
saya tinggal dulu. Semoga anak-anak . !"
Buwana !" Panggil Bu intan sekali lagi.
Bima menoleh. " Halu Pasti,nih anak Kodok," gumamnya. Bima berdeham ia mendekatkan bibirnya di samping telinga Gerhana. " GERHANA RIGEL BUWANA,"
Gerhana gelagapan, lantas berdiri dari duduknya. " I' M HERE MOTHER !"
Suara gelak tawa menggelegar di dalam kelas karena tingkah konyol Gerhana tadi. Gerhana yang tidak tahu letak leluconnya di mana. lantas menatap Bima dengan tajam.
Bu intan melipat kertas absensinya lalu mengambil lembar soal ujian untuk dibagikan. kertas terakhir mendarat di atas meja Gerhana. Mata cowok itu menyipit membaca tulisan kecil di lembar soal ujiannya
" Matematika, " ejanya, " Soalnya sangat membagongkan, " decak Gerhana, " Oh Tuhan sepertinya otakku hilang," ucap Gerhana seraya menatap angka-angka lembar soal ujiannya.
" Silahkan dikerjakan waktu sembilan Puluh menit buat kalian dan Jangan saling menyontek ibu tinggal dulu sebentar," Kata Bu intan kemudian menaruh sisa lembar ulangan dan melenggang Pergi Melihat itu, lantas mereka bersorak gembira. sebagian dari mereka berhamburan mencari sontekan begitu juga dengan Gerhana
" OH YA AMPUN ANGKA-ANGKA INI SEPERTI DOSA SAYA YANG TAK TERHINGGA !" jerit Bima memegangi kepalanya.
Gerhana menepuk bahu Dion, " Dion nomor satu sampe lima apa, "
" Nomor satu B, nomor dua sampe lima C semua."
Gerhana menatap Dion dengan tatapan memicing. " Lo kalau sampe bohong gue gorok, ya, Dion !"
" Bener, tapi kalau salah jangan salahin gue. Gue ngisinya Juga Pake feeling, bukan Pake rumus,"
" Sip. Nggak apa-apa. Yang Penting keisi semua. Urusan nilai belakangan yang Penting lulus, " ucap Gerhana bangga. ia menatap seisi kelasnya hingga tertuju Pada Liona yang sangat fokus mengerjakan Ujianya. Langkah kakinya menghampiri cewek itu m Gerhana berdeham ia menepuk bahu Liona, " Lo ngapain, Na ?"
Liona menoleh dan menatap Gerhana dengan aneh. " Lo Pikir gue ini lagi ngapain ? To the Point aja deh lo mau nyontek, kan ?" tebaknya.
Gerhana menjentikkan jarinya. " Nah itu Lo tau ! Cowok itu menarik kursi kosong dan duduk di samping Gerhana. ia menarik tangan Liona saat cewek itu mencoret jawaban.
Gerhana menggeleng. " Nggak mau !"
" Terserah lo !" Liona kembali memfokuskan dirinya tanpa memerdulikan Gerhana
Gerhana menaikkan kakinya sebelah dan menyampingkan tubuhnya menghadap Liona. " Na, gue mau nanya,"
"Apa lagi ? Asalkan jangan nanya jawaban ulangan, "
Gerhana langsung terkekeh kecil. tangannya bergerak mengacak-acak rambut Liona. " Nggak. Gue cuma nanya Kapan kita ..... " Liona menunggu ucapan Gerhana berikutnya. " Kapan kita selesai ulangan, Na ? Otak gue kayaknya nggak bisa buat mikir kalau di dekat lo,"
Liona langsung memutar bola matanya dengan malas. tiada hari telinganya tanpa mendengar gombalan Gerhana. " Kerjain !" Nggak bakal selesai kalau soalnya cuma diliatin doang, " ucap Liona
" Gue udah coba kerjain Na tetep Tapi nggak bisa,"
" Kerjain Pake otak ! Jangan Pake motivasi,"
" Otak gue udah Penuh gara-gara mikirin lo,"
" Terserah lo deh !" ucap Liona sangat kesal," Makanya belajar biar bisa Nggak nyontek sana-sini, "
" Waktu gue sangat berharga untuk belajar, " ucap Gerhana.
" Kalau gitu jangan berharap lo berhasil gapai masa depan yang sangat cerah sedangkan lo males-malesan gini," Liona tanpa mengalihkan Pandangannya
" Kan masa depan gue itu lo, Na !"
...•••••...