KISAH UNTUK GERHANA

KISAH UNTUK GERHANA
Bab 40 tak bisa menjauh


spesial yang belum Pernah kita datengin," ujarnya


Liona menahan senyumnya. Apakah akan Gerhana tengah mengajaknya kencan ? Sudah cukup Udin, Katanya di sana ada menu baru, nasi goreng rempah sama sate Padang."


Senyum yang hampir tenggelam terbit di bibirnya, Perlahan mulai memudar. Warkop ? Liona tak habis Pikir dengan jalan Pikiran Gerhana. Apakah sebuah Warkop bisa dijadikan tempat kencan romantis ? Bukannya di sana banyak bapak-bapak yang suka nongkrong ?


Kalua cuma buat makan sate Padang sama Pecel, di samping Pos ronda ayah Pun ada ! batin Liona kesal. ingin rasanya ia mengatakan itu semua. Namun, ia sadar dengan siapa ia berbicara. Putra mahkota yang tidak mau memperlihatkan kekayaannya


" Ya udah, kamu Pulang, gih, Orangtua kamu Pasti Udah nungguin Habis ini langsung mandi dan tidur. Jangan kelayapan ke mana-mana inget besok sekolah !" ujar Liona Perhatian.


Gerhana tersenyum. ia menepuk-nepuk Pucuk Kepala kekasihnya.


" iya aku Pulang dulu."


Liona mengangguk. ia melambaikan tangannya saat Gerhana melajukan motornya keluar dari Pekarangan rumahnya. Cewek itu tersenyum bila mengingat momen di gubuk itu. Hal sederhana yang dibuat cowok itu sangat berkesan baginya. Hal-hal kecil selalu membuat hatinya berhasil menjerit tertahan. ia Pun melangkah memasuki rumahnya. Sebelum itu, dehaman dari ayahnya terdengar membuat Punggung tangan ayahnya.


" Ayah ? Cewek itu menyalami Punggung tangan ayahnya


" Kamu dari mana aja, Liona Magrib-magrib gini baru Pulang Nggak seharusnya anak sekolah Pulang semalam ini," ucap Ayahnya


" T-tadi Liona neduh dulu sama Gerhana. Ayah tau sendiri kan tadi hujan dera banget. " ucap Liona


Ayahnya terdiam sejenak. ia menatap Putrinya dengan serius. Liona yang ditatap seperti itu tiba-tiba menjadi kikuk.


" Kamu bisa jauhin Gerhana ?" tanya ayahnya yang tentunya membuatnya terkejut.


" A-Ayah apa-apaan sih ? Kenapa Liona harus Jauhin Gerhana ? Gerhana ada salah sama ayah ? Atau Liona salah dengan ......"


" Banyak omongan jelek tentang kamu, Nak, Banyak tetangga bilang kalau kamu Pacaran sama anak direktur besar untuk kamu manfaatin." Potong Ayahnya. sebelum Liona menyelesaikan Perkataannya. " Kamu ingat Gerhana itu siapa dan kita itu siapa ? lanjutnya


" Yah, apa orang kayak Gerhana nggak boleh bersanding sama Liona ? Liona tulus, Yah Liona nggak manfaatin Gerhana.. Biarin mereka berasumsi jelek tentang Liona, biarin mereka nilai Liona sesuai yang mereka Pikirkan. Tapi, anak ayah ini nggak seburuk sama apa yang mereka Pikirkan." ujar Liona. Cewek itu mengusap matanya yang memerah. Langkah kaki Liona berjalan melewati ayahnya begitu saja. Memasuki kamarnya tanpa memerduilkan Panggilan dari ayahnya.


ia duduk di tepi ranjang kasurnya. Menjauhi Gerhana adalah hal tersulit baginya.


" Kamu ingat Gerhana siapa dan kita itu siapa,"


Perkataan ayahnya terngiang-ngiang di telinganya. Sebuah Fakta akan keadaan mampu menampar hatinya. ia menatap luar jendela matanya tertuju Pada Pot bunga yang bergelantung di luar jendela.


...G & L...


tulisan tersebut masih terlihat sangat jelas. Bagaimana ia bisa melepaskan Gerhana sedangkan cowok itu mampu membuatnya sangat bahagia ?


Cewek itu mengambil Ponselnya dari dalam tasnya. Mengetikkan sesuatu Pada room-chatnya dengan Gerhana



Liona menatap Pesannya yang hanya terkirim saja, tidak ada tanda-tanda cowok itu membacanya. Mungkin Gerhana belum sampai rumah.



Usai mengirimkan satu Pesan itu, Liona mematikan Ponselnya lalu mendudukkan dirinya di kursi. ia mengambil buku diary yang tergeletak di samping buku-buku sekolahnya, menuliskan beberapa kata di sana.



...•••••...