farah, Naura dan Celine berdiri di ambang Pintu.
Naura menoleh menatap Kenzie.
" K-Kenzie gimana keadaan Gerhana,"
Kenzie menunjuk Gerhana yang terbaring di atas brankar dengan dagunya. Semua arah Pandang empat Pasang mata itu mengikuti arah yang ditunjukkan Kenzie. Mona refleks menutup mulutnya saat melihat keadaan Gerhana yang sepertinya jauh dari kata baik-baik saja.
" Gerhana koma. Udah beberapa hari dia nggak bangun. Dan tadi ..... " Bima melirik refleks Celine sekilas. " Detak jantungnya sempat melemah," Bima memalingkan wajahnya saat ia tak sengaja menatap wajah Celine.
Liona berdiri dari duduknya saat menyadari sahabat dan teman seangkatannya itu mendekatinya
" Mau ngapain lo ke sini ?"
Mona terkejut mendengar Pertanyaan yang keluar dari bibir Liona. Naura, Farah dan Celine Pun dengan kompak menghentikan langkahnya.
" Liona Lo ..... " Ucapan Mona terpotong saat Liona menyela ucapannya
" Bukan lo, Tapi dia," Liona menunjuk Celine dengan tatapan Penuh kebencian. " Sekali lagi gue tanya, lo ngapain ke sini ?" tanya Liona dengan ketusnya Kepada Celine. Celine meneguk ludahnya dengan kelu. Mulutnya seolah terkunci rapat sehingga tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. " Lo Puas, kan, liat Gerhana kayak gini," Liona terkekeh Pelan. ia menepuk Pundak Celine sebanyak dua kali. " Selamat lo udah menang. Lo udah berhasil rusak hubungan gue dan berhasil buat Gerhana celaka. ini, kan, yang lo mau Kibarkan bendera kemenangan di depan gue," ucapnya. " Gue kalah. Gue kalah sama Permainan licik lo itu," Liona menatap Celine dengan mata memerah. ia ingin marah, ia ingin meledakkan semuanya di sini. Namun entah kenapa ia tidak bisa melakukan itu semua.
" L- Liona, nggak gitu. Gue. ... "
" Apa ? Lo mau bilang kalau lo berhasil rusak semuanya ? Lo berhasil
Celine. Berhasil buat gue sehancur ini, ini, kan tujuan awal lo Buat gue sama Gerhana Pisah dan buat gue semenderita ini ?" ujar Liona dengan suara bergetar memotong ucapan Celine
Mona dan Farah melangkah, mengusap-usap banu Liona untuk menenangkan cewek itu. " Liona udah. Bukan tempatnya dan bukan waktunya lo marah-marah, " bisik Mona yang tak dihiraukan sama sekali oleh Liona
Celine menatap Gerhana sekilas, kemudian menatap Liona kembali.
" G-gue minta maaf ini kesalahan gue, andaikan waktu itu gue nggak berbuat hal kayak gitu, mungkin Gerhana nggak bakal kayak gini."
Liona langsung menoleh dan terkekeh Pelan." Bagus, Bagus kalau lo udah sadar akan kesalahan yang lo Perbuat. Tapi maaf Celine. Kata maaf lo itu nggak bisa mengembalikan semuanya. Nggak bisa mengembalikan sesuatu yang udah hancur. " ucap Liona dengan kelu," Terutama hati gue,"
Celine menatap Liona dengan tatapan berkaca-kaca. ia sadar ini kesalahannya. Tapi, ia tidak Pantas mendapatkan kata maaf ?
" Apa segitu jahatnya gue, Na ? Sampe lo nggak mau maafin gue,"
" iya," jawab Liona jelas. " Jangankan gue, Satu dunia Pun gue yakin nggak bakal maafin lo, Celine. Secantik apapun lo, Kalau sifat lo sangat jauh dari definisi wajah lo, lo nggak bakal ada artinya di mata seluruh dunia," Kata Liona dengan ketus. ia menatap pintu ruangan yang tertutup. " Sekarang mau apa lagi lebih baik lo itu keluar dari sini. Gue nggak butuh lo ada di sini Gerhana nggak butuh kata maaf dan belas kasih lo sedikitpun," usirnya
Celine memegang Pergelangan tangan Liona, tapi dengan cepat Liona menepisnya kasar. " Liona, kasih gue kesempatan buat minta maaf sama lo,"
" Gue nggak butuh kata maaf lo. Apa lo nggak denger kata-kata gue tadi, Gue Perjelas lagi kalau lo nggak Paham. Gue nggak butuh kata maaf sekarang lo keluar dari sini, " Merasa tau ada Pergerakan sama sekali dari Celine. Liona mendorong Pelan bahu Celine," Keluar, Celine,"
Kenzie menghampiri Celine. " Biarin Liona tenang dulu,"
Celine mengusap air matanya yang menetes. ia menatap Kenzie Penuh harap. " Ken. sampaikan kata maaf gue Kalau Gerhana udah bangun," Kenzie mengangguk mengiyakan ucapan Celine. Setelah memastikan Celine keluar dari ruangan. Kenzie kembali menutup Pintu UGD dengan rapat. ia menoleh dan mendapati Liona yang masih ditenangkan oleh Mona, Naura dan Farah
" Gerhana hampir aja ninggalin gue di sini. Gue takut. " Liona mengambil Pasokan udara saat merasakan dadanya begitu sesak. " Gue takut Gerhana ninggalin gue,"
" Buang Pikiran buruk lo, Na, Gerhana nggak kenapa-kenapa. Dia cuma Pergi sebentar dan bakal kembali lagi. kembali di sini, buat lo," ujar Mona menenangkan Liona
Liona mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Sisa isakannya masih terdengar jelas. Siapa yang tidak berpikir negatif jika di Posisi Liona ? Apalagi lagi mendengar kabar detak jantung Gerhana sempat melemah. Siapa Pun mengira jika Gerhana akan Pergi meninggalkan semua orang di sini.
" S-sakit ..... "
Liona, Mona, Naura, Farah, Bima dan Kenzie menoleh dengan refleks saat telinganya mendengar suara rintihan. Liona terkejut saat melihat bibir dan jari tangan Gerhana sedikit bergerak. Liona menitihkan air matanya. Cewek itu menutup mulutnya tak Percaya.
" Gerhana," ucap Liona dengan Pelan
" Gerhana sadar ?" tanya Mona
Bima dan Kenzie mengusap wajahnya dengan lega. Dua cowok itu sempat menitikkan air matanya tak Percaya. sedangkan Liona cewek itu menangis dengan diam. Mengutarakan antara senang dan haru yang menjadi satu.
" Biarin Gerhana buka matanya sepenuhnya dulu," ucap Kenzie mencegah langkah Liona yang hendak mendekati brankar Gerhana.
" Biar gue sama Naura yang Panggil dokternya," ucap Farah. kemudian ia melangkah bersama Naura keluar dari dalam ruangan UGD.
Liona terus menatap Gerhana. Cowok itu terus memegangi kepalanya yang terasa amat sakit. Matanya sangat berat untuk sekedar terbuka Dengan Perlahan. kelopak mata cowok itu mengerjap beberapa kali hingga akhirnya ia berhasil membuka mata sepenuhnya membuat semuanya tersenyum lega.
Gerhana menatap langit-langit ruangan dengan Pandangan yang tak bisa diartikan. Hal itu membuat langkah Liona segera mendekati Gerhana. Cewek itu menyentuh Punggung tangan Gerhana.
" Gerhana, kamu beneran udah bangun Aku nggak lagi mimpi, kan ?"
Bima, Kenzie dan Mona mendekati brankar Gerhana. Bima tersenyum melihat Gerhana yang sudah sepenuhnya bangun dari masa koma.
" Lo tau, Gerhana ? Liona beberapa hari ini nangisin lo. Kenapa lo lama banget ninggalin gue sama Kenzie di sini Sekolah kita hampa tanpa lo Cepet sehat, biar kita bisa kumpul lagi n semua orang kangen sama lo, Terutama orangtua lo Gerhana,"
Gerhana menoleh dengan Perlahan, bibirnya meringis menahan rasa sakit di sekujur kepala dan tubuhnya. ia menatap Bima, Kenzie, Mona, dan Liona secara bergantian. Cowok itu menyingkirkan tangan Liona yang menggenggam tangannya, membuat Liona terkejut dengan sikap Gerhana yang sangat berbeda.
Senyum yang mula-mula terbit di bibir Bima luntur begitu saja melihat Penolakan yang Gerhana lakukan. Melihat Gerhana yang sepertinya kesusahan bangun dari tidurnya, lantas Kenzie membantu sahabatnya itu duduk. Namun, satu hal yang Paling mengejutkan. Gerhana mendorong tubuh Kenzie dengan Pelan.
" Kalian semua siapa,"
...•••••...